Kesehatan: Pasangan Anda tidur 'ngorok'? Hati-hati dampaknya bagi Anda - BBC News Indonesia

September 2026 · 4 minute read

Seorang perempuan berambut gelap berbaring di tempat tidur dengan kepala di atas bantal putih dan tubuhnya tertutup selimut putih. Matanya terpejam dan ia berbaring menyamping sambil menutupi salah satu sisi kepalanya dengan bantal putih lain seolah berusaha meredam suara.

Sumber gambar, Getty Images

Pernahkah Anda tidur di samping pasangan yang mendengkur lalu terbangun keesokan harinya dengan perasaan stres, sulit berkonsentrasi, atau pelupa?

Tidur mendengkur atau 'mengorok' relatif umum terjadi. Kondisi ini sering kali tidak ditangani dan dianggap sekadar gangguan yang tidak berbahaya.

Namun, menurut para ahli, tidur di samping seseorang yang mendengkur dapat memengaruhi kesehatan Anda.

Dengkuran terjadi akibat getaran jaringan lunak di saluran pernapasan bagian atas saat tidur, jelas Dr Clare Simon, seorang dokter gigi yang mendalami pengobatan tidur berbasis kedokteran gigi.

Sekitar 40% populasi orang dewasa di UK mendengkur. Masalah ini lebih banyak dialami laki-laki daripada perempuan, menurut British Snoring and Sleep Apnoea Association (BSSAA).

Adapun 75% orang yang punya pasangan yang mendengkur mengatakan kualitas tidur mereka terdampak, menurut survei di Amerika Serikat oleh Sleep Foundation.

Berikut yang perlu Anda ketahui tentang dampak mendengkur terhadap pasangan, serta apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Konsentrasi dan ingatan

Prof Ama Johal, seorang konsultan ortodontis dan pakar tidur di Aerox Health, menjelaskan bahwa pasangan dari seseorang yang mendengkur bisa "sangat terdampak sampai-sampai terpaksa bangun dan tidur di kamar terpisah".

Dia menambahkan: "Sebagai manusia, secara fisik kita tidak dapat berfungsi tanpa tidur."

Profesor Ama Johal, seorang pria dengan rambut pendek berwarna gelap dan abu-abu, tersenyum ke arah kamera. Ia mengenakan kaus polo berkerah warna biru tua dan latar belakangnya tampak buram.

Sumber gambar, Professor Ama Johal

Keterangan gambar, Profesor Ama Johal mengatakan banyak pasangan terlalu lama menoleransi dampak negatif dengkuran.

Pada malam hari, kita melewati berbagai tahap tidur dalam pola yang berulang, biasanya setiap 90 menit.

Tahap tidur yang lebih dalam dalam siklus ini penting untuk pemulihan fisik.

Jika tidur sering terganggu, Anda hanya punya sedikit waktu pada tahap pemulihan tersebut sehingga terbangun dalam keadaan lelah meskipun telah lama berada di tempat tidur, jelas BSSAA.

Otak memproses dan menyimpan informasi dari aktivitas sehari-hari saat kita tidur.

Fase tidur yang terpecah-pecah—akibat terbangun gara-gara pasangan yang mendengkur—dapat mengganggu proses ini sehingga memengaruhi konsentrasi dan ingatan.

Gangguan tidur juga dapat memengaruhi regulasi hormon, yang pada akhirnya berdampak pada tingkat energi dan motivasi Anda.

A graphic depicting a circle showing the stages of sleep. The text reads: 
1) Falling asleep lasts 1to 7 minutes. You can be easily woken at this point.
2) Light sleep lasts 10 to 25 minutes. Your muscles are relaxed, breathing and heart rate slow.
3) Deep sleep lasts 20 to 40 minutes. This stage is critical for body recovery & boosting your immune system.
4) Rapid eye movement (REM) lasts 10 to 60 minutes. This when brain activity is increased. You dream in this stage. This stage is important to sort out the events of your day in your memory. This is important for learning and creativity.

Tidur juga berperan dalam mengatur sistem otak yang terlibat dalam respons terhadap stres dan emosi.

Ketika tidur terganggu, sistem tersebut dapat menjadi kurang seimbang, yang dapat membuat Anda lebih mudah tersinggung dan kurang mampu menghadapi stres.

Hal inilah yang dialami Meg Warren, 29 tahun, ketika dengkuran mantan pasangannya kerap membuatnya tetap terjaga.

Ia berkata: "Setiap kali terbangun karena dengkuran, saya selalu merasa sangat terjaga"

Baca juga:

Meg, seorang petugas media di organisasi amal, kerap menyenggol pasangannya sepanjang malam dan berusaha membujuknya agar beralih dari posisi telentang ke posisi menyamping.

Dia mengatakan sering terbangun dengan perasaan "linglung dan pusing, bahkan terkadang sampai terasa seperti mabuk".

Dengkuran itu menguji hubungan mereka.

Meg menjelaskan: "Saya selalu bilang kalau kami tinggal bersama, kami harus punya kamar cadangan untuk malam-malam ketika dengkurannya benar-benar tak tertahankan."

Simon mengatakan tidur yang terputus-putus akibat dengkuran pasangan dapat menyebabkan mudah marah, pertengkaran, dan, jika akhirnya memutuskan untuk tidur di kamar terpisah, berkurangnya keintiman.

Meg Warren, seorang perempuan muda berambut pirang, berdiri di depan semak-semak sambil tersenyum. Ia mengenakan gaun motif macan tutul.

Sumber gambar, Meg Warren

Keterangan gambar, Meg Warren merasa "linglung dan pusing" setelah semalaman kurang tidur akibat dengkuran mantan pasangannya.

Anna-Louise Dearden, seorang jurnalis berusia 52 tahun, mengatakan bahwa dirinya terkadang tidur di kamar terpisah dari pasangannya akibat dengkuran.

Memiliki pilihan tersebut memungkinkannya memprioritaskan istirahat yang cukup ketika dengkuran pasangannya sedang sangat parah.

Anna-Louise Dearden duduk di kursi bar. Ia mengenakan gaun hijau limau dan tersenyum ke arah kamera.

Sumber gambar, Anna-Louise Dearden

Keterangan gambar, Anna-Louise Dearden mengatakan dengkuran pasangannya terkadang membuatnya tidur di kamar lain.

Anna-Louise berkata: "Kalau saya bangun setelah tidur yang buruk, saya akan makan lebih banyak dan merasa lebih mudah tersinggung."

Dulu ia sering terbangun pada malam hari karena dengkuran tersebut. Namun, belakangan dia memakai penyumbat telinga sehingga bisa tetap tidur meski sebagian besar suara dengkuran masih terdengar saat ia tidur dengan pasangannya.

Kapan saatnya mencari bantuan?

Ada berbagai hal yang bisa dilakukan, kata Simon dan Johal.

Namun pertama-tama, penting untuk membedakan apakah pasangan Anda hanya mendengkur atau mengalami sleep apnoea.

"Yang tidak boleh dilakukan adalah sekadar membuat seseorang lebih tenang saat tidur malam sambil berisiko mengabaikan gangguan pernapasan terkait tidur yang mendasarinya," kata Simon.

Tanda-tanda sleep apnoea, yaitu gangguan yang menyebabkan pernapasan seseorang berulang kali berhenti dan mulai kembali saat tidur, meliputi jeda dalam pernapasan, tersedak pada malam hari, sering terbangun, dan mengalami sakit kepala pada pagi hari.

Jika inilah yang terjadi, Anda mungkin disarankan menggunakan mesin Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), atau bahkan menjalani tindakan pembedahan dalam beberapa kasus, jelas Simon.

Untuk dengkuran biasa, Simon mengatakan perubahan gaya hidup dapat membantu, seperti menurunkan berat badan, berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol sebelum tidur, atau mengubah posisi tidur, misalnya tidur menyamping daripada telentang.

Anda juga dapat menyarankan pasangan Anda untuk menemui dokter umum, yang dapat memberikan saran lebih lanjut atau merujuk ke dokter spesialis.

Seorang ahli mungkin menyarankan penanganan sumbatan hidung atau alergi jika itu penyebab dengkuran, atau menggunakan pelindung mulut khusus yang mendorong rahang bawah sedikit ke depan agar saluran napas tetap terbuka.

Johal mengatakan terlalu banyak pasangan yang menoleransi dengkuran "terlalu lama", sehingga berdampak terhadap hubungan dan kesejahteraan mereka.

"Yang terpenting adalah bantuan itu tersedia, tinggal bagaimana mengaksesnya."