Denpasar (ANTARA) - Pakar dermatologi dr. Ida Ayu Uttari Priyadarshini, Sp.DVE, menyampaikan bahwa tren menggunakan produk perawatan kecantikan di era modern wajib diimbangi dengan aktivitas kebugaran atau wellness.
“Dari sisi dermatologi di era sekarang medis tidak hanya bisa berdiri sendiri, tapi harus dibarengi juga dengan wellness, seperti saat ini ada ruang untuk mengembangkan dunia kecantikan dan kebugaran di satu tempat sehingga masyarakat lebih paham keduanya penting,” kata dia di Denpasar, Sabtu.
Hal ini disampaikannya di sela "Road to Beautiverse 2026", sebuah pameran produk kecantikan yang digelar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur, dimana rangkaiannya diisi aktivitas kebugaran seperti yoga dan meditasi yang bisa diikuti masyarakat.
Lebih lanjut, dokter Tary menjelaskan bahwa kombinasi antara perawatan luar dan kesehatan fisik serta mental sangat esensial agar pemahaman masyarakat terhadap konsep kecantikan menjadi jauh lebih utuh.
Baca juga: Wamenekraf mendorong wellnes jadi peluang baru pertumbuhan ekonomi
"Jadi cantik itu memang tidak bisa berdiri sendiri, memang produk atau faktor eksternal itu penting seperti produk kecantikan dan perawatan, tapi internal juga penting yaitu bagaimana kita mengolah stres dan mengolah rasa di dalam," ujarnya.
Untuk aktivitas kebugaran sebagai bagian dari faktor internal, ia melihat berbagai kegiatan sudah menjadi tren di Bali hari ini seperti pilates dan yoga serta olahraga relaksasi lainnya.
Sementara untuk faktor eksternal yaitu produk kecantikan, ia menyarankan masyarakat semakin aktif mencari informasi keamanan produk, terutama aspek keamanan berbasis ilmiah serta memastikan produk sudah terdaftar resmi di BPOM.
Baca juga: Kemenpar jadikan Jakarta dan Bali percontohan wisata kebugaran
Terkait tips penyeimbang, pakar dermatologi itu menyarankan agar publik memprioritaskan kebutuhan primer tubuh sebelum beralih ke perawatan sekunder di klinik kecantikan.
"Disarankan untuk prioritaskan yang primer dulu yaitu dari segi nutrisi, pemulihan dengan tidur yang cukup, dan juga termasuk olahraga, baru lah sekundernya seperti produk kecantikan," tuturnya.
Dengan melihat kondisi cuaca dan mobilitas di Pulau Dewata, ia hanya menekankan bahwa rutinitas harian yang utama untuk produk kecantikan cukup penggunaan pelembap dan tabir surya.
Rangkaian edukasi kesehatan kulit dan aktivitas kebugaran ini dihadirkan dalam acara "Road to Beautiverse 2026" yang dihelat menjelang pameran utama di The Meru KEK Kesehatan Sanur pada Desember mendatang.
Baca juga: BPOM: Produk "wellness" harus teruji, bukan sekadar ikut tren

Baca juga: BRI Wellness Experience hadirkan ragam aktivitas kebugaran
Founder & Project Director Beautiverse Paulus Herry Arianto menambahkan bahwa kegiatan hari ini diisi dengan sesi meditasi sound bath healing serta latihan yoga bersama praktisi internasional Julia Barton.
"Beautiverse kan terdiri dari tiga pilar yaitu beauty, wellness, dan sustainability, dan ini adalah kegiatan yang banyak menyoroti sisi wellness," ucap Paulus Herry Arianto.
Melihat pentingnya pemahaman mengenai kecantikan dan kebugaran, didorong banyaknya komunitas yang membutuhkan wadah untuk terkoneksi, pada kesempatan ini ia turut meluncurkan sistem aplikasi Beautiverse.
“Melalui aplikasi ini kami ingin koneksi yang sudah terbentuk bisa terus berjalan bukan hanya saat ada pameran, jadi akan mempertemukan jenama, profesional, kreator, dan konsumen,” kata dia.
“Sementara untuk pamerannya tetap puncaknya berlangsung 18-20 Desember dengan menargetkan kehadiran 10.000 pengunjung serta melibatkan sekitar 150 jenama lokal maupun nasional di KEK Kesehatan Sanur,” sambung Paulus.
Baca juga: Wellness-Sport tourism berpotensi dikembangkan di Gunungkidul
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.