Pakar nilai APBN masih tangguh hadapi lonjakan harga minyak dunia

September 2026 · 2 minute read

Jakarta (ANTARA) - Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih tangguh menghadapi lonjakan harga minyak dunia.

“APBN masih tangguh untuk tahun ini (2026), defisit diperkirakan 2,85 persen PDB, di bawah batas 3 persen,” ujar Yayan ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Sabtu.

Akan tetapi, lanjut dia, ruang tersisa sampai batas defisit 3 persen berada di kisaran Rp39 triliun. Yayang menyampaikan, kenaikan harga minyak 10 dolar AS per barel saja akan memakan lebih dari separuhnya.

Berdasarkan data resmi, Yayan menyampaikan Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Januari berada di angka 64,41 dolar AS per barel, naik menjadi 68,79 dolar AS per barel pada Februari, selanjutnya menjadi 102,26 dolar AS per barel pada Maret, dan memuncak pada April dengan ICP sebesar 117,31 dolar AS per barel.

Tren penurunan terjadi pada Mei (106,56 dolar AS per barel), Juni (83,45 dolar AS per barel), Juli (81,68 dolar AS per barel); sebelum kembali meningkat pada Agustus menjadi 89,43 dolar AS per barel.

Yayan menaksir ICP pada September berada di rentang 100–104 dolar AS, berdasarkan harga Brent September dan selisih Brent-ICP dengan kisaran 1,9 dolar AS per barel.

“Oleh karena itu, rata-rata ICP Januari–September sekitar 90,6 dolar AS per barel, 29 persen di atas asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel,” kata Yayan.

Ia menghitung beban subsidi untuk pertalite, solar, dan LPG 3 kg sepanjang 2026 akan berada di kisaran Rp426 triliun. Yayan menyampaikan angka tersebut lahir dari harga keekonomian dikurangi harga jual dan dikalikan volume yang disalurkan.

Secara rinci, beban subsidi untuk pertalite sepanjang 2026 diperkirakan sebesar Rp122 triliun, komoditas solar sebesar Rp206 triliun, dan LPG sebesar Rp98 triliun.

Yayan menjelaskan, solar menempati posisi tertinggi sebab harga solar olahan di pasar Asia melonjak jauh lebih tinggi daripada minyak mentah. Akibatnya, subsidi untuk setiap liter solar diperkirakan naik ke sekitar Rp11.100–Rp12.600 pada Agustus-Desember, lebih dari dua kali angka yang direncanakan APBN, yakni sebesar Rp5.150 per liter.

“Yang sebaiknya dilakukan untuk jangka pendek adalah menyisihkan sebagian tambahan penerimaan dari harga komoditas sebagai cadangan menghadapi guncangan minyak akhir tahun. Perketat penyaluran solar dan LPG 3 kg agar volume tidak terus melampaui kuota,” ujar dia.

Sedangkan, untuk solusi jangka menengah, ia menyarankan untuk menajamkan sasaran subsidi energi dengan perhatian khusus pada solar.

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.