Jakarta (ANTARA) - Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Shofwan Al-Banna Choiruzzad menilai penguatan kerja sama ekonomi Indonesia dan Thailand mampu menopang stabilitas di kawasan Asia Tenggara.
"Upaya menguatkan kerjasama ekonomi Indonesia-Thailand merupakan hal yang harus didukung. Sebagai dua negara berpengaruh di kawasan, hubungan ekonomi yang lebih erat dari dua negara bukan saja bermanfaat secara ekonomi, tapi juga menopang kohesi dan stabilitas kawasan Asia Tenggara," kata Shofwan saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Adapun kerja sama ekonomi utamanya di sektor perdagangan kedua negara ditegaskan melalui pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul beberapa waktu lalu.
Kedua negara sepakat untuk mencanangkan target nilai perdagangan bilateral senilai 20 miliar dolar AS pada 2030, yang dituangkan dalam Peta Jalan Kemitraan Strategis Indonesia-Thailand 2026-2030.
Lebih jauh, Shofwan mengingatkan bahwa baik Indonesia maupun Thailand memiliki karakteristik dan kondisi ekonomi yang sama-sama negara berkembang, sehingga keduanya seringkali lebih banyak bersaing untuk pasar negara maju.
Namun, ia mengatakan masih banyak potensi ekspor Indonesia yang bisa lebih dioptimalkan lagi. Pertama, dari sektor pertanian, Thailand dinilai sangat maju di industri ini dan Indonesia sebagai salah satu produsen pupuk (urea) terbesar bisa memenuhi kebutuhan tersebut.
"Indonesia juga dapat memanfaatkan posisi Thailand sebagai hub perakitan otomotif utama di kawasan serta memanfaatkan hilirisasi yang sedang kita dorong dengan membangun bersama rantai nilai kawasan melalui pengembangan baterai dan komponen kendaraan listrik (EV)," kata Shofwan.
Selain itu, Indonesia juga bisa menjadikan Thailand sebagai pasar alternatif di sektor industri kreatif dan digital.
Di sisi lain, Indonesia dan Thailand juga membentuk Komisi Perdagangan Bersama guna memperluas akses pasar sekaligus memangkas berbagai hambatan perdagangan antarnegara.
Menurut Shofwan, komisi ini diharapkan dapat menyelaraskan standar teknis, prosedur kepabeanan, serta pengakuan saling terima (mutual recognition agreements/MRA) pada produk-produk strategis seperti farmasi, herbal, dan makanan, termasuk pengakuan jaminan halal produk Indonesia tanpa pengujian ulang.
"Upaya memfasilitasi skema transaksi local currency transaction menggunakan rupiah-baht juga dapat memangkas biaya konversi dolar AS dan melindungi pelaku usaha dari volatilitas nilai tukar," kata Shofwan.
"Karena banyak usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di dua negara, maka baik juga kalau Komisi Perdagangan Bersama ini bisa membantu menghubungkan UMKM Indonesia ke jaringan ritel Thailand," ujarnya menambahkan.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Uploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.