Orang Cerdas Lebih 'Pedas' saat Berbicara, Emang Benar?

August 2026 ยท 3 minute read

CNN Indonesia

Selasa, 11 Agu 2026 06:00 WIB

Tak sedikit orang yang mengaitkan kecerdasan dengan gaya berbicara yang cenderung sarkas.
Ilustrasi. Tak sedikit orang yang mengaitkan kecerdasan dengan gaya berbicara yang cenderung sarkas. (iStockphoto)

Jakarta, CNN Indonesia --

"Orang pintar itu kalau ngomong lebih pedas, tajam." Ungkapan seperti ini mungkin pernah Anda dengar, bahkan dipercaya sebagai sebuah fakta.

Pertanyaannya, benarkah tingkat kecerdasan seseorang membuat ucapannya menjadi lebih tajam atau menyakitkan?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Topik kecerdasan memang selalu menarik untuk dibahas. Kecerdasan kerap dikaitkan dengan sikap atau kebiasaan tertentu.

Tak sedikit orang yang mengaitkan kecerdasan tinggi dengan kemampuan berdebat, berpikir kritis, hingga menyampaikan argumen yang terdengar taja. Dari sini, muncul anggapan bahwa semakin cerdas seseorang, semakin pedas pula cara bicaranya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Scandinavian Journal of Psychology mencoba melihat faktor-faktor yang memengaruhi perilaku agresif, termasuk agresi verbal. Penelitian terhadap 665 partisipan tersebut menemukan bahwa kebiasaan berbicara menyerang lebih banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:

Pilihan Redaksi

- tingkat kemarahan yang tinggi,

- sifat neurotisisme atau kecenderungan mengalami emosi negatif yang tinggi,

- serta tingkat agreeableness atau sikap mudah bekerja sama yang rendah.

Di sisi lain, peneliti menemukan bahwa orang dengan emotional intelligence (EI) atau kecerdasan emosional yang lebih baik cenderung mampu meredam hubungan antara rasa marah dan perilaku agresif. Artinya, seseorang yang mampu mengenali dan mengendalikan emosinya biasanya lebih mampu memilih kata-kata ketika berbicara, meski sedang kesal.

Kata-kata yang menyakitkan lebih dekat dengan kepribadian

Mengutip studi dari Journal of Research in Personality, kebiasaan menggunakan hinaan atau kata-kata yang menyakitkan lebih erat berkaitan dengan sifat antagonis. Orang dengan tingkat antagonis yang tinggi cenderung lebih mudah bersikap agresif, merendahkan orang lain, melakukan perundungan (bullying) hingga mengalami kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat.

Penelitian ini tidak menemukan bahwa kecerdasan menjadi penyebab seseorang lebih gemar menggunakan kata-kata yang menusuk. Artinya, cara seseorang berbicara lebih mencerminkan karakter pribadinya dibanding tingkat kecerdasannya.

Bagaimana dengan sarkasme?

Kemudian muncul pertanyaan lain, bukankah orang cerdas sering dianggap lebih sarkastik?

Penelitian yang dimuat dalam Personality and Individual Differences memang menemukan bahwa memahami sarkasme membutuhkan kemampuan kognitif tertentu, terutama theory of mind, yakni kemampuan memahami pikiran, perasaan, dan sudut pandang orang lain.

Kemampuan ini membantu seseorang mengenali bahwa sebuah kalimat tidak selalu bermakna harfiah. Peneliti juga menemukan bahwa sarkasme lebih sering digunakan kepada teman dekat dibanding orang yang baru dikenal.

Namun, studi tersebut tidak juga menyimpulkan bahwa orang dengan kecerdasan lebih tinggi otomatis lebih sering berbicara sarkastik atau menyakitkan. Memahami sarkasme dan gemar menggunakan sarkasme adalah dua hal yang berbeda.

Lalu, mengapa anggapan 'orang pintar lebih pedas saat bicara' begitu populer? Kemungkinan karena orang yang memiliki kemampuan berpikir kritis atau penguasaan bahasa yang baik sering kali mampu menyampaikan argumen dengan lebih lugas dan terstruktur.

Cara penyampaian seperti ini kadang dianggap terdengar lebih menusuk, padahal belum tentu bertujuan menyakiti lawan bicara. Selain itu, kecerdasan intelektual juga kerap disamakan dengan kemampuan komunikasi, padahal keduanya tidak selalu berjalan beriringan.

Seseorang bisa memiliki IQ tinggi, tetapi tetap mampu berbicara dengan empati. Sebaliknya, seseorang juga bisa menggunakan kata-kata yang tajam meski tidak memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata.

(anm/asr)