Ngeri! Cadangan Darurat Minyak AS Anjlok ke Titik Terendah 44 Tahun

September 2026 ยท 3 minute read

Jakarta, CNBC Indonesia - Cadangan minyak mentah darurat Amerika Serikat (AS) terus menyusut hingga mencapai level terendah dalam lebih dari empat dekade. Kondisi ini terjadi di tengah konflik AS-Iran yang masih mengganggu pasokan minyak global.

Stok minyak dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS tercatat sebesar 283,8 juta barel pada pekan berikutnya setelah 18 September 2026. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Oktober 1982 atau 44 tahun terakhir.

Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan, cadangan SPR berada di level 284,6 juta barel pada pekan yang berakhir 18 September, turun dari 285 juta barel pada pekan sebelumnya. Setahun lalu, cadangan masih mencapai 406 juta barel.

Penurunan tersebut membuat cadangan minyak darurat AS dua kali mencetak rekor terendah dalam beberapa dekade sepanjang tahun ini. Pada awal Agustus, stok bahkan telah turun di bawah 300 juta barel dan melewati level yang tercatat pada 1983.

Penyusutan cadangan ini tidak terlepas dari keputusan Presiden Donald Trump pada Maret lalu untuk melepas 172 juta barel minyak dari SPR. Langkah tersebut merupakan bagian dari pelepasan terkoordinasi sebanyak 400 juta barel oleh 32 negara anggota International Energy Agency (IEA).

Pelepasan minyak dimulai sekitar sepekan setelah pengumuman dan diperkirakan berlangsung selama 120 hari. Pemerintah AS sebelumnya berjanji mengisi kembali sekitar 200 juta barel dalam waktu satu tahun tanpa membebani wajib pajak.

Namun, cadangan minyak darurat AS kini semakin mendekati batas operasionalnya.

Undang-undang federal menetapkan batas minimum operasional SPR sebesar 252,4 juta barel. Sementara itu, kisaran 250 juta hingga 300 juta barel secara umum dianggap sebagai tingkat minimum agar minyak dapat dipompa dan diproses secara efisien.

Dengan stok yang kini berada di bawah 284 juta barel, cadangan AS semakin mendekati batas tersebut.

Analis energi Atlantic Council, Ben Cahill, memperingatkan bahwa pelepasan cadangan minyak memiliki manfaat yang semakin terbatas.

Menurutnya, pada titik tertentu, pelepasan minyak justru dapat menjadi langkah yang kontraproduktif. Tambahan pasokan dari cadangan darurat berisiko kalah oleh persepsi pasar bahwa AS semakin kehabisan opsi untuk mengatasi krisis.

Tekanan terhadap cadangan minyak AS juga terjadi ketika arus minyak melalui Selat Hormuz masih berada di sekitar sepertiga level sebelum perang.

Analis MST Marquee, Saul Kavonic, sebelumnya menggambarkan situasi tersebut seperti menggunakan kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan minyak.

Penarikan stok minyak, bukan tambahan pasokan baru, selama ini membantu menjaga harga minyak Brent tetap di bawah US$110 per barel selama sebagian besar krisis.

Sekitar 133 juta barel dari minyak yang dilepas melalui SPR juga menggunakan skema pertukaran atau swap dengan Shell, Vitol, dan Trafigura.

Berdasarkan kontrak, perusahaan-perusahaan tersebut diwajibkan mengembalikan 1,25 barel minyak untuk setiap satu barel yang dipinjam. Pengiriman kembali dijadwalkan mulai awal tahun depan.

Skema tersebut diharapkan membantu mengisi kembali cadangan minyak AS, meskipun dalam jangka pendek stok darurat negara itu masih berada di level terendah sejak awal 1980-an.

(mae/mae)