Nama Kiai Said Aqil Kembali Menguat di Bursa Rais Aam PBNU, Ini Jejak Panjangnya

August 2026 ยท 2 minute read

AKURAT.CO Di tengah menghangatnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), nama Kiai Said Aqil Siroj kembali mencuri perhatian. Mantan Ketua Umum PBNU dua periode itu disebut semakin menguat di kalangan muktamirin sebagai salah satu sosok yang digadang-gadang menduduki posisi Rais Aam PBNU.

Dinamika tersebut muncul bersamaan dengan mengerucutnya bursa Ketua Umum PBNU. Di kalangan muktamirin dan Nahdliyin, nama Gus Yahya sebagai petahana dan Gus Kikin sebagai alternatif baru menjadi dua figur yang banyak diperbincangkan.

Sementara untuk posisi Rais Aam, mekanisme yang digunakan berbeda. Pemilihan dilakukan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Pengurus wilayah dan pengurus cabang mengusulkan sembilan nama kiai yang dinilai layak menjadi anggota AHWA, kemudian dukungan tersebut ditabulasi.

Dalam dinamika itulah nama Kiai Said Aqil kembali muncul. Bukan tanpa alasan. Kiai Said dikenal memiliki rekam jejak panjang di NU, baik sebagai ulama, intelektual pesantren maupun organisator. Karya-karyanya juga banyak menjadi rujukan dalam kajian Islam Nusantara.

Baca Juga: Pendukung Gus Yusuf Chudlori Ricuh, Gus Yahya Janjikan Posisi untuknya Jika Terpilih Lagi

Berangkat dari Pesantren

Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, M.A. lahir di Kempek, Cirebon, pada 3 Juli 1953. Ia tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat di Ponpes KHAS Kempek Cirebon yang merupakan besutan ayahnya, KH Aqil Siroj.

Pendidikan keagamaannya ditempuh antara lain di Pesantren Lirboyo, Kediri, dan Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Setelah itu, perjalanan intelektualnya berlanjut ke Arab Saudi.

Kiai Said menempuh pendidikan tinggi di Universitas King Abdul Aziz dan Universitas Ummul Qura, Makkah. Pada 1994, ia meraih gelar doktor dalam bidang akidah dan filsafat Islam dengan predikat cum laude.

Latar belakang tersebut ikut membentuk karakter pemikiran Kiai Said yang berusaha mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan persoalan Islam dan kebangsaan kontemporer.

Dari Wakil Katib hingga Memimpin PBNU

Perjalanan Kiai Said di NU juga tidak berlangsung singkat.

Ia pernah dipercaya sebagai Wakil Katib Aam hingga kemudian menjadi bagian dari jajaran Rais Syuriyah. Karier organisasinya mencapai puncak ketika ia terpilih sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU pada Muktamar ke-32 NU di Makassar pada 2010.

Lima tahun berselang, amanah tersebut kembali diberikan kepadanya melalui Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 2015. Kiai Said kemudian memimpin PBNU selama dua periode hingga Desember 2021.

Baca Juga: Kiai Adnan Sebut Said Aqil Figur Konsolidator, Dinilai Layak Jadi Rais Aam PBNU

Selama kepemimpinannya, salah satu gagasan yang paling menonjol adalah pengarusutamaan Islam Nusantara sebagai corak Islam yang berakar pada tradisi pesantren, namun tetap terbuka berdialog dengan perkembangan zaman.