Mitos Makam Ki Angkong di Magelang, Harus Lempar Uang Supaya Selamat

September 2026 ยท 5 minute read

Magelang -

Di pinggir Jalan Magelang-Purworejo, ada satu makam yang menarik perhatian. Pengendara kerap melempar uang supaya mendapatkan keselamatan.

Orang-orang sekitar menyebutnya makam Ki Angkong. Mitosnya, siapa yang melempar uang ketika melintas akan selamat dalam perjalanan

"Itu enggak ada makam Ki Angkong. Jadi Ki Angkong tuh cuma sebutan tempat makam saja. Yang dimakamkan di bawah itu namanya Pak Kiai Basiron sama Pak Kiai Ahwak," kata salah satu warga, Miswati (62).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makam ini berada di sisi kanan jika dari arah Magelang menuju Purworejo. Lokasi makam ini persis berada di Dusun Sabrang, Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Terlihat juga ada uang koin yang kemungkinan dibuang oleh pengguna jalan yang melintas.

Uniknya, di nisan tersebut tidak tertulis nama Kiai Basiron maupun Kiai Ahwak, melainkan tertulis Mbah Salim, wafat tahun 1960. Kemudian, nisan ini terlihat masih baru.

Meski demikian, lokasi makam ini memang dikenal dengan sebutan Ki Angkong. Kemudian muncul kepercayaan dengan memberi atau membuang uang di sana, maka akan selamat di perjalanan.

Miswati yang tiap sore hingga malam hari berjualan nasi goreng di seberang makam mengatakan Kiai Basiron dan Kiai Ahwak memang dimakamkan di sana sejak lama dan lokasinya di bawah pohon beringin, namun kini tidak terlihat di pinggir jalan karena longsor. Sedangkan sosok Mbah Salim yang namanya tertulis di nisan yang nampak itu merupakan warga asal Manado.

"Yang di bawah pohon beringin ada dua makam yang pokoknya makamnya tuh enggak pernah tumbuh rumput. Jadi selalu bersih. Itu namanya Pak Kiai Basiron sama Pak Kiai Ahwak. Yang itu Pak Salim, sebetulnya orang Manado yang meninggal terus dikubur di sini," jelas Miswati.

"Keluarganya sudah enggak ada, jadi yang merawat ya orang sini. Nisannya baru. Kan kemarin itu ada truk itu yang mundur terus (mengenai makam), jadi habis. Terus sudah diperbaiki. Tapi, terus ada orang baik lewat melihat makam, terus dia itu ke sini ngasih nisan (warga diminta membangun). Jadi biayanya dia semua. Itu katanya orang Cilacap," imbuhnya.

Miswati menambahkan, orang yang melintas sudah dari dulu memberikan sedekah uang. Bahkan ada yang memberikan satu kantong plastik berisi uang.

"Jadi sedekah mungkin biar diberikan keselamatan atau gimana. Penting dia sedekah di sini. Nggak mesti (jumlah nominal uangnya), kadang-kadang ada banyak. Kadang Rp 10 ribu, pernah bus ziarah itu sering (satu kantong plastik) Rp 100 lebih (dilempar)," ujar dia.

"Malam ada yang jaga. Kan gini (siang yang ambil uang siapa saja) yang lewat boleh ambil, malam pun siapapun yang ambil boleh. Cuman, kalau malam itu ada yang jaga (dua orang) jam 10 malam sampai pagi," kata dia.

Sementara itu, Kepala Dusun Tlogosari Zarkoni (60) mengatakan sesepuh yang dimakamkan di kawasan tersebut adalah pertama Wali Awak dan Wali Ahmad.

"Itu meninggalnya zaman Belanda. Dan kebetulan sugesti masyarakat sampai saat ini masih percaya kalau bersedekah di situ diberi keselamatan. Tapi, kalau lupa, kadang ada apa istilahnya, mungkin kecelakaan atau apa itu," kata Zarkoni.

"Ngasih uang. Buang, ngelempar. Dan Alhamdulillah itu juga membantu masyarakat di lingkungan yang punya anak sekolah. Tapi, Insyaallah itu halal karena tidak meminta. Istilahnya ngambil buangan dari orang lewat, sedekahnya yang lewat," ujarnya.

Ia juga menjelaskan sosok Salim yang berada di makam tersebut berasal dari Manado. Yang mana dulunya bekerja di Margoyoso sebagai penarik karcis.

"Om Lim (Salim) itu orang Manado di Margoyoso tukang karcis di pasar sini. Terus meninggal di situ, makanya termasuk terkenalnya Om Lim, Om Salim itu. Tapi Islam itu," kata dia.

"Tapi, yang paling sepuh itu Wali Awak sama Wali Ahmad. Tapi, untuk Wali Ahmad tuh makamnya belum terdeteksi karena longsor dulu. Kemarin yang Om Lim itu ada donatur dari Cilacap tahun 2025," kata dia.

Menurutnya, kepercayaan melempar uang di sana demi keselamatan muncul karena memang dulu sering ada kecelakaan. Dia menyebut kini kecelakaan berkurang, namun hal itu menurut Zarkoni juga karena jalan yang sudah bagus.

"Kalau zaman dulu-dulu tuh sering sekali (kecelakaan). Hampir tiap seminggu sekali pasti ada. Tapi, sugestinya memberi sedekah itu dengan cara melempar uang di situ, diberi keselamatan," bebernya.

Makam yang berada di pinggir Jalan Magelang-Purworejo tepatnya di Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Kamis (10/9/2026).Makam yang berada di pinggir Jalan Magelang-Purworejo tepatnya di Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Kamis (10/9/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng

"Ya, jarang (sekarang). Karena sudah mungkin ya jalannya sudah bagus, ada apa penerangan juga itu," katanya.

Ditemui terpisah, Kepala Desa Margoyoso, Adi Daya Perdana mengatakan, makam Ki Angkong tersebut sudah ada sejak zaman dahulu kala. Dia menyebut ada juga mitus jika tidak melempar uang maka jalan akan bercabang.

"Itu merupakan sesepuh yang ada di wilayah Margoyoso dan sekitarnya. Sehingga meninggal dimakamkan di situ. Konon berdasarkan penelusuran cerita warga mitosnya ketika tidak membuang atau melempar recehan atau uang di situ jalan menjadi bercabang," ujar Adi.

"Sekali lagi ini mitos versi warga. Tetapi, apapun itu poinnya adalah doa untuk keselamatan ketika perjalanan menjadi hal yang utama. Ketika ada sebagian rezeki Syukur-syukur bisa dibagikan kepada warga yang membutuhkan," tegasnya.

Adi mengatakan, dari dulu lokasi makam memang berada di pinggir jalan yang dianggap angker oleh masyarakat umum. Sedangkan warga sekitar menjaga makam itu dengan menjalankan tradisi nyadran.

"Tetapi, untuk lingkungan itu selama ini juga melaksanakan nguri-uri budaya yaitu bersih makam keliling. Itu dilaksanakan setahun dua kali oleh masyarakat saat nyadran. Sehingga apapun ada cerita, mitos dan sebagainya sisi lain desa tetap nguri-uri membersihkan makam secara rutin bersama masyarakat," pungkasnya.


---------

Artikel ini telah naik di detikJateng.

Halaman 2 dari 2

Simak Video "Video Polisi Bongkar Makam Murid SD Diduga Korban Bullying di Padang"
[Gambas:Video 20detik] (wsw/wsw)