Target tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 5,4%.
Baca Juga: Rupiah Rp17.500 Jadi Asumsi RAPBN 2027, Ini Alasannya
Menurut Misbakhun, target tersebut sekaligus menjadi sinyal optimisme pemerintah kepada pasar mengenai arah perekonomian Indonesia pada tahun depan.
"Kalau menurut saya pesan kuatnya adalah pemerintah ingin memberikan pesan optimisme kepada pasar. Pesan yang kuat ini memberikan sebuah pernyataan kita ingin keluar dari zona 5 persen," kata Misbakhun usai sidang paripurna nota keuangan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Misbakhun mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama bertahun-tahun cenderung bergerak di sekitar level 5%. Karena itu, target 6% dalam RAPBN 2027 dinilai menunjukkan adanya upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ke level yang lebih tinggi.
"Selama ini rata-rata Indonesia tumbuh di antara 5 persen, 5,2 persen, 5,1 persen dan sebagainya. Dan ketika Pak Presiden menargetkan pertumbuhan 6 persen, artinya pemerintah ingin mengejar pertumbuhan yang keluar dari zona 5 persen," ujarnya.
"Yang sudah puluhan tahun kita jalani saat ini, setelah reformasi," sambung Misbakhun.
Di sisi lain, pemerintah memasang target pertumbuhan yang lebih tinggi dengan ruang fiskal yang relatif lebih ketat. Dalam RAPBN 2027, defisit anggaran ditargetkan sebesar 2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Target tersebut lebih rendah dibandingkan defisit yang ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar 2,68% terhadap PDB.
Kombinasi antara target pertumbuhan 6% dan defisit yang lebih rendah membuat kualitas belanja pemerintah menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan APBN 2027.
Misbakhun mengatakan pencapaian target tersebut membutuhkan konsolidasi dari berbagai pihak, terutama dalam memastikan anggaran negara benar-benar diarahkan untuk kegiatan yang memberikan dampak terhadap perekonomian.
"Menurut saya ini butuh kerja keras, konsolidasi dan gotong-royong dari seluruh elemen yang bisa menjadi penggerak roda pertumbuhan ekonomi," kata dia.
Ia menilai pemerintah perlu memastikan setiap belanja dalam APBN memiliki kontribusi terhadap pencapaian target pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
Misbakhun juga menyoroti arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai efisiensi anggaran dalam penyusunan APBN 2027.
Menurutnya, konsolidasi fiskal tidak cukup hanya dilakukan melalui pengurangan belanja, tetapi juga harus diarahkan pada peningkatan kualitas penggunaan anggaran.
"Karena tadi pidato Bapak Presiden itu ada 10 hal yang harus diperhatikan di dalam konsolidasi di APBN 2027. Dan tentunya ini butuh sebuah kerja keras dari A sampai Z," ujarnya.
Baca Juga: Misbakhun: APBN 2027 Tembus Rp4.000 T, Ekonomi Dikejar 6 Persen
Misbakhun menyebut ruang efisiensi tersebut mencakup berbagai jenis belanja pemerintah, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga belanja yang dinilai tidak memberikan dampak optimal terhadap perekonomian.
"Mulai dari pembangunan infrastruktur sampai belanja-belanja yang sifatnya tadi disampaikan pemborosan, itu harus sudah dikurangi," katanya.
Menurutnya, penghematan anggaran menjadi bagian penting dalam menjaga agar APBN tetap sehat sekaligus memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengarahkan belanja ke sektor-sektor yang memiliki efek terhadap pertumbuhan.
"Semuanya fokus kepada belanja yang berkualitas," tegas Misbakhun.
Misbakhun juga menyinggung rencana pemerintah mengoptimalkan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Menurutnya, optimalisasi pengadaan menjadi salah satu instrumen untuk menciptakan efisiensi belanja negara.
"Termasuk LKPP mau dijadikan badan penyelenggaran pengadaan barang dan jasa. Artinya bahwa penghematan menjadi salah satu kuncinya," kata Misbakhun.
Ia menilai penghematan tersebut pada akhirnya harus diikuti dengan optimalisasi penggunaan anggaran agar APBN tidak hanya lebih efisien, tetapi juga mampu memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi.
"Kemudian mengoptimalkan belanja itu supaya memberikan daya dorong terhadap pertumbuhan," pungkasnya.