Merah putih tak pernah memilih

August 2026 · 3 minute read

Surabaya (ANTARA) - Bendera merah putih berkibar, lomba sederhana digelar, dan tawa terdengar dari halaman Griya Wreda Jambangan, Kota Surabaya, Jawa Timur.

D,i balik semarak perayaan HUT Ke-81 Republik Indonesia itu tersimpan pertanyaan yang lebih besar tentang arti kemerdekaan bagi warga lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Pada Rabu (11/8/2026), sekitar 100 lansia penghuni Griya Wreda mengikuti lomba balap kelereng, kempit balon, dan makan kerupuk. Dari 300 lebih penghuni, tidak semuanya dapat berpartisipasi secara langsung karena keterbatasan kondisi fisik. Mereka yang tidak mampu beraktivitas tetap menyaksikan lomba dari dalam ruangan.

Di tempat lain, sekitar 60 anak disabilitas di UPTD Kampung Anak Negeri Kalijudan mengikuti perlombaan yang disesuaikan dengan kemampuan mereka. Ada balap kelereng, balap karung, makan kerupuk hingga memindahkan bendera ke dalam botol. Kegiatan serupa juga disiapkan di sejumlah lokasi layanan sosial lainnya.

Pemandangan tersebut mudah dibaca sebagai perayaan sederhana. Tetapi sesungguhnya ada pesan penting di dalamnya. Kemerdekaan tidak semestinya hanya dirasakan oleh warga yang sehat, produktif dan tanpa hambatan mobilitas.

Kemerdekaan harus hadir dalam bentuk kesempatan untuk berpartisipasi, memperoleh penghormatan, bersosialisasi, mengembangkan potensi dan menentukan kualitas hidup tanpa diskriminasi.

Pesan itu semakin penting karena Indonesia sedang memasuki fase penduduk menua. Badan Pusat Statistik mencatat proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 11,97 persen pada 2025.

Artinya, lansia bukan lagi kelompok kecil yang dapat diperlakukan sekadar sebagai penerima bantuan, melainkan bagian penting dari struktur sosial dan pembangunan nasional.

Di Jawa Timur, tantangan tersebut bahkan lebih terasa. Profil Penduduk Lanjut Usia Provinsi Jawa Timur 2025 mencatat persentase lansia mencapai 15,40 persen. Struktur penduduk provinsi ini sudah masuk kategori penduduk tua. Penuaan penduduk membawa konsekuensi terhadap kesehatan, perlindungan sosial, ekonomi keluarga, ruang publik dan pola pelayanan pemerintah.

Karena itu, lomba Agustusan yang menghadirkan lansia dan anak disabilitas seharusnya tidak dibaca sebatas kegiatan hiburan. Ia bisa menjadi pintu masuk untuk melihat kembali apakah pembangunan kota benar-benar memberi tempat yang setara bagi kelompok yang selama ini lebih sering diposisikan sebagai penerima layanan.

Seorang lanjut usia (lansia) mengikuti lomba balap kelereng dalam rangka menyemarakkan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Griya Wreda Jambangan, Surabaya, Rabu (11/8/2026). Kegiatan yang digelar Dinas Sosial Kota Surabaya tersebut menjadi sarana hiburan dan kebersamaan bagi para penghuni Griya Wreda. (ANTARA/HO-Diskominfo Surabaya)

Ruang kesetaraan

Kekuatan kegiatan di Griya Wreda dan Kalijudan terletak pada upaya menghadirkan kegembiraan yang sama. Lansia tidak hanya dirawat, tetapi diberi ruang untuk berkumpul. Anak disabilitas tidak sekadar didampingi, tetapi diajak berkompetisi, bekerja sama dan menunjukkan kemampuan.

Bahkan, hadiah bagi lansia berupa makanan favorit yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan memperlihatkan bahwa pendekatan pelayanan sosial tidak harus selalu berbentuk bantuan material. Perhatian terhadap pengalaman hidup, kesukaan, ingatan masa lalu dan kebutuhan psikologis juga merupakan bagian dari kualitas hidup.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.