Manokwari (ANTARA) - Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menantang Tim Ekpedisi Patriot (TEP) Universitas Airlanga (Unair) merealisasikan Kampung Dindey, Distrik Warmare, Manokwari sebagai kampung matoa pertama di Provinsi Papua Barat.
Konsep tersebut sejalan dengan pelaksanaan program Ekspedisi Patriot dalam mendorong pengolahan buah matoa menjadi produk turunan bernilai ekonomi tinggi, seperti dodol, selai, es krim, teh herbal, stik, hingga sambal bercita rasa pedas manis.
“Kampung Dindey bisa dideklarasikan sebagai kampung matoa kalau 70 persen masyarakatnya bekerja dengan komoditas matoa,” kata Suryanagara di Manokwari, Sabtu.
Menurut dia, pengembangan matoa tidak hanya berorientasi pada produk olahan, tetapi harus diimbangi dengan upaya meningkatkan pemahaman masyarakat lokal tentang penerapan sistem budidaya tanaman matoa yang tepat dan berkelanjutan.
Hal ini bertujuan mendukung hilirisasi komoditas pangan lokal unggulan, mulai dari menjamin ketersediaan bahan baku berkualitas hingga pemenuhan kebutuhan produksi dalam skala besar yang berdampak terhadap perekonomian daerah.
“Bukan hanya produk olahan tapi bagaimana masyarakat paham cara budidaya. Alam Papua ini paling cocok ditanami matoa,” ujarnya.
Kementerian Transmigrasi, kata dia, siap membantu pemerintah daerah membangun pabrik sekaligus menyiapkan masyarakat lokal sebagai tenaga kerja profesional apabila produksi matoa setiap musim panen mampu memenuhi permintaan industri.
“Kalau nanti produk matoa bisa diekspor ke luar negeri, itu luar biasa,” ujar Suryanagara.
Dosen Unair Surabaya Zamal Nasution mengatakan, pelatihan pengolahan produk turunan melibatkan 18 mama-mama Suku Arfak yang selama ini hanya menjual hasil panen matoa dengan keuntungan rata-rata per bulan kurang lebih Rp700 ribu.
Tim Ekspedisi Patriot Unair juga memberikan pelatihan bagi generasi muda di Kampung Dindey agar dapat memanfaatkan kanal media sosial sebagai sarana dalam memperluas pemasaran produk turunan hasil pengolahan buah matoa.
"Melalui pengolahan matoa menjadi produk turunan, kami proyeksi pendapatan per bulan bisa mencapai Rp2,4 juta," ucap Zainal.
Selain itu, pihaknya turut penerbitan 18 nomor induk berusaha (NIB), sembari melengkapi syarat dan ketentuan lainnya dalam memperoleh izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) agar pemasaran semakin luas.
"Sekarang, ada satu toko ritel modern di Manokwari yang siap menerima produk olahan matoa," ucap Zainal.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mentrans tantang TEP Unair realisasikan kampung matoa di Manokwari
Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.