Menteri Bahlil prioritaskan gas Masela untuk kebutuhan domestik

July 2026 · 3 minute read
Nanti gasnya 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk kami melakukan ekspor

Tanimbar, Maluku (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan gas yang diproduksi proyek LNG (Liquefied Natural Gas) Abadi Wilayah Kerja (WK) Masela akan diprioritaskan untuk kebutuhan domestik.

“Nanti gasnya 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk kami melakukan ekspor,” ujar Bahlil dalam acara Groundbreaking Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela yang digelar di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis.

Terdapat tiga BUMN, yaitu PLN, PGN dan Pupuk Indonesia, yang telah menandatangani Heads of Agreement (HoA) sebagai calon "offtaker" atau pembeli domestik.

Sebagian dari gas yang diproduksi, kata Bahlil, akan dipakai untuk pembangunan pabrik pupuk dan blue amonia di Maluku oleh PT Pupuk Indonesia.

Tujuan dari pembangunan industri pupuk di Maluku adalah menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi yang baru dan dampak berganda dari hadirnya proyek LNG Masela.

Selain pembangunan pabrik pupuk dan blue amonia, Bahlil menyampaikan gas yang diproduksi dari proyek Masela juga akan disalurkan kepada PLN, PGN dan beberapa perusahaan swasta.

Baca juga: Bahlil: Bangun Masela tanpa lupakan hak kesulungan masyarakat Tanimbar

Baca juga: Bahlil catat investasi proyek LNG Masela capai 21 miliar dolar AS

“Sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah,” ujar Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil mengalokasikan 40 persen gas Masela untuk diekspor. Salah satu negara tujuan ekspor dari Masela adalah Jepang.

“Terutama Jepang, karena mereka melakukan investasi. Jadi, kami prioritas negara pilihan pertama dari Inpex adalah Jepang. Apalagi kami kan mitra,” kata Bahlil.

Terkait dengan harga gas, ia menyampaikan masih dalam proses negosiasi. Akan tetapi, untuk pupuk, ia menyampaikan akan berada di kisaran 6–7 dolar AS per MMBTU.

“LNG-nya memang dia akan memakai formulasi ICP (Indonesian Crude Price/harga rata-rata minyak mentah Indonesia). Tetapi, yang saya inginkan adalah proses bahan bakunya dari sini, sekalipun nilai rendah, tetapi nilai tambahnya akan terjadi di sini,” ujar Bahlil.

Proyek LNG Abadi Masela direncanakan menghasilkan LNG mencapai 9,5 juta ton per tahun, ditambah kondensat hingga 35 ribu barel per hari, dan gas alam sekitar 150 juta kaki kubik per hari.

Selain itu, proyek ini diharapkan memberikan nilai tambah bagi perekonomian melalui investasi jangka panjang, percepatan pembangunan kawasan Indonesia Timur, serta penciptaan lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat.

“Proyek ini menciptakan lapangan kerja dengan penyerapan sekitar 12 ribu tenaga kerja pada masa konstruksi. Ini masa konstruksi, ya,” kata Bahlil.

Baca juga: Bahlil pastikan konstruksi proyek Masela dimulai pada 2027

Baca juga: Bahlil pastikan percepatan Blok Masela untuk ketahanan energi nasional

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.