Menjemput harapan korban kapal terbakar di perairan Sumenep - ANTARA News Jawa Timur

August 2026 · 6 minute read

Surabaya (ANTARA) - Lampu di Gedung Gapura Surya Nusantara (GSN), Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, belum juga padam ketika jarum jam melewati tengah malam, Minggu (2/8). Di gedung yang biasa menjadi tempat naik turun penumpang kapal laut itu, suasananya berubah menjadi pusat penanganan darurat untuk korban kapal terbakar di perairan utara Sumenep.

Ambulans berbaris di sisi dermaga. Petugas Basarnas, TNI, Polri, Pelindo, tenaga kesehatan, dan relawan bergerak dari satu titik ke titik lain menyiapkan kedatangan korban kapal terbakar di perairan utara Sumenep, KMP Mutiara Sentosa II.

Di ruang tunggu, keluarga korban kapal terbakar itu memilih bertahan. Tatapan mereka tak lepas dari pintu masuk dermaga. Setiap kabar kapal yang akan sandar membuat mereka berdiri, berharap orang yang ditunggu ikut turun bersama rombongan penyintas.

Sekitar pukul 23.15 WIB, KM Meratus Pematang Siantar, akhirnya merapat. Kapal niaga itu, membawa 111 penyintas dan dua korban meninggal dunia akibat kapal terbakar.

Petugas kesehatan menjadi orang pertama yang naik ke atas kapal. Mereka melakukan triase terhadap seluruh penyintas dari kapal terbakar, dengan memeriksa kondisi kesehatan, sekaligus memasang gelang penanda sesuai tingkat penanganan medis sebelum korban turun ke dermaga.

Dua jenazah kemudian dievakuasi menggunakan kantong jenazah menuju ambulans yang telah menunggu untuk dibawa ke RS Bhayangkara H.S. Samsoeri Mertojoso Surabaya. Sementara korban selamat dari kapal terbakar diarahkan menuju Gedung Gapura Surya Nusantara guna menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan, pendataan identitas, hingga dipertemukan dengan keluarga.

Bagi Ahmad, sopir ekspedisi asal Wonosobo, Jawa Tengah, yang juga penyintas dari kapal terbakar, perjalanan menuju Surabaya mengakhiri penantian selama beberapa jam di tengah laut.

Ahmad bercerita, asap pertama kali muncul dari bagian belakang kapal terbakar, sebelum api terus membesar, hingga melumpuhkan mesin. Penumpang kemudian berkumpul di haluan sambil mengenakan pelampung dan menunggu bantuan datang karena sekoci di bagian buritan tidak lagi dapat digunakan.

Sekitar tiga jam kemudian, kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi mulai berdatangan. Sebagian penumpang kapal terbakar itu melompat ke laut menggunakan pelampung untuk kemudian diangkat ke kapal penyelamat yang tidak dapat merapat akibat kondisi gelombang.

Muhammad Abdul Karim, penyintas lainnya, menjelaskan, kala itu kobaran api hampir menghanguskan seluruh badan kapal terbakar. Bagian depan menjadi satu-satunya tempat yang masih dapat digunakan penumpang untuk bertahan, hingga pertolongan tiba.

Malam itu perjalanan para penyintas kapal terbakar memang berakhir di Tanjung Perak. Namun, bagi ratusan personel yang terlibat dalam operasi pencarian dan pertolongan, pekerjaan belum selesai.


Operasi gabungan

Belasan jam sebelum para penyintas tiba di Surabaya, Kantor Pencarian dan Pertolongan Surabaya menerima laporan mengenai kapal terbakar di Perairan utara Sumenep.

Laporan pertama mengenai kapal terbakar itu diterima pada pukul 08.24 WIB dari Syahbandar Tanjung Perak. Selang satu menit kemudian, PT Atosim Lampung Pelayaran kembali menghubungi petugas siaga untuk menginformasikan bahwa KMP Mutiara Sentosa II rute Surabaya-Makassar mengalami kebakaran dengan ratusan orang berada di atas kapal. Nakhoda, sebelumnya melaporkan, api muncul sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB, sebelum komunikasi terputus.

Koordinasi segera dilakukan dengan berbagai instansi untuk memastikan posisi terakhir kapal terbakar tersebut. Sekitar pukul 09.45 WIB, Kapal Meratus Project 3 yang berada di sekitar lokasi melaporkan KMP Mutiara Sentosa II berada sekitar 19 mil laut di utara Pulau Sapudi, Sumenep.

Saat itu, hampir sebagian besar badan kapal terbakar, sementara penumpang bertahan di anjungan dan haluan.

Meratus Project 3 tidak dapat mendekati kapal terbakar itu karena membawa muatan yang mudah terbakar. Tugas evakuasi awal kemudian dilakukan TB Hasnur 26 yang menyatakan siap merapat ke lokasi.

Tidak lama kemudian, sebagian penumpang kapal terbakar itu mulai melompat ke laut hanya bermodal pelampung dan dievakuasi oleh TB Hasnur 26 bersama kapal British Mentor.

Pada saat bersamaan, KN SAR 249 Permadi melakukan persiapan menuju lokasi dari Surabaya. Pos SAR Sumenep mengerahkan Rigid Inflatable Boat (RIB) 01, sementara koordinasi terus dilakukan dengan KSOP, SROP Kalianget, VTS Surabaya, serta kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Seiring berkembangnya operasi, TNI AL turut mengerahkan KRI Nala-363, KRI Bung Hatta-370, serta pesawat NC-212-200 Aviocar untuk memperkuat pencarian dan evakuasi. Helikopter Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara Polda Jawa Timur juga diterbangkan guna memantau situasi dari udara.

Tidak hanya unsur pemerintah, kapal-kapal niaga di sekitar lokasi turut mengubah pelayarannya menjadi misi kemanusiaan. Sejumlah kapal bergantian mengangkut penyintas menuju Pelabuhan Tanjung Perak maupun Pelabuhan Kalianget.

Gelombang evakuasi berlangsung bertahap. Setelah Meratus Pematang Siantar tiba pada Minggu malam, kapal Selaras Mas membawa 13 penyintas pada Senin dini hari. Disusul Mutiara Ferindo 1 yang mengangkut delapan korban selamat dan satu korban meninggal, kemudian KRI Nala-363 yang membawa 30 penyintas dan dua korban meninggal.

Sementara korban berdatangan ke Surabaya, operasi pencarian di laut tidak berhenti. KN SAR 249 Permadi kembali diberangkatkan dari Kalianget menuju lokasi kejadian bersama unsur laut dan udara lainnya.

Cuaca dan gelombang menjadi tantangan tersendiri, sehingga pencarian dilakukan tetap memperhitungkan keselamatan personel serta efektivitas penyisiran.

Hingga Senin sore, tim SAR gabungan mencatat 234 orang berhasil dievakuasi, terdiri atas 229 korban selamat dan lima korban meninggal dunia.


Negara hadir

Setibanya di darat, penyelamatan memasuki tahapan berikutnya. Setiap penyintas menjalani pemeriksaan kesehatan, pendataan identitas, serta verifikasi untuk memastikan seluruh penumpang yang berada di atas kapal dapat diketahui keberadaannya.

Posko DVI dan "Ante Mortem" dibuka di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak untuk mendukung proses identifikasi korban meninggal, sekaligus memberikan kepastian kepada keluarga.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur kemudian melakukan identifikasi terhadap lima korban meninggal melalui pemeriksaan sidik jari, rekam medis, properti, hingga uji DNA apabila diperlukan.

Di sisi lain, Basarnas tetap melanjutkan pencarian terhadap korban yang diduga masih berada di sekitar lokasi kebakaran. Luas area pencarian disesuaikan dengan kondisi cuaca, arah angin, arus, serta kemungkinan pergerakan korban di laut.

Pemerintah juga melakukan pencocokan ulang data manifes dengan kondisi faktual di lapangan setelah ditemukan ketidaksesuaian data penumpang, termasuk adanya anak-anak yang belum tercatat dalam manifes.

Proses tersebut menjadi bagian penting dari hadirnya negara untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat dalam operasi pencarian maupun identifikasi.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pemerintah memastikan seluruh data korban diverifikasi, sebelum mengambil langkah lanjutan, termasuk evaluasi terhadap operator kapal, setelah penyebab kebakaran selesai diinvestigasi.

Pemerintah ingin memastikan semua data terkumpul dengan baik, tidak ada kesimpangsiuran, sehingga bisa memberikan kepastian kepada keluarga yang sedang menunggu.

Menjelang malam kedua sejak kebakaran terjadi, aktivitas di Gedung Gapura Surya Nusantara belum juga berhenti. Ambulans masih bersiaga. Petugas kesehatan, Basarnas, kepolisian, TNI, Pelindo, dan relawan tetap bergantian menjalankan tugas.

Bagi para penyintas, dermaga itu menjadi akhir perjalanan panjang dari laut. Namun, bagi negara, operasi belum benar-benar usai, sebelum setiap korban ditemukan, setiap identitas dipastikan, dan setiap keluarga memperoleh kepastian atas orang yang mereka tunggu.

Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.