Menbud: Permainan tradisional harus terus dihidupkan di era teknologi

July 2026 · 3 minute read

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyebut pelestarian permainan tradisional sebagai ruang tumbuh kembang anak harus terus dilakukan di tengah perkembangan teknologi digital karena perannya dalam membentuk karakter sekaligus mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

"Permainan tradisional merupakan salah satu objek Pemajuan Kebudayaan yang harus terus kita hidupkan. Di tengah perkembangan teknologi digital, anak-anak tetap memerlukan ruang untuk bermain, berinteraksi, belajar bekerja sama, dan mengenal nilai-nilai luhur bangsa melalui pengalaman nyata," kata Fadli pada Festival "Generasi Berani Exploring – Biarkan Mereka Berlari" di Jakarta, Sabtu.

Ia mengatakan Indonesia memiliki ribuan permainan tradisional yang tersebar di berbagai daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Karena itu, Kementerian Kebudayaan tengah mengembangkan berbagai langkah untuk mendokumentasikan, meregistrasi, dan memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada masyarakat, termasuk melalui rencana pengembangan museum permainan tradisional Indonesia.

Baca juga: Hari Anak Nasional, Kepala KSP dengarkan aspirasi anak Indonesia

"Kementerian Kebudayaan tengah mengembangkan berbagai langkah untuk mendokumentasikan, meregistrasi, serta memperkenalkannya kembali kepada masyarakat, termasuk melalui rencana pengembangan museum permainan tradisional Indonesia. Kolaborasi yang kita lakukan hari ini menjadi langkah penting agar anak-anak kembali akrab dengan permainan yang membentuk karakter, kejujuran, kebersamaan, dan semangat gotong royong," ujar Menbud.

Sebagai dukungan terhadap festival tersebut, Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Komunitas Hong menghadirkan berbagai permainan tradisional bagi anak usia 5 hingga 8 tahun, seperti congklak, bekel, gasing, dam-daman, kelom batok, ular naga, ampar-ampar pisang, cublek-cublek suweng, dan cing ciripit.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan perlindungan anak di ruang digital perlu diiringi dengan penyediaan ruang bagi anak untuk memperoleh pengalaman nyata melalui aktivitas bermain.

"Kita ingin menghadirkan generasi yang tumbuh melalui pengalaman, bukan hanya dari layar digital. Karena itu, perlindungan di ruang digital harus dibarengi dengan semakin banyak kesempatan bagi anak-anak untuk bermain, bergerak, berinteraksi, dan mengenal budaya lokal yang menjadi bagian dari pembentukan karakter mereka," ujarnya.

Adapun Festival "Generasi Berani Exploring – Biarkan Mereka Berlari" diinisiasi oleh Betadine Indonesia berkolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, komunitas, media, tenaga kesehatan, pendidik, dan keluarga untuk menghadirkan ruang bermain yang sehat bagi anak sekaligus memperkuat perlindungan anak di era digital melalui pendekatan budaya.

Festival yang digelar menjelang Hari Anak Nasional 2026 itu juga diisi dengan diskusi publik, olahraga keluarga, permainan edukatif, serta peluncuran Buku Saku Inspirasi Aktivitas Anak dan Keluarga yang memuat berbagai inspirasi aktivitas positif di luar paparan layar digital. Kegiatan tersebut turut mendukung implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).

Baca juga: Dukungan rasa aman bantu anak untuk melapor kekerasan

Baca juga: Kemenkes: Perlindungan anak dari bahaya digital dimulai dari keluarga

Baca juga: Kowani tegaskan komitmen perlindungan anak dan penguatan keluarga

Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.