Membaca jejak patahan Surabaya - ANTARA News Kalimantan Barat

September 2026 · 5 minute read

Surabaya (ANTARA) - Kota besar dibangun dengan berbagai upaya untuk mengendalikan risiko. Jalan diperlebar, sungai ditata, gedung diperkuat, dan teknologi digunakan untuk meningkatkan keamanan.

Namun, ada risiko yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia, yakni pergerakan bumi.

Perbincangan mengenai patahan di Kota Surabaya, Jawa Timur mengingatkan bahwa kota ini tidak sepenuhnya bebas dari risiko geologi. Informasi mengenai sesar yang melintasi Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan menyebar luas, terutama melalui media sosial.

Di tengah arus informasi tersebut, masyarakat perlu menempatkan dua hal secara seimbang. Tidak perlu panik, tetapi risiko juga tidak boleh diabaikan. Kesiapsiagaan harus dibangun berdasarkan data, kajian ilmiah, dan latihan yang nyata.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya menyebut jalur patahan Kendeng memiliki dua segmen yang berkaitan dengan Surabaya, yakni Segmen Surabaya dan Segmen Waru. BPBD juga rutin melakukan sosialisasi kesiapsiagaan di permukiman, sekolah, dan perkantoran.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Rozikan menyebut pemutakhiran data geologi, geofisika, dan geodesi yang dirujuk dalam peta Pusat Studi Gempa Nasional 2024 mengenali struktur tersebut sebagai bagian dari sistem patahan yang telah ada sejak lama.

Yang perlu dipahami adalah keberadaan patahan tidak otomatis berarti gempa besar akan segera terjadi. Pusat Survei Geologi juga mencatat perlunya integrasi serta validasi data dalam pemetaan patahan di Surabaya dan sekitarnya.

Karena itu, komunikasi risiko menjadi penting. Informasi ilmiah tidak seharusnya disederhanakan menjadi anggapan bahwa Surabaya sedang menunggu gempa besar atau sebaliknya sama sekali tidak memiliki ancaman.

Risiko berada di antara kedua pemahaman tersebut.

Jejak lama

Patahan bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul karena sebuah unggahan di media sosial. Ia terbentuk melalui proses geologi yang panjang. Karena itu, keberadaan patahan di Surabaya bukan penemuan yang baru terjadi.

Pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Amien Widodo, menjelaskan keberadaan patahan di Surabaya telah menjadi objek penelitian sebelumnya. Penelitian ITS bersama Pusat Survei Geologi dan Badan Geologi yang dipublikasikan pada 2024 mengidentifikasi Patahan Surabaya dan Patahan Waru.

Namun, keberadaan patahan tidak serta-merta cukup untuk menyebutnya aktif. Penetapan status tersebut membutuhkan bukti dan kajian ilmiah lebih lanjut. Patahan yang melewati Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan memang teridentifikasi, tetapi tingkat aktivitasnya tidak boleh disimpulkan hanya dari informasi yang beredar.

Catatan itu menunjukkan pentingnya memberikan informasi yang utuh kepada masyarakat. Istilah sesar aktif tanpa konteks dapat menimbulkan anggapan bahwa gempa tinggal menunggu waktu, padahal ilmu kebumian bekerja berdasarkan bukti, pengukuran, dan probabilitas.

Berdasarkan peta PuSGen 2024 yang dirilis BMKG, Segmen Surabaya berpotensi memicu gempa dengan magnitudo maksimum 6,7, sedangkan Segmen Waru mencapai 6,8. Laju pergerakan kedua segmen ini juga berbeda, yaitu sekitar 0,5 milimeter per tahun untuk Segmen Surabaya dan 1 milimeter per tahun untuk Segmen Waru.

Angka itu penting untuk perencanaan risiko, tetapi tidak berarti gempa dengan magnitudo tersebut pasti terjadi pada waktu tertentu. Potensi seharusnya menjadi dasar kesiapsiagaan, bukan sumber kepanikan.

Dampak gempa juga tidak hanya ditentukan oleh magnitudo. Kondisi tanah, jarak sumber gempa, kedalaman, kualitas bangunan, kepadatan penduduk, dan kesiapan masyarakat ikut menentukan tingkat kerusakan dan korban.

Gempa merupakan gejala alam, sedangkan bencana juga dipengaruhi oleh kerentanan manusia dan lingkungan. Karena itu, mengurangi kerentanan merupakan ruang yang paling memungkinkan untuk dikerjakan.

Bangunan aman

Perdebatan mengenai status keaktifan patahan Surabaya seharusnya tidak menjadi satu-satunya fokus. Hal yang jauh lebih krusial adalah sejauh mana kesiapan Surabaya dalam menghadapi potensi guncangan di masa depan.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi telah menyampaikan rencana berkoordinasi dengan ITS untuk memasang alat pemantau pergerakan sesar. Anggaran dan waktu pelaksanaannya masih dibahas. Langkah tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan basis data kebencanaan kota.

Namun, alat pemantau saja tidak cukup. Data yang dihasilkan harus terhubung dengan pengambilan keputusan. Surabaya membutuhkan sistem yang menghubungkan pemantauan geologi, peta risiko, tata ruang, standar bangunan, jalur evakuasi, pendidikan kebencanaan, dan komunikasi publik.

Pembangunan baru perlu memperhitungkan risiko gempa dengan mengacu pada standar yang berlaku. Salah satu pedoman utama perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung maupun non-gedung adalah SNI 1726:2019.

Tantangan lainnya adalah bangunan yang sudah berdiri. Surabaya memiliki rumah lama, sekolah, rumah sakit, perkantoran, rumah ibadah, pusat perbelanjaan, jembatan, dan berbagai fasilitas publik yang terus digunakan.

Karena itu, mitigasi perlu mencakup pemeriksaan kerentanan bangunan secara bertahap, terutama fasilitas yang berkaitan dengan keselamatan publik. Sekolah, rumah sakit, pusat layanan darurat, dan bangunan pemerintahan layak menjadi prioritas.

Latihan evakuasi juga tidak kalah penting. Warga tidak cukup mengetahui bahwa jalur evakuasi tersedia. Mereka perlu memahami ke mana harus bergerak, bagaimana melindungi diri ketika guncangan berlangsung, serta lokasi titik kumpul.

BPBD dan BMKG telah mendorong masyarakat mengandalkan informasi resmi dan memahami prinsip perlindungan diri saat gempa. Pengetahuan tersebut perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan yang sederhana dan mudah dilakukan.

Surabaya memiliki modal penting berupa pemerintahan kota, perguruan tinggi, lembaga kebencanaan, komunitas, dan masyarakat yang dapat bekerja bersama. Kekuatan tersebut semestinya diarahkan untuk membangun budaya kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi.

Patahan tidak perlu menjadi sumber ketakutan baru. Keberadaannya justru dapat menjadi pengingat bahwa kota tangguh bukan kota tanpa risiko, melainkan kota yang mengenali risikonya dan terus mengurangi kerentanannya.

Upaya mitigasi tidak berhenti pada pemasangan sensor. Langkah ini juga mencakup pemutakhiran peta, penguatan standar bangunan, pemeriksaan fasilitas publik, edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, hingga komunikasi yang jujur mengenai apa yang sudah diketahui dan apa yang masih perlu diteliti.

Surabaya tidak harus menunggu gempa untuk belajar menghadapi gempa. Sebelum tanah benar-benar bergerak, kota ini masih memiliki waktu untuk memperkuat bangunan, menata ruang, mengedukasi masyarakat, dan memastikan sistem informasi berfungsi dengan baik.

Di tengah riuhnya kabar tentang patahan, pesan utamanya tetap sederhana: jangan panik, tetapi jangan lengah. Ketangguhan sebuah kota tidak diukur dari seberapa sering ia mengklaim dirinya aman, melainkan dari seberapa serius ia bersiap menghadapi risiko.

Pewarta: Abdul Hakim
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.