iklim schmidt-ferguson – Memahami iklim Schmidt-Ferguson sangat penting bagi mahasiswa geografi, pertanian, hingga kehutanan. Di negara tropis seperti Indonesia, variasi suhu harian tidak terlalu signifikan. Faktor utama yang membedakan kondisi cuaca dan ekosistem antarwilayah adalah pola curah hujan bulanan.
Sistem klasifikasi ini berfokus pada tingkat kebasahan suatu daerah berdasarkan perbandingan Bulan Kering (BK) dan Bulan Basah (BB). Artikel ini mengupas pengertian, perbedaan dengan metode lain, rumus perhitungan nilai Q, pembagian tipe iklim, hingga dampaknya terhadap perubahan iklim.
Daftar Isi
- Apa Itu Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson?
- Perbedaan Iklim Schmidt-Ferguson dan Oldeman
- Indikator Bulan Basah, Lembap, dan Kering
- Rumus Menghitung Nilai Q (Koefisien Schmidt-Ferguson)
- Pembagian 8 Tipe Iklim Schmidt-Ferguson
- Contoh Soal Perhitungan Iklim Schmidt-Ferguson
- Kasus Data Curah Hujan
- Langkah Penyelesaian
- Manfaat Praktis Klasifikasi Iklim
- Dampak Perubahan Iklim terhadap Pergeseran Peta Iklim
- Kesimpulan
- Kategori Ilmu Biologi
- Materi Biologi
- Kategori Ilmu Biologi
- Materi Biologi
Iklim Schmidt-Ferguson adalah sistem klasifikasi iklim yang mengukur tingkat kebasahan atau kekeringan wilayah tropis berdasarkan data curah hujan bulanan. Metode ini dikembangkan oleh F.H. Schmidt dan J.H.A. Ferguson pada tahun 1951.
BMKG memaparkan bahwa metode ini dirancang khusus untuk negara tropis seperti Indonesia. Berbeda dengan iklim Köppen yang menekankan faktor suhu dan vegetasi, Schmidt-Ferguson murni berfokus pada rasio curah hujan bulanan dalam kurun waktu pengamatan panjang (10–30 tahun).
Perbedaan Iklim Schmidt-Ferguson dan Oldeman
Meski sama-sama berbasis curah hujan di Indonesia, metode Schmidt-Ferguson dan Oldeman memiliki kegunaan serta batasan indikator yang berbeda:
-
Pencetus dan Tahun: Schmidt-Ferguson dicetuskan oleh F.H. Schmidt & J.H.A. Ferguson (1951), sedangkan Oldeman dibuat oleh L.R. Oldeman (1975).
-
Fokus Utama: Schmidt-Ferguson ditujukan untuk sektor kehutanan, vegetasi alami, dan pemetaan wilayah secara umum. Oldeman dirancang khusus untuk pertanian tanaman pangan (seperti padi sawah dan palawija).
-
Bulan Basah (BB): Schmidt-Ferguson menetapkan curah hujan lebih dari 100 mm/bulan, sedangkan Oldeman menetapkan curah hujan lebih dari 200 mm/bulan.
-
Bulan Lembap (BL): Schmidt-Ferguson menetapkan 60–100 mm/bulan, sedangkan Oldeman menetapkan 100–200 mm/bulan.
-
Bulan Kering (BK): Schmidt-Ferguson menetapkan curah hujan kurang dari 60 mm/bulan, sedangkan Oldeman menetapkan curah hujan kurang dari 100 mm/bulan.
-
Metode Penentuan: Schmidt-Ferguson menggunakan perhitungan nisbah/Nilai Q (rasio persentase BK/BB), sedangkan Oldeman menghitung jumlah Bulan Basah dan Kering secara berurutan.
-
Hasil Tipe Iklim: Schmidt-Ferguson menghasilkan 8 Tipe Iklim (kategori A sampai H), sedangkan Oldeman menghasilkan 5 Zona Utama (A–E) dan 4 Sub-zona.

Indikator Bulan Basah, Lembap, dan Kering
Sebelum menghitung rumus, curah hujan bulanan dikelompokkan ke dalam tiga kriteria:
-
Bulan Basah (BB): Curah hujan > 100 mm/bulan. Pasokan air hujan melebihi tingkat penguapan.
-
Bulan Lembap (BL): Curah hujan 60 – 100 mm/bulan. Ketersediaan air seimbang dengan penguapan.
-
Bulan Kering (BK): Curah hujan < 60 mm/bulan. Laju penguapan lebih tinggi daripada curah hujan.
Catatan: Dalam perhitungan rumus Schmidt-Ferguson, hanya jumlah Bulan Kering (BK) dan Bulan Basah (BB) yang dihitung. Bulan Lembap (BL) tidak dimasukkan ke dalam rumus.
Rumus Menghitung Nilai Q (Koefisien Schmidt-Ferguson)
Penentuan tipe iklim menggunakan indikator Nilai Q (rasio persentase tingkat kekeringan). Rumusnya adalah:
$$\text{Nilai } Q = \left( \frac{\text{Rata-rata Jumlah Bulan Kering (BK)}}{\text{Rata-rata Jumlah Bulan Basah (BB)}} \right) \times 100\%$$
-
Nilai Q makin kecil: Wilayah tersebut makin basah karena Bulan Basah mendominasi.
-
Nilai Q makin besar: Wilayah tersebut makin kering karena Bulan Kering mendominasi.
Pembagian 8 Tipe Iklim Schmidt-Ferguson
Berdasarkan besarnya nilai Q, Schmidt dan Ferguson membagi iklim menjadi 8 tipe utama:
-
Tipe A (Sangat Basah): Nilai $Q < 14,3\%$. Memiliki ciri khas hutan hujan tropis yang sangat lebat dan selalu hijau sepanjang tahun.
-
Tipe B (Basah): Nilai $14,3\% \le Q < 33,3\%$. Merupakan area hutan hujan tropis dengan musim kemarau yang singkat.
-
Tipe C (Agak Basah): Nilai $33,3\% \le Q < 60\%$. Berupa hutan rimba dengan guguran daun yang tergolong ringan saat musim kering.
-
Tipe D (Sedang): Nilai $60\% \le Q < 100\%$. Berupa hutan musim (monsoon forest) yang meranggas atau menggugurkan daun saat musim kemarau.
-
Tipe E (Agak Kering): Nilai $100\% \le Q < 167\%$. Didominasi padang rumput atau sabana terbuka dengan periode kemarau yang panjang.
-
Tipe F (Kering): Nilai $167\% \le Q < 300\%$. Berupa area hutan sabana dan kawasan semak belukar kering.
-
Tipe G (Sangat Kering): Nilai $300\% \le Q < 700\%$. Merupakan wilayah padang ilalang dengan vegetasi alami yang sangat langka.
-
Tipe H (Ekstrem Kering): Nilai $Q \ge 700\%$. Daerah sabana yang sangat tandus hingga kondisinya mendekati gurun.
Contoh Soal Perhitungan Iklim Schmidt-Ferguson
Kasus Data Curah Hujan
Data curah hujan bulanan di Stasiun X selama satu tahun (dalam mm):

Langkah Penyelesaian
-
Pengelompokan Bulan:
-
Bulan Basah (CH > 100 mm): Jan, Feb, Mar, Apr, Okt, Nov, Des (7 bulan).
-
Bulan Lembap (60–100 mm): Mei, Sep (2 bulan — diabaikan dalam rumus).
-
Bulan Kering (CH < 60 mm): Jun, Jul, Ags (3 bulan).
-
-
Perhitungan Nilai Q:
$$\text{Nilai } Q = \left( \frac{3}{7} \right) \times 100\% = 42,85\%$$
-
Penentuan Tipe Iklim:
Nilai $Q = 42,85\%$ masuk ke dalam rentang $33,3\% \le Q < 60\%$. Jadi, Stasiun X memiliki Tipe Iklim C (Agak Basah).
Manfaat Praktis Klasifikasi Iklim
Metode Schmidt-Ferguson memberikan dampak nyata dalam berbagai bidang:
-
Sektor Pertanian & Perkebunan: Menjadi acuan pola tanam komoditas. Tanaman kopi dan cokelat tumbuh optimal di iklim B dan C, sedangkan tebu lebih cocok di iklim D.
-
Pengelolaan Kehutanan: Membantu pemetaan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), terutama pada tipe iklim E, F, dan G.
-
Tata Ruang & Sumber Daya Air: Menjadi dasar perencanaan waduk, saluran irigasi, dan pasokan air bersih saat bulan kering.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Pergeseran Peta Iklim
Pemanasan global telah memicu pergeseran pola sirkulasi angin muson dan Suhu Permuncak Laut (SST). Akibatnya, peta iklim di Indonesia mengalami perubahan signifikan:
-
Pengeringan Zona: Wilayah yang dulunya beriklim B atau C bergeser menjadi iklim D atau E karena periode Bulan Kering bertambah panjang, seperti di Jawa Bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara.
-
Ketidakpastian Musim Tanam: Awal musim hujan makin sulit diprediksi, sehingga jadwal tanam tradisional tidak lagi presisi.
-
Pergeseran Zona Ekologis: Kenaikan suhu membuat garis vegetasi di lereng pegunungan bergeser naik ke elevasi yang lebih tinggi.
Kesimpulan
Sistem iklim Schmidt-Ferguson terbukti efektif untuk memetakan kondisi kebasahan wilayah tropis secara praktis. Dengan memahami perhitungan nilai Q dan pembagian 8 tipe iklimnya, para praktisi dapat merancang strategi mitigasi bencana, pola tanam agraris, serta pengelolaan sumber daya air secara lebih akurat di tengah ancaman perubahan iklim global.

