Jumat 24 Jul 2026 14:06 WIB
•
Oleh: Karta Raharja Ucu
REPUBLIKA.CO.ID, Bisnis prostitusi di Indonesia sudah lestari sejak zaman kompeni. Di Depok, Satpol PP baru saja membongkar 25 bangunan liar yang memakan sepadan jalan dan berdiri di atas saluran air. Bukan sekadar merusak estetika kota, puluhan bangunan liar itu juga meresahkan masyarakat karena ada praktik prostitusi terselubung yakni kopi pangku.
Sebelum warung kopi atau bahasa kerennya coffeshop bertebaran bak layangan di langit sore seperti sekarang, di periode penjajahan Kompeni, warung kopi sejatinya sudah bertebaran di wilayah Hindia Belanda. Namun, tidak hanya warung kopi yang benar-benar menjual cita rasa minuman hitam tersebut, warung yang menjual kopi dengan tambahan servis plus-plus dari pramusaji juga sudah ada. Di era sekarang warung remang-remang tersebut dikenal dengan istilah "Kopi Pangku".
"Kopinya diminum, penjualnya dipangku", begitu kira-kira ucapan nyeleneh para pelanggannya.
Warung kopi yang menyediakan pelayanan seksual yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia memiliki berbagai istilah. Selain Warkopang (Warung Kopi Pangku), ada juga sebutan Warung Kopi Senang, Warung Kopi Pangkon, atau Dakocan yang merupakan akronim dari Dagang Kopi Cantik. Istilah-istilah ini mengerucut kepada satu penjelasan, pramusaji yang menjual kopi berparas ayu, berpakaian seksi, dan bersedia memberikan pelayanan tambahan.
Penasaran dengan aktivitas warung kopi pangku, saya menemui seorang pelanggannya, sebut saja namanya Son. Sambil berbincang santai, Son menceritakan pengalamannya menjadi pelanggan kopi pangku di wilayah Cibitung. "Istilahnya Cibitung TB, tenda biru," kata Son membuka percakapan.
Sepanjang hidupnya, Son mengaku baru tiga kali mendatangi warung kopi remang-remang tersebut. Dia datang tak sendiri, tetapi bersama teman-temannya tiga hingga enam orang. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk bersenang-senang.
"Kopi pangku buat gue pribadi lumayan seru. Karena ada rasa penasaran. Namanya juga laki-laki," kata Son sembari tertawa.
Son merawikan, harga kopi di Warkopang tidak jauh berbeda dengan di warkop-warkop biasa. Sekitar Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Namun, di Warkopang tarifnya bisa menjadi lebih mahal jika mendapatkan layanan tambahan dari pramusajinya.
Nongkrong di Warkopang menurut dia bukan tanpa alasan. Sembari berkelakar pria berusia 43 tahun itu menyebut membeli kopi di Warkopang bisa menggerakan perekonomian rakyat kecil.
"Kan buat (bantu) ekonomi yang jual juga. Meski harga kopinya biasanya tiga ribu, di sana harganya bisa lima ribu. Mba-mba-nya juga asyik diajak ngobrol. Suka nanya-nanya, 'dari mana Mas, kerja di mana'. Seru aja," ujar Son.
Namun Son tak bisa berkelit dan mengakui tujuan utamanya pergi ke Warkopang bukan hanya untuk berbincang basa-basi dengan pramusaji. Ia mengaku datang ke Warkopang yang dinilainya cukup nyaman untuk selonjoran dan menghilangkan pegal-pegal serta rasa suntuk.
"Sekalian nganu juga karena mba-mba-nya manis sih, dirayunya juga enak. Sambil dikit-dikit megang to**t gitu," ujar Son. Apalagi Son mengungkapkan terkadang sang pramusaji suka memancing dengan membuka kancing baju. "Body penjualnya aduhai mengundang birahi, gemes," tutur dia.