Mawlana Jawi menggunakan musik kontemporer sajikan Sastra Gendhing Mataram

August 2026 · 3 minute read

Mawlana Jawi menggunakan musik kontemporer sajikan Sastra Gendhing Mataram

Senin, 31 Agustus 2026 13:08 WIB

Image Print

Musisi Mawlana Jawi menggunakan musik kontemporer sebagai medium untuk menghidupkan kembali pengetahuan dan khazanah intelektual Sastra Gendhing Mataram Islam melalui karya "Gendhing Mataram" yang dipentaskan dalam Festival Muria Raya 2026 di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. ANTARA/HO-Langgeng Center

Semarang (ANTARA) - Musisi Mawlana Jawi menggunakan musik kontemporer sebagai medium untuk menghidupkan kembali pengetahuan dan khazanah intelektual Sastra Gendhing Mataram Islam melalui karya "Gendhing Mataram" yang dipentaskan dalam Festival Muria Raya 2026 di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

"'Gendhing Mataram' dipentaskan pada malam puncak Cakramanggilingan Festival Muria Raya 2026 di Desa Jepalo, Sabtu (29/8), sebagai bagian dari Program Manaqib Nagari: Persembahan Para Salik untuk Negeri yang digagas Langgeng Culture Center," kata Direktur Langgeng Culture Center W. Sanavero dihubungi di Blora, Jawa Tengah, Senin.

Ia menjelaskan, karya tersebut lahir dari eksplorasi Mawlana Jawi terhadap keterkaitan musik, sastra Jawa, tasawuf, manuskrip klasik, dan tradisi lisan untuk membaca kembali pengetahuan Islam yang berkembang di Nusantara.

Salah satu sumber utama eksplorasi tersebut adalah "Serat Sastra Gendhing" karya Sultan Agung Hanyakrakusuma. Karya tersebut menunjukkan adanya persinggungan antara pengetahuan, spiritualitas, sastra, dan musik dalam tradisi Mataram Islam.

Eksplorasi Mawlana Jawi terhadap khazanah tersebut telah berlangsung sejak 2022 melalui sejumlah karya, antara lain "Gema dan Suara", "Alif (Sastro Gending)", dan "La Ta’ayyun Sastro Gending".

Eksplorasi itu kemudian dikembangkan pada 2026 melalui Laboratorium Musik Suluk Sultan Agung yang berfokus pada penciptaan, interpretasi, dokumentasi, dan diseminasi pengetahuan Mataram Islam.

Dalam pementasan di Desa Jepalo, "Sastra Gendhing" diterjemahkan ke dalam format musik kontemporer. Mawlana Jawi tampil berkolaborasi dengan Denny Dumbo pada perkusi dan synthesizer serta Danar Agung pada bass dan gitar.

Direktur Langgeng Culture Center W. Sanavero mengatakan program Manaqib Nagari tidak hanya bertujuan mempertahankan bentuk tradisi, tetapi juga menggali pengetahuan dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya.

"Yang kami rawat bukan sekadar bentuk tradisinya, tetapi pengetahuan dan kebijaksanaan yang berada di balik tradisi itu. Karya Mas Mawlana Jawi ini sangat eksploratif bagi awam seperti kami, sekaligus menjadi gagasan baru dalam memahami konsep atau khazanah para pujangga masa lalu." katanya.

Menurut dia, penerjemahan pengetahuan oleh Mawlana Jawi tersebut melalui musik kontemporer menjadi salah satu cara untuk menghadirkan pendekatan baru bagi masyarakat dalam memahami warisan masa lalu.

Musik dalam Program Manaqib Nagari, kata Sanavero, ditempatkan sebagai medium untuk merefleksikan perjalanan peradaban dan kehidupan bersama, bukan semata-mata sebagai sarana hiburan.

Ia menegaskan pementasan "Sastra Gendhing" tidak dimaksudkan untuk mengagungkan masa lalu Mataram, tetapi untuk melihat kembali relevansi pengetahuan yang berkembang pada masa tersebut dengan kehidupan Indonesia saat ini.

Dalam kesempatan tersebut, Mawlana Jawi juga berharap atas karya-karya seperti Sultan Agung, Ronggowarsito, Sunan Kalijogo, menjadi rasa syukur sebagai warisan sekaligus teladan.

"Karya ini saya persembahkan untuk semua orang, siapapun yang ingin mengenali kembali akar Bangsa kita di Nusantara. Bagi saya, lebih dari sekedar interpretasi musik namun juga pengetahuan yang saya secara pribadi ikhtiar belajar kembali dan merawat khazanah-khazanah itu," ujar Mawlana Jawi.

Pementasan tersebut sekaligus mempertemukan dua lanskap kebudayaan Jawa, yakni Muria sebagai ruang spiritual dan kultural masyarakat pesisir Jawa dengan Mataram sebagai salah satu sumber tradisi intelektual Jawa-Islam.

"Manaqib Nagari: Persembahan Para Salik untuk Negeri merupakan program kebudayaan Langgeng Culture Center yang mempertemukan seni pertunjukan, sastra, musik, spiritualitas, dan pembacaan sejarah sebagai ruang refleksi mengenai manusia, negeri, ingatan, dan arah kehidupan bersama," ujarnya.

Pewarta: Teguh Imam Wibowo
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.