Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, berhasil mengoptimalkan lahan "tidur" seluas 1.700 meter persegi menjadi kebun cabai dan mampu memproduksi sekitar 20 kilogram cabai segar pada panen perdana.
"Alhamdulillah, hari ini (Senin, 7/9/2026) kami berhasil panen perdana sekitar 20 kilogram cabai," kata Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram Lalu Johari usai kegiatan panen perdana cabai di Kelompok Cabai Harum Pagutan, Kota Mataram, Senin.
Kegiatan panen perdana cabai tersebut dilakukan langsung oleh Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana, Sekda Kota Mataram Lalu Alwan Basri, Ketua TP PKK Kota Mataram Kinnastri Mohan Roliskana serta sejumlah pejabat terkait lainnya.
Menurutnya, cabai yang dipanen hari ini berusia sekitar tiga bulan lebih karena mulai di tanam pada 20 Mai 2026, dengan memanfaatkan lahan tidak produktif atau lahan "tidur" di kawasan Pagutan dekat Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan.
Dalam proses tanam, dilakukan secara swadaya dan bantuan kemitraan sehingga dilakukan penanaman secara bertahap. Dengan demikian, kegiatan panen juga akan dilakukan bertahap hingga sekitar enam bulan ke depan.
"Selain cabai, kami juga menanam tomat di bagian pinggir untuk mengoptimalkan lahan yang ada," katanya.
Hasil panen cabai di tersebut, diarahkan ke Dinas Perdagangan Kota Mataram untuk dijual melalui Kolaborasi Operasi Pasar Keliling (Kopling), sehingga harga jual ke masyarakat di bawah harga pasar.
Hal itu sesuai dengan tujuan gerakan tanam cabai, yakni untuk membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat, mendekatkan layanan, dan memberikan harga di bawah harga pasar, sekaligus menekan inflasi.
"Cabai merupakan komoditas pertanian yang sering kali menyumbang inflasi. Pada musim-musim tertentu harganya bisa di atas Rp100.000 per kilogram," katanya.
Sementara Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana, memberikan apresiasi kepada Dinas Pertanian Kota Mataram atas keberhasilan mengelola dan menyulap lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi areal tanam cabai subur dan produktif.
Terkait dengan itu, Pemerintah Kota Mataram juga mendorong optimalisasi lahan tidak produktif atau lahan "tidur" untuk dijadikan kawasan pertanian untuk menopang perekonomian warga sekaligus menjaga ketersediaan pangan daerah.
Wali Kota Mataram telah menginstruksikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram untuk melakukan pendataan terhadap aset-aset lahan tidur milik Pemerintah Kota Mataram untuk menduplikasi skema pemanfaatan lahan produktif.
Sementara terkait skema pembiayaan, wali kota mengatakan program perluasan dan pemanfaatan lahan tetap mengedepankan pola non APBD dengan memberdayakan Kelompok Tani (Poktan) maupun Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sekitar.
"Polanya tetap swadaya atau dikelola oleh kelompok tani, tentu dengan pendampingan Dinas Pertanian," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026