Manisnya tebu entaskan Kabupaten Sumba Timur dari predikat 3T
Senin, 7 September 2026 15:56 WIB
Sebanyak 10 pimpinan redaksi media nasional berkunjung ke SMK Negeri 2 Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Rabu (2/9/2026) (ANTARA/Anwar Maga)
Kupang (ANTARA) - Belasan perempuan berbalut kain khas Sumba Timur bergerak anggun dan mempesona saat menampilkan tarian Kabokang diiringi tabuhan gong dan tambur.
Tarian sakral penanda sukacita dan rasa hormat itu dibawakan oleh penari perempuan yang berstatus siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Waingapu, di Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), saat menyambut kedatangan 10 pimpinan media nasional yang datang ke sekolah itu dalam rangkaian "Trip Manisnya Sumba".
Tamu itu kemudian diajak oleh guru dan kepala sekolah SMK Negeri 2 Waingapu menyaksikan aktivitas anak bangsa pada jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO), Teknik Konstruksi dan Perumahan (TKP), Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), Teknik Energi Surya, Hidro, dan Angin (TESHA), dan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT).
SMK Negeri 2 Waingapu menjalin kerja sama dengan PT Muria Sumba Manis (MSM) selaku perusahaan agribisnis perkebunan dan pengolahan tebu milik Grup Djarum yang berlokasi di Desa Wanga, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, NTT.
PT MSM merupakan perusahaan yang mengembangkan perkebunan di lahan kering Sumba Timur dengan investasi besar untuk mendukung swasembada gula nasional.
Perusahaan yang menginduk ke PT Hartono Plantation Indonesia (HPI Agro) atau Grup Djarum itu didirikan pada 2014 dan mulai beroperasi sekitar 2018. Fokus usahanya pada sektor perkebunan tebu terpadu dan pabrik pengolahan gula modern pertama di NTT.
PT Djarum Grup menanamkan modalnya senilai Rp9,2 triliun dengan luasan lahan 20 ribu hektare dengan sistem hak guna pakai (HGP) 30 tahun.
Dalam pelaksanaannya, perusahaan itu telah membangun pabrik gula di kawasan pertanian tersebut untuk bisa memanfaatkan bahan baku tebu yang ada di sana. Selain itu juga akan membuka peluang tenaga kerja warga lokal di perusahaan tersebut.
Pabrik gula yang dibangun ini memiliki kapasitas total 12.000 tons cane per day (TCD) dan terintegrasi dengan perkebunan tebu milik perusahaan.
Pabrik gula yang dibangun Muria Sumba ini menggunakan technology fully automatic control yang dilengkapi dengan unit dekolorisasi sehingga diharapkan produk yang dihasilkan dapat masuk ke pasar B2B untuk gula industri.
Pabrik yang mulai beroperasi penuh pada tahun 2020 ini diharapkan dapat menghasilkan 1.200 ton gula kristal putih dan gula kristal rafinasi setiap harinya selama masa panen tebu dalam empat bulan, yakni pertengahan Juli hingga pertengahan Oktober setiap tahun.

Tebu terbaik
Managing Director PT MSM Budi Hediyana mengatakan pihaknya bertekad menjadi penghasil tebu terbaik secara nasional di Indonesia.
"Potensi sinar matahari dan infrastruktur yang terus dilakukan di Pulau Sumba diharapkan bisa mempercepat investasi sehingga akan dapat menghasilkan tebu yang lebih manis dan ini akan menjadi tebu terbaik nasional, serta membantu swasembada gula nasional," kata Budi Hediyana.
Tebu yang dihasilkan memiliki rendemen sampai 21 persen, tiga kali lipat rata-rata rendemen nasional.
Ia menyebut sampai 2031 lahan yang ditanami tebu ditargetkan dapat mencapai 10 ribu hektare, atau tambah 1.000-an hektare tiap tahun.
Usaha perkebunan tebu di Pulau Sumba tidaklah mudah karena daerah itu merupakan kawasan semi-arid atau kering.
Tekstur tanah di Pulau Sumba umumnya berkapur dan berbatu dengan lapisan tanah subur yang dangkal (sekitar 20–30 cm) di atas bebatuan. Jenis tanahnya pun didominasi oleh jenis tanah mediteran, litosol, grumusol, dan alluvia.
Banyak wilayah lahan kering di Sumba memiliki kandungan tanah liat yang tinggi dan dengan karakteristik fisik tanah yang berkapur serta iklim kering membuat sebagian wilayahnya tampak gersang pada musim kemarau, namun kaya akan unsur hara tertentu dan membentuk lanskap unik.
Area tanam tebu di Sumba Timur berpusat di kawasan transmigrasi Melolo dan tersebar di beberapa kecamatan seperti Umalulu dan Pandawai, Kahunga Eti, Rindi, Pahunga Lodu, hingga Wula Waijelu.
MSM memanfaatkan lahan kering dan berbatu yang diubah menjadi area perkebunan tebu produktif melalui penerapan teknologi pertanian modern.
MSM juga secara aktif menyelaraskan visi dengan Wawasan Indonesia 2045, yang bertujuan untuk memposisikan Indonesia sebagai salah satu dari lima kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Sebagai bagian dari perjalanan transformatif ini, MSM memainkan peranan penting dengan berfokus pada pembangunan ekonomi di Indonesia Timur, dengan menyasar kawasan Indonesia Timur secara strategis, dan MSM berkontribusi dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan di area tersebut.
Selain itu, dalam menjalankan bisnisnya MSM selalu memegang teguh komitmen untuk memberikan yang terbaik, yakni menanamkan dan menjaga budaya inovasi yang berkelanjutan.
MSM berkreasi membina terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan kualitas proses dan produk, dan didukung investasi strategis di sektor teknologi dan penelitian, MSM terus meningkatkan standar kualitas dan efisiensinya, sehingga berada selangkah lebih maju dari tren industri.
Perusahaan ini pun membangun kerja sama seperti pada pilar pendidikan mencakup pengembangan kompetensi siswa, pelatihan guru, serta dukungan sarana dan peralatan pembelajaran untuk meningkatkan kesiapan kerja.
Selain itu, ada juga program 'satu langkah seribu asa, yakni pemberian sepatu bagi anak sekolah dan beasiswa untuk anak berprestasi.
Pada pilar sosial, ekonomi dan kebudayaan, MSM memberdayakan karya anak-anak SMK Negeri 2 Waingapu seperti membeli meja, kursi, dan papan tulis hasil produksi, yang kemudian diberikan untuk digunakan siswa SD di daerah itu.
Demi peningkatan kesejahteraan masyarakat, MSM juga membina sejumlah desa agrowisata berbasis lingkungan dan edukasi seperti penanaman pohon dan pengembangan agrowisata, penyerapan hasil pertanian masyarakat, penguatan nilai tambah dan ekonomi lokal, rumah kompos dan taman baca, hingga penguatan usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan ekonomi masyarakat.
Pada pilar ini, Desa Agrowisata Patawang yang merupakan desa binaan MSM meraih Gold Award dalam ajang CSR & Pengembangan Desa Berkelanjutan Awards 2025, yang diselenggarakan oleh Kementerian Desa, PDTT.
Pada pilar kesehatan, antara lain literasi gizi dan bantuan kaca mata kepada masyarakat, bantuan bak sampah dan bantuan pencegahan kebakaran. Semuanya merupakan program berkelanjutan lima tahunan.

Keluar dari daerah tertinggal
Kiprah MSM di Pulau Sumba setidaknya turut membawa kemajuan bagi daerah dan masyarakat di sana hingga Kabupaten Sumba Timur, sebagai salah satu dari 22 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), berhasil keluar dari predikat daerah tertinggal atau daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) yang mengalami keterbatasan akses, infrastruktur, serta pelayanan dasar.
Sebelumnya, Sumba Timur dikategorikan sebagai daerah tertinggal sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2020, bersama tiga kabupaten lainnya di NTT yakni Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, dan Sabu Raijua yang masih menyandang status tertinggal berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Selama bertahun-tahun Pemerintah Kabupaten Sumba Timur berusaha keras melalui berbagai program untuk meningkatkan lndeks Komposit Kabupaten Daerah Tertinggal, dan pihak swasta ikut membantu.
Keberhasilan ini merupakan upaya kolektif yang telah dilakukan dari berbagai pengampu kebijakan pembangunan yang diterapkan secara konsisten untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Versi Bupati Sumba Timur Khristofel Praing, berbagai pihak telah bekerja keras untuk memenuhi berbagai parameter agar bisa keluar dari status daerah tertinggal, seperti perkembangan ekonomi, peningkatan infrastruktur, pendidikan dan kesehatan.

Oleh Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.