Semua harus dipertimbangkan secara mendalam, dengan melihat kondisi diri, lingkungan, serta kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Jakarta (ANTARA) - Dalam hidup, setiap manusia pasti dihadapkan pada pilihan-pilihan penting yang menentukan arah masa depannya.
Ada keputusan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki pengaruh besar terhadap ketenangan hidup seseorang. Saya termasuk orang yang percaya bahwa keputusan hidup tidak boleh diambil secara tergesa-gesa.
Semua harus dipertimbangkan secara mendalam, dengan melihat kondisi diri, lingkungan, serta kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Sebagai anak muda yang lulus dari Fakultas Hukum UI (1971), saya pernah memiliki cita-cita besar untuk menjadi seorang pengacara.
Pada masa kuliah, profesi pengacara terlihat sangat menarik di mata saya. Seorang pengacara tampak berwibawa, pintar berbicara, dihormati banyak orang, dan memiliki kesempatan luas untuk sukses.
Saya membayangkan diri saya berdiri di ruang sidang, membela keadilan, membantu masyarakat kecil, dan memperjuangkan kebenaran.
Ketika masih mahasiswa, saya sangat bersemangat mempelajari berbagai mata kuliah hukum, mulai dari hukum pidana, hukum perdata, hingga hukum tata negara. Saya percaya bahwa hukum adalah alat untuk menciptakan keadilan dan ketertiban dalam masyarakat. Karena itu, pada awalnya saya sangat yakin bahwa jalan hidup saya adalah menjadi pengacara.
Namun, setelah saya mulai mengenal dunia praktik hukum lebih dekat, pandangan saya perlahan berubah.
Selama dua tahun (1971-1973), saya mulai melihat kenyataan bahwa dunia hukum tidak selalu berjalan ideal seperti yang diajarkan di bangku kuliah. Dalam praktiknya, terdapat banyak tekanan, kepentingan, bahkan permainan yang kadang membuat hati kecil saya merasa tidak nyaman.
Kasih Uang Habis Perkara
Salah satu hal yang paling membuat saya berpikir ulang adalah munculnya istilah yang sering terdengar di masyarakat, yaitu “KUHP” yang dipelesetkan menjadi “Kasih Uang Habis Perkara.”
Istilah ini memang terdengar seperti lelucon, tetapi di balik candaan tersebut tersimpan kritik sosial yang cukup tajam mengenai praktik-praktik yang tidak sehat dalam penegakan hukum.
Saya menyadari bahwa tidak semua orang di dunia hukum melakukan hal-hal seperti itu. Masih banyak aparat hukum dan pengacara yang jujur dan berintegritas.
Namun, saya juga tidak bisa menutup mata bahwa godaan dan tekanan dalam profesi tersebut sangat besar. Ada kalanya seseorang dipaksa menghadapi situasi sulit antara mempertahankan idealisme atau mengikuti arus demi kepentingan tertentu.
Saya kemudian mulai merenung lebih dalam. Saya bertanya kepada diri sendiri: apakah saya benar-benar siap menghadapi tekanan seperti itu sepanjang hidup? Apakah saya mampu menjaga hati dan prinsip saya dalam lingkungan yang penuh godaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus muncul dan membuat saya berpikir ulang tentang masa depan.
Pada akhirnya, setelah mempertimbangkan berbagai hal dengan matang, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan cita-cita menjadi pengacara.
Demi Negara dan Bangsa
Saya memilih jalan lain, yaitu menjadi diplomat. Keputusan ini bukan keputusan yang mudah, karena saya harus meninggalkan impian yang sejak lama saya bangun. Namun, saya percaya bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar gengsi atau penghasilan, melainkan juga tentang mencari ketenangan batin.
Menjadi diplomat memberikan suasana kerja yang berbeda bagi saya. Membela kepentingan dan demi negara dan bangsa. Bukan membela kepentingan orang perorangan, yang mampu membayar, berapa pun yang Anda minta.
Dalam dunia diplomasi, suasana lebih nyaman. Lebih mengutamakan hubungan antarnegara, kerja sama internasional serta menjaga nama baik bangsa. Saya merasa bekerja dengan pikiran lebih tenang, tanpa terus-menerus menghadapi konflik batin, konflik hukum ataupun konflik kepentingan, yang lazimnya keras serta penuh tekanan.
Sebagai diplomat, sepanjang lebih dari 30 tahun berkiprah, sering menghadapi berbagai situasi kritis. Mulai dari pembajakan pesawat Woyla di Bangkok (1981), mengawal diterapkannya konvensi hukum laut (1982), merintis upaya negara khatulistiwa untuk memagari ruang angkasa (1986), meluruskan tuduhan pelanggaran HAM di tanah air (1992), terlibat dalam upaya atasi krisis ekonomi/moneter (1998) serta menorehkan catatan sejarah atas keberhasilan Indonesia mewujudkan perdamaian di Kamboja (2002).
Keputusan berpindah profesi ini ternyata membawa dampak besar dalam perjalanan hidup. Saya merasa lebih aman, lebih damai serta lebih tenang menjalani hari-hari hingga usia lansia. Tidak hidup dalam ketakutan atau tekanan batin yang tidak ada ujungnya. Pada akhirnya, dapat menikmati pekerjaan dengan hati yang lebih ringan.
Mengabdi sebagai Akademisi
Lebih 20 tahun terakhir ini (2004-2026) saya mengabdikan diri sebagai Akademisi. Mengajar hubungan internasional di berbagai kampus di Tanah air.
Berbagi ilmu dan pengalaman dengan generasi penerus. Tentang pentingnya menjalin hubungan baik antar bangsa, kiat-kiat meningkatkan citra budaya serta kepentingan ekonomi Indonesia di mancanegara.
Pengalaman hidup ini menjadi "lesson learnt" bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari seberapa tinggi jabatan seseorang atau seberapa besar penghasilannya.
Visi dan Misi
Ada kesan-pesan serta visi dan misi dari tulisan ini: Jauh lebih penting bagi siapa pun adalah ketenangan hidup serta kedamaian hati.
Banyak orang atau tokoh terlihat sukses di luar. Tetapi sesungguhnya hidup dalam tekanan dan kegelisahan.
Hidup ini ibarat seseorang yang sedang memilih kendaraan untuk perjalanan yang jauh. Ada yang memilih kendaraan cepat, mewah, dan terlihat hebat. Namun, kendaraan itu sering rusak di tengah jalan, sehingga perjalanan penuh dengan was-was dan kecemasan.
Sebaliknya, ada yang memilih kendaraan lebih sederhana. Tetapi kuat, aman, dan nyaman hingga tujuan akhir.
Dalam pandangan saya, keputusan hidup juga seperti itu. Tidak semua pilihan yang tampak hebat akan membawa ketenangan.
Ilustrasi lain adalah tentang seorang petani yang memilih bibit terbaik sebelum menanam. Ia tidak sembarangan menanam, hanya karena tergiur, hasilnya cepat. Petani yang bijaksana akan memperhitungkan kondisi tanah, cuaca, dan yang paling penting: risiko yang mungkin terjadi.
Dengan pertimbangan yang mantap, hasil panen lazimnya akan lebih baik dan bertahan lama.
Demikian pula manusia dalam mengambil keputusan hidup. Semua perlu dipikirkan dengan hati-hati, agar tidak menyesal di kemudian hari.
Gambaran lain adalah kisah tentang dua sahabat, yang memilih jalan hidup berbeda. Sahabat pertama, memilih pekerjaan dengan penghasilan besar. Namun penuh tekanan dan risiko moral. Sahabat kedua, memilih pekerjaan yang lebih sederhana. Tetapi memberikan ketenangan serta peluang waktu bersama dengan keluarga.
Setelah puluhan tahun berlalu, sahabat kedua justru tampak lebih bahagia dan sehat. Hidupnya lebih seimbang.
Kisah seperti ini sering dijumpai dalam kehidupan nyata.
Bagi saya pribadi, keputusan meninggalkan cita-cita menjadi pengacara bukan berarti saya gagal. Sebaliknya, keputusan itu justru menjadi bentuk keberanian untuk mengenali diri sendiri. Tidak semua orang mampu mengubah arah hidup, ketika menyadari bahwa jalan yang dipilih tidak sesuai dengan hati nurani.
Sebagai manusia, kita memang harus memiliki impian. Namun, impian juga harus disertai kebijaksanaan dalam menilai kenyataan hidup. Keputusan terbaik bukanlah keputusan yang dianggap paling populer. Melainkan keputusan, yang membuat hidup kita lebih tenteram, dunia dan akhirat.
Setelah melewati perjalanan panjang kehidupan, saya semakin yakin bahwa keputusan yang dipertimbangkan secara mendalam akan membawa hasil yang lebih baik.
Pengalaman membuktikan bahwa memilih jalan hidup dengan hati-hati dapat memberikan rasa aman dan ketenangan hingga usia senja.
Pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa dalam hidup kita harus mengambil keputusan yang perlu pertimbangan secara mendalam.
Tidak melihat dari keuntungan sesaat atau gengsi semata. Tetapi memikirkan dampaknya bagi ketenangan hidup ke depan.
Keputusan yang baik adalah keputusan yang tidak hanya menguntungkan secara materi, tetapi juga membuat hati merasa nyaman dan damai. Mengingat ketenangan hidup adalah salah satu kebahagiaan terbesar yang dimiliki oleh manusia.
Semoga tulisan ini menginspirasi generasi muda. Agar tidak terburu-buru menentukan arah hidup serta berani mempertimbangkan masa depan dengan pikiran yang jernih dan berdasarkan hati nurani.
* Pengalaman Pribadi Seorang Lulusan Fakultas Hukum / Dubes Indonesia untuk Kamboja pada tahun 2000 hingga 2003
COPYRIGHT © ANTARA 2026