Istanbul (ANTARA) - Sebanyak 69.500 imigran telah kembali ke Maroko dari Ceuta, wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara, selama 30 jam terakhir usai gelombang penyeberangan massal pekan lalu.
Sumber kepolisian mengonfirmasi kepada kantor berita Spanyol, EFE, bahwa angka tersebut mencakup imigran yang telah memasuki kota otonom itu sebelum penyeberangan massal pada Kamis (30/7), serta mereka yang diperkirakan telah menyeberang ke Ceuta dan kembali ke Maroko lebih dari satu kali.
Otoritas Spanyol pada Sabtu mulai memasang barikade pengaman di pemecah gelombang perbatasan Tarajal guna mencegah penyeberangan susulan.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan sistem pengaman tersebut mencakup barikade bertenaga udara sepanjang 500 meter dengan ketinggian antara 30 hingga 70 sentimeter di atas permukaan air, serta bagian terendam hingga kedalaman satu meter.
Barikade tersebut dikombinasikan dengan pelampung berjangkar yang disediakan oleh Angkatan Laut Spanyol, sementara celah di bagian tengah tetap dibuka untuk memberi akses bagi kapal-kapal Garda Sipil dalam menjaga area perbatasan.
Gelombang kepulangan ratusan ribu imigran ke Maroko dipicu oleh pengumuman rencana repatriasi bersama antara pemerintah Spanyol dan Maroko.
Selain itu, keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar seperti toko, area komersial, dan tempat makan di Ceuta turut mendorong para imigran untuk kembali.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat jumlah korban tewas di antara para imigran yang berusaha mencapai wilayah Spanyol dari Maroko telah meningkat menjadi 67 jiwa.
Sebelumnya pada Jumat (31/7), otoritas Spanyol memperkirakan lebih dari 49.000 orang telah menyeberang ke Ceuta dengan berenang atau berjalan kaki dari Kota Fnideq di Maroko.
Situasi tersebut memaksa Madrid mengerahkan pasukan keamanan tambahan, termasuk personel angkatan bersenjata, ke wilayah tersebut.
Sumber: Anadolu
Pewarta: Yashinta Difa
Uploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.