Korea Selatan Gratiskan AI untuk Semua Warga, Bagaimana Indo

August 2026 · 5 minute read

Selular.id – Korea Selatan bersiap memberikan akses kecerdasan buatan (AI) generatif secara gratis kepada seluruh penduduknya melalui program nasional “AI for All”.

Kebijakan ini ditujukan untuk memperluas penggunaan AI hingga ke aktivitas sehari-hari, sementara Indonesia masih mengandalkan layanan AI komersial yang menawarkan akses gratis dengan kemampuan terbatas dan fitur lebih lengkap melalui skema berlangganan.

Pemerintah Korea Selatan akan mulai menguji layanan tersebut pada September 2026 sebelum diperluas secara nasional pada akhir tahun. Program ini akan melibatkan tiga konsorsium teknologi yang dipimpin SK Telecom, KT, dan Kakao. Pemerintah ingin membuat AI lebih mudah diakses masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem AI domestik.

Konsep yang ditawarkan Korea Selatan cukup berbeda dari pola layanan AI generatif yang umum digunakan konsumen saat ini. Pemerintah berencana menyediakan akses tanpa biaya dan tanpa batas penggunaan untuk layanan AI yang dapat membantu berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk layanan pemerintahan, pendidikan, hingga aktivitas sehari-hari.

Korea Ingin AI Jadi Infrastruktur Publik

Program “AI for All” lahir dari ambisi Korea Selatan untuk menjadikan AI sebagai bagian dari kehidupan masyarakat luas. Pemerintah tidak hanya ingin AI digunakan oleh pekerja teknologi atau perusahaan besar, tetapi juga oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Layanan yang dikembangkan dapat membantu warga melakukan berbagai pekerjaan, seperti mencari informasi, mendapatkan bantuan pendidikan, hingga mengakses layanan publik. Pemerintah juga menargetkan penggunaan AI untuk kebutuhan seperti bantuan pajak, pencarian hunian, dan dukungan bagi usaha kecil.

Pemerintah Korea Selatan juga memiliki kepentingan strategis yang lebih besar. Layanan tersebut akan mengandalkan model AI yang dikembangkan perusahaan domestik sehingga negara itu tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi AI dari Amerika Serikat maupun China.

Langkah ini sejalan dengan peningkatan investasi Korea Selatan terhadap AI. Pemerintah mengalokasikan sekitar US$7,2 miliar untuk sektor AI pada 2026, sekitar tiga kali lipat dibandingkan anggaran tahun sebelumnya.

Indonesia Masih Mengikuti Model Komersial

Indonesia berada dalam situasi yang berbeda. Masyarakat sudah dapat menggunakan berbagai layanan AI generatif secara gratis, tetapi akses tersebut umumnya memiliki batas penggunaan dan fitur tertentu.

ChatGPT, misalnya, menyediakan paket Free yang memungkinkan pengguna melakukan percakapan, mencari informasi melalui web, mengunggah file dan gambar, melakukan analisis data, menggunakan GPT, hingga membuat gambar. Namun, penggunaan sejumlah fitur memiliki batas tertentu dan pengguna akan diminta menunggu sampai batas tersebut direset.

Untuk kebutuhan yang lebih intensif, tersedia paket berbayar. ChatGPT Plus, misalnya, dibanderol US$20 per bulan dan memberikan batas penggunaan lebih tinggi serta akses yang lebih luas terhadap model dan fitur.

Artinya, AI generatif di Indonesia sebenarnya tidak sepenuhnya berbayar. Masyarakat masih dapat menggunakannya tanpa berlangganan, terutama untuk kebutuhan dasar. Namun, ketika penggunaan meningkat atau membutuhkan fitur yang lebih canggih, model bisnis layanan tersebut kembali mengarah ke langganan.

Pola serupa juga terlihat pada berbagai platform AI generatif lainnya. Versi gratis biasanya berfungsi sebagai pintu masuk, sedangkan kapasitas lebih besar, model tertentu, kecepatan lebih tinggi, atau fitur profesional ditempatkan pada paket berbayar.

Perbedaannya Ada di Peran Negara

Perbedaan paling mencolok antara Korea Selatan dan Indonesia terletak pada posisi pemerintah.

Di Korea Selatan, negara mengambil peran langsung sebagai penggerak akses AI. Pemerintah menyiapkan program nasional dan memilih perusahaan teknologi untuk menyediakan layanan kepada seluruh penduduk.

Indonesia sejauh ini lebih banyak berada pada posisi sebagai regulator sekaligus pengembang ekosistem digital. Penggunaan AI generatif masyarakat masih sangat bergantung pada layanan yang disediakan perusahaan teknologi.

Perbedaan ini membuat pertanyaan tentang akses AI menjadi semakin relevan. Jika AI nantinya menjadi alat penting untuk pendidikan, pekerjaan, layanan publik, dan produktivitas, apakah aksesnya cukup diserahkan kepada mekanisme pasar?

Korea Selatan tampaknya mulai menjawab pertanyaan tersebut dengan pendekatan berbeda: negara ikut membiayai akses agar AI dapat digunakan secara luas.

Gratis Bukan Berarti Tanpa Biaya

Program Korea Selatan juga menghadapi tantangan tersendiri. Memberikan akses AI kepada seluruh populasi berarti pemerintah dan operator harus menanggung biaya komputasi, server, energi, serta pemrosesan setiap permintaan pengguna.

Kekhawatiran mengenai biaya token dan keberlanjutan finansial bahkan sudah muncul sejak rencana tersebut dibahas. Token merupakan satuan yang digunakan model AI untuk memproses teks dan menghasilkan jawaban. Semakin banyak masyarakat menggunakan AI, semakin besar pula kebutuhan komputasinya.

Karena itu, istilah “gratis” dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai gratis bagi pengguna akhir. Biayanya tetap ada dan pada akhirnya harus ditanggung oleh pemerintah, operator, atau kombinasi keduanya.

Korea Selatan memilih menanggung persoalan tersebut karena melihat AI sebagai investasi strategis. Pemerintah ingin memastikan masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk menggunakan teknologi yang diperkirakan semakin menentukan produktivitas ekonomi.

Indonesia Punya Tantangan Berbeda

Indonesia memiliki populasi yang jauh lebih besar dibandingkan Korea Selatan. Memberikan akses AI generatif secara nasional berarti membutuhkan kapasitas komputasi dan infrastruktur yang sangat besar.

Di sisi lain, pola layanan berbasis langganan juga menciptakan hambatan tersendiri. Akses dasar memang tersedia gratis, tetapi pengguna yang membutuhkan kemampuan lebih tinggi harus mempertimbangkan biaya bulanan.

Kondisi tersebut membuat akses AI di Indonesia masih memiliki dua lapisan. Pengguna umum dapat memanfaatkan kemampuan dasar secara gratis, sementara pengguna profesional, perusahaan, kreator, pengembang, dan mereka yang membutuhkan penggunaan lebih intensif cenderung membutuhkan paket berbayar.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah AI tersedia secara gratis, tetapi seberapa jauh kemampuan yang bisa dinikmati tanpa membayar.

AI Gratis, Sejauh Apa?

Korea Selatan sedang mencoba menggeser batas tersebut. Pemerintahnya ingin seluruh masyarakat mendapatkan akses AI tanpa biaya penggunaan langsung, bahkan untuk berbagai kebutuhan praktis.

Indonesia belum mengambil pendekatan yang sama. AI generatif sudah tersedia dan dapat digunakan secara gratis, tetapi layanan dengan kemampuan dan batas penggunaan lebih tinggi masih mengikuti model komersial.

Perbedaan ini menunjukkan dua pendekatan terhadap teknologi yang sama. Korea Selatan mulai memperlakukan akses AI sebagai bagian dari infrastruktur strategis nasional, sementara Indonesia masih berada dalam fase membangun ekosistem dan memperluas pemanfaatan melalui layanan yang sebagian besar disediakan pemain teknologi global.

Jika AI benar-benar menjadi alat produktivitas seperti internet dan smartphone, persoalan berikutnya mungkin bukan lagi apakah masyarakat bisa mengakses AI, melainkan berapa besar kemampuan AI yang bisa mereka akses tanpa harus membayar.

Baca juga: Qualcomm Tanam Teknologi Agentic AI Ke Seluruh Lini Chipset Snapdragon