Kitab Suci Tipitaka Menggema di Candi Borobudur, Perkuat Jati Diri Umat Buddha

July 2026 · 2 minute read

AKURAT.CO Suasana khidmat menyelimuti Taman Lumbini, kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, saat ribuan umat Buddha memulai rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Sangha Theravada Indonesia (STI) bekerja sama dengan Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI), diikuti para Bhikkhu dari mancanegara, samanera, atthasilani, serta upasaka-upasika yang menjalankan Atthasila.

Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, mengatakan pembacaan kitab suci perlu dilakukan dalam upaya menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata.

Baca Juga: PPK Kemayoran Sambut Ribuan Umat Buddha dalam Gema Waisak 2026

Karena itu, kegiatan keagamaan juga dapat berkontribusi dalam membangun karakter, memperkuat kepedulian, dan menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.

"Pembangunan fisik yang nampak secara nyata di depan mata kita tentu akan rapuh kalau tidak ditopang dengan karakter yang sangat baik. Saya percaya bahwa melalui Indonesia Tipitaka Chanting ini adalah sebagai upaya untuk memberikan dan membangun jati diri umat Buddha Indonesia," kata Supriyadi, Jumat (24/7/2026).

Dia menekankan bahwa kehidupan beragama dan bernegara tidak semestinya dipandang sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya dapat saling menguatkan melalui praktik nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata.

"Kita semua menyadari sebagai umat beragama dan sebagai warga negara memiliki sebuah mandat yang sangat luhur yang harus kita jalankan agar kita bisa menjadi umat yang betul-betul taat menjalankan agamanya dan sekaligus juga menjadi warga negara yang cinta tanah air dan bertanggung jawab," tuturnya.

Menurutnya, pemahaman agama yang mendalam semestinya menumbuhkan kasih sayang dan penghormatan kepada mereka yang berbeda. Semakin dalam seseorang memahami agamanya, maka sesungguhnya mereka akan semakin luas mempunyai rasa kasih sayang dan rasa hormat kepada mereka yang berbeda.

"Kementerian Agama melalui Ditjen Bimas Buddha, berkomitmen untuk terus mendukung dan melayani umat Buddha di Indonesia," tegas Supriyadi.

Baca Juga: 4.500 Umat Buddha Doa Bersama di NICE PIK 2, Panjatkan Perdamaian dan Pemulihan Ekonomi Indonesia

Sementara itu, Ketua Panitia Indonesia Tipitaka Chanting 2026, Bhante Guttadhammo Mahāthera, menjelaskan bahwa pelantunan Kitab Suci Tipitaka bukan hanya tradisi keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat pemahaman dan penghayatan ajaran Buddha.

"Harapannya, setelah (Kitab Suci Tipitaka) dibaca, bisa direnungkan dan mengubah cara berfikir dan bertindak kita. Agar kita (umat Buddha), menjadikan Kitab Suci Tipitaka sebagai patokan, ukuran, keyakinan dan praktek kehidupan sehari-hari," harap Bhante Gutta.

Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas spiritual umat Buddha. Penghayatan terhadap isi Tipitaka diharapkan tidak berhenti pada pelafalan semata, melainkan mampu membentuk sikap, perilaku, dan kebijaksanaan yang membawa manfaat bagi sesama.