"Kiamat" Baru Hantam Inggris, Negara di Ambang Krisis Besar

August 2026 · 3 minute read

Jakarta, CNBC Indonesia - Inggris terancam menghadapi kelangkaan pasokan bahan pangan tertentu akibat gelombang kekeringan parah yang melanda sejumlah wilayah di negara tersebut. Serikat Petani Nasional (National Farmers' Union/NFU) memperingatkan bahwa situasi ini diperparah oleh gelombang panas ekstrem yang diproyeksikan masih akan berlanjut hingga pekan depan.

Mengutip laporan The Guardian, Senin (3/8/2026), Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UK Health Security Agency/UKHSA) telah merilis peringatan kesehatan cuaca panas untuk delapan wilayah di Inggris. Suhu udara diperkirakan melonjak melebihi 30 derajat Celcius, yang berisiko meningkatkan ancaman kesehatan serius bagi kelompok masyarakat rentan.

Kondisi pertanian di seluruh negeri berada dalam posisi yang sangat memprihatinkan setelah dihantam banjir besar sepanjang musim dingin lalu. Genangan air musim dingin menyulitkan proses penanaman, sementara kekeringan saat ini membatasi akses air akibat kebijakan pembatasan irigasi.

Kekeringan ini menjadi bencana ketiga yang melanda Inggris dalam lima tahun terakhir, di mana kelompok tani menilai cuaca ekstrem telah menjadi pola normal baru bagi sektor agrikultur Britania Raya. Petani gandum melaporkan tinggi tanaman mereka kini hanya separuh dari ukuran normal, memicu masa panen tercepat sepanjang sejarah di mana petani berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sisa hasil tani.

Beberapa daerah bahkan tidak mengalami hujan selama lebih dari satu bulan di tengah beberapa kali gelombang panas rekor yang mengeringkan lapisan tanah. Laporan Met Office mencatat Inggris hanya menerima 8 persen dari rata-rata curah hujan bulanan untuk periode Juli, yang berpotensi memecahkan rekor sebagai bulan Juli terkering dalam sejarah pencatatan iklim.

Presiden NFU, Tom Bradshaw, mengimbau Perdana Menteri Inggris untuk segera mengambil tindakan konkret guna menyelamatkan produksi pangan domestik. Bradshaw mendorong pemerintah memberikan insentif pajak agar para petani mampu membangun sistem penyimpanan air mandiri di lahan mereka.

"Negara-negara lain di seluruh dunia yang selama ini kita andalkan untuk memproduksi bahan makanan dan sayuran juga mengalami perubahan iklim. Sangat terasa bahwa kita akan menghadapi kelangkaan produk-produk pangan," tegas Presiden NFU, Tom Bradshaw.

Sekitar 23 juta penduduk di Inggris dan Wales kini berada di bawah aturan larangan penggunaan selang air. Cuaca terik yang mengeringkan vegetasi juga memicu kebakaran hutan dan lahan yang merusak di berbagai wilayah, termasuk yang terbaru di Suffolk.

Laporan resmi Agriculture and Horticulture Development Board (AHDB) mengonfirmasi bahwa tanaman sereal seperti gandum dan jelai menjadi komoditas yang paling terdampak. Direktur Sereal dan Biji-bijian Minyak AHDB, Anthony Hopkins, menjelaskan bahwa banyak petani terpaksa memanen pada malam hari guna menghindari paparan suhu siang hari yang terlalu ekstrem.

Analis Senior AHDB, Anthony Speight, menambahkan bahwa gambaran awal menunjukkan hasil panen sereal sangat mengecewakan di banyak area.

"Tekanan finansial bagi para pelaku usaha tani kian akut setelah mengalami berturut-turut cuaca buruk dan lonjakan biaya operasional," tuturnya.

Sektor pertanian Inggris juga makin tidak menguntungkan setelah pemerintah menghapus skema subsidi era Uni Eropa yang selama ini menopang industri tersebut. Laporan terbaru menunjukkan sepertiga petani di Inggris kini berada dalam kondisi rugi atau hanya mencapai titik impas.

(tps/șef) [Gambas:Video CNBC]