Kesehatan jiwa di balik wajah yang terlihat baik-baik saja
Minggu, 6 September 2026 11:25 WIB
Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Solo mengajak mahasiswa Red Cross Toyota College of Nursing Jepang berinteraksi dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) saat kegiatan kunjungan belajar di Griya PMI, Solo, Jawa Tengah, Selasa (1/9/2026). Kegiatan tersebut untuk mempelajari program rehabilitasi sosial yang dilakukan PMI Solo terhadap ODGJ serta tukar wawasan langsung penanganan kesehatan mental. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/wsj.
Jakarta (ANTARA) - Krisis kesehatan jiwa di Indonesia sesungguhnya bukan gejala baru, melainkan kenyataan yang baru mulai terpetakan secara menyeluruh setelah sistem skrining nasional menjangkau lebih banyak orang.
Data terbaru Kementerian Kesehatan yang dipaparkan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus dalam sesi Mental Health Awareness mencatat satu dari tujuh orang di dunia hidup dengan gangguan jiwa, dengan prevalensi yang tetap tinggi, berkisar 10 hingga 17 persen, di semua kelompok usia, dari anak-anak hingga lansia. Gangguan jiwa, bahkan menempati posisi kedua penyebab menurunnya kualitas hidup produktif masyarakat Indonesia, lebih tinggi dari diabetes maupun penyakit kardiovaskular.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi instrumen yang mengungkap skala persoalan itu secara lebih konkret. Sebanyak 33 juta penduduk telah diperiksa kesehatan jiwanya melalui program ini hingga Juli 2026, dengan gejala depresi dan cemas pada anak usia sekolah dan remaja tercatat sekitar 1,6 kali lebih besar dibandingkan pada kelompok dewasa dan lansia.
Angka ini sejalan dengan temuan yang lebih luas bahwa prevalensi depresi tertinggi secara nasional memang berada pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun, jauh melampaui kelompok usia lain. Karena skrining kini terintegrasi langsung dengan layanan kesehatan primer. Gejala yang selama ini tersembunyi di balik rutinitas sehari-hari mulai bisa dikenali sejak dini, sebelum berkembang menjadi krisis yang lebih berat.
Temuan pada kelompok pelajar memperkuat urgensi deteksi dini tersebut. Survei berbasis sekolah mencatat persentase siswa yang berpikir untuk mengakhiri hidup naik sekitar 1,6 kali lipat, dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023, sementara persentase yang mencoba mengakhiri hidup melonjak 2,7 kali lipat, dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen pada rentang waktu yang sama.
Baca juga: Kemenkes upayakan layanan kesehatan jiwa dan daycare ditanggung BPJS
Baca juga: Dinkes Sleman intensifkan skrining gangguan mental anak sekolah
Usia 11 hingga 17 tahun tercatat sebagai kelompok dengan temuan kasus tertinggi berdasarkan laporan yang diterima Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Kenaikan angka ini erat kaitannya dengan meningkatnya literasi kesehatan jiwa di kalangan generasi muda, yang membuat mereka lebih terbuka mengenali dan melaporkan gejala yang dialami dibandingkan generasi sebelumnya.
Kapasitas layanan kesehatan jiwa turut berkembang mengikuti perluasan jangkauan skrining tersebut. Kementerian Kesehatan mencatat 6.549 puskesmas kini mampu memberikan layanan kesehatan jiwa dan 1.450 rumah sakit telah memiliki layanan serupa, didukung 1.484 dokter spesialis jiwa yang tersebar di 324 kabupaten/kota serta 2.612 psikolog klinis di 311 kabupaten/kota.
Sebaran tenaga kesehatan jiwa memang belum menjangkau seluruh kabupaten/kota di Indonesia, mengingat rasio psikiater nasional masih berkisar satu berbanding 200 ribu penduduk. Sementara itu, standar ideal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia berada di angka satu berbanding 30 ribu penduduk. Kesenjangan geografis itu yang membuat pendekatan berjenjang mulai dari promotif, preventif, hingga kuratif dan rehabilitatif, menjadi salah satu cara mengatasi kekurangan tenaga kesehatan. Sebagaimana kerangka yang disusun Kemenkes agar penanganan awal tidak bertumpu semata pada ketersediaan tenaga spesialis di tiap daerah.
Pola gender dalam data kesehatan jiwa memperlihatkan sisi yang tidak selalu tampak dari angka statistik semata. Prevalensi gangguan jiwa pada perempuan tercatat 14,8 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang mencapai 13 persen, namun angka bunuh diri yang tercatat kepolisian sepanjang 2023 hingga 2025 justru didominasi laki-laki hingga 80 persen.
Berbagai kajian menjelaskan pola ini melalui perbedaan cara mengekspresikan tekanan emosional. Kaum perempuan cenderung lebih sering mencari pertolongan meski mengalami percobaan mengakhiri hidup yang tidak selalu berakhir fatal, sementara laki-laki lebih jarang mencari bantuan profesional dan ketika bertindak cenderung memilih cara yang lebih mematikan.
Berangkat dari kondisi tersebut, Kemenkes menggaungkan metode empat langkah untuk menghindari percobaan mengakhiri hidup itu terus terjadi, yakni bertanya tentang kondisi seseorang yang terlihat tidak baik-baik saja, mendengarkan ceritanya tanpa menghakimi, menemani mereka yang sedang merasa kesulitan, dan menghubungkanya dengan keluarga atau tenaga profesional.
Kenaikan angka bunuh diri yang tercatat kepolisian, dari 1.352 kasus pada 2023 menjadi 1.509 kasus pada 2025, perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas ketimbang sekadar tren yang memburuk. Sejumlah kajian epidemiologis internasional menemukan bahwa data resmi kepolisian di Indonesia selama ini hanya mencakup sebagian kecil dari estimasi kejadian sesungguhnya, karena proses pendataan yang melibatkan keluarga, aparat, dan tenaga medis kerap terhambat oleh stigma sosial di lapangan.
Oleh karena itu, kenaikan angka yang tercatat resmi kemungkinan besar justru mencerminkan sistem pendataan dan skrining yang mulai menjangkau lebih banyak kasus, sejalan dengan perluasan Cek Kesehatan Gratis dan layanan siaga krisis seperti, healing119.id, bukan indikasi bahwa upaya pencegahan berjalan mundur.
Layanan siaga krisis healing119.id menjadi bukti bahwa jalur pertolongan pertama kini semakin mudah dijangkau masyarakat. Sejak Juli 2025 hingga Juni 2026, layanan ini diakses sekitar 220 ribu klien dengan rata-rata 19 ribu orang per bulan, didukung 182 psikolog klinis relawan dari Ikatan Psikolog Klinis yang bertugas bergiliran sebanyak 60 orang setiap tiga bulan. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.400 klien menyatakan keinginan mengakhiri hidup dan mendapatkan penanganan lewat saluran telepon maupun percakapan WhatsApp.
Keberadaan kanal layanan ini memperlihatkan bahwa penanganan krisis kesehatan jiwa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kunjungan tatap muka ke fasilitas kesehatan, melainkan bisa dimulai dari percakapan sederhana yang dapat diakses kapan saja dan oleh siapa saja.
Upaya membentuk kesadaran itu juga dirintis sejak lini paling dasar, melalui buku saku Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis yang disusun untuk jenjang sekolah, perguruan tinggi, pekerja, dan masyarakat umum, berdampingan dengan panduan pengasuhan sehat jiwa bagi orang tua.
Rangkaian materi ini dirancang agar kemampuan mengenali gejala awal gangguan kesehatan jiwa, baik dari sisi fisik, emosi, maupun perilaku, tidak hanya menjadi domain tenaga profesional, melainkan bisa dimiliki siapa pun yang berada paling dekat dengan orang yang membutuhkan pertolongan.
Situasi ini sejalan dengan data global yang mencatat 727 ribu orang meninggal akibat bunuh diri pada 2021, setara satu dari setiap seratus kematian di dunia, dengan lebih dari 20 percobaan bunuh diri untuk setiap satu kematian yang terjadi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kesehatan jiwa di balik wajah yang terlihat baik-baik saja
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026