Kerupuk Kyria Rezeki, UMKM lokal go internasional

August 2026 · 7 minute read

Kerupuk Kyria Rezeki, UMKM lokal go internasional

Senin, 31 Agustus 2026 23:38 WIB

Image Print

Bonak Chandra, pemilik CV Kyria Rezeki di Tanjungpinang, Kepri, Senin (31/8/2026). ANTARA/Ogen

Tanjungpinang (ANTARA) - Perjalanan panjang Bonak (66) tahun dalam merintis usaha tidak berjalan mulus. Ia beberapa kali jatuh, lalu segera bangkit kembali. Hingga akhirnya ia berhasil membangun sebuah usaha CV Kyria Rezeki.

Kyria Rezeki termasuk dalam skala usah mikro kecil dan menengah (UMKM) yang memproduksi aneka kerupuk mentah berbahan olahan ikan laut di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Produk ini telah berhasil menembus pasar ekspor Singapura. Hampir setiap pekan, selalu ada saja permintaan pengiriman kerupuk khas dari Tanjungpinang ke negara tetangga. Jumlahnya menyesuaikan dengan permintaan pasar di sana.

"Paling banyak di akhir tahun, ekspor kerupuk mencapai dua kontainer melalui Kota Batam, untuk persiapan hari raya Imlek di Singapura," kata Bonak Chandra, pemilik CV Kyria Rezeki di Tanjungpinang, Senin (31/8).

Bonak bercerita awalnya merantau dari tanah kelahirannya Bangka Belitung pada tahun 1982. Saat itu usianya baru 22 tahun. Tiba di Tanjungpinang, ia bekerja di kedai kopi di kawasan Kampung Baru hingga akhirnya menemukan jodoh (istri) di Kota Gurindam tersebut.

Bonak sempat pindah ke Palembang membantu adiknya memproduksi kerupuk selama kurang lebih dua tahun, lalu memutuskan kembali ke Tanjungpinang.

Berbekal pengalaman yang ada, Bonak bersama istri dan adiknya mulai merintis usaha kerupuk sendiri, tepatnya di tahun 1988. Ia memanfaatkan bermacam bahan olahan ikan lalu diolah menjadi kerupuk menggunakan peralatan seadanya.

"Tanjungpinang ini daerah laut, jadi cukup mudah mencari ikan dengan harga murah, seperti ikan tongkol dan talang," ungkapnya.

Mulanya Bonak memproduksi kerupuk yang dititipkan di warung-warung kelontong, lalu di sekitar tahun 2000-an merambah ke ke toko/swalayan, bahkan berhasil masuk ke pasar Batam dan Singapura sebagai oleh-oleh dari Tanjungpinang.

Kala itu, Bonak dan keluarga memproduksi ratusan kilogram kerupuk per bulan dan sudah mempekerjakan lima orang karyawan di bagian produksi.

Seiring waktu berjalan, penjualan kerupuk semakin laris, yang kemudian memacu Bonak membangun sentra produksi kerupuk bernama CV Kyria Rezeki di Jalan Merpati, Kilometer 11, Kecamatan Tanjungpinang Timur, dengan modal pinjaman bank. Ia juga membangun hunian pribadi di lokasi tersebut.

Saat ini, CV Kyria Rezeki sudah memiliki 22 karyawan untuk mengolah hingga memproduksi berbagai jenis kerupuk dari bahan olahan ikan, cumi, udang sampai siput gonggong khas Tanjungpinang. Total produksi mencapai lima ton per bulan.

Selain itu, ia juga membangun pusat oleh-oleh khas Tanjungpinang "Pondok Gong-Gong" di Jalan Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang dan mempekerjakan lima karyawan sebagai penjaga toko.

Ada berbagai varian rasa kerupuk lezat yang diolah dan siap santap, seperti kerupuk udang, kerupuk tenggiri sampai kerupuk gonggong. Harganya bervariasi, mulai dari Rp2.000 hingga Rp18.000 per kemasan.

"Kalau harga kerupuk Rp2.000, itu kemasan kecil yang dititipkan di warung-warung kelontong, selebihnya dipasarkan di berbagai toko, swalayan, e-commerce serta diekspor," ucapnya.

Dalam setahun, CV Kyria Rezeki menghasilkan omzet sekitar Rp3 miliar. Usaha ini pun banyak mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat dan bersertifikasi Halal.

Bonak merasa senang produk UMKM lokal mampu go internasional, dan di sisi lain membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Produk Kyria Rezeki diharapkan bisa menembus pasar ekspor di berbagai negara lainnya, selain Singapura.

Bonak pun mengapresiasi peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disdagin) Kota Tanjungpinang, karena ikut membina usahanya hingga bisa berkembang sampai titik ini. Satu di antaranya, mendapatkan sertifikat Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) internasional atau keamanan pangan internasional.

"Kami pun beberapa kali dapat bantuan Disdagin, di antaranya alat pemotong kerupuk mentah," kata dia.

Sementara, Kepala Bidang Perindustrian Disdagin Kota Tanjungpinang M. Endy Febri menyampaikan pembinaan kepada pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) makanan ringan berpotensi ekspor selalu dilakukan oleh dinasnya, termasuk CV Kyria Rezeki yang sudah berstandar internasional.

Pembinaan dilakukan dari kualitas produk dan hal terkait lainnya supaya produk IKM dapat diterima pasar internasional dan mampu bersaing secara berkelanjutan.

"Kita melibatkan berbagai stakeholder terkait guna memaksimalkan ruang gerak IKM binaan Disdagin Tanjungpinang," kata Endy Febri.

Perluas pasar ekspor

Kementerian Perdagang (Kemendag) Melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) bersama Export Centre Batam turut mendampingi CV Kyria Rezeki memperluas pasar ekspor produk UMKM kerupuk olahan ikan.

Tenaga Teknis Export Centre Batam Bambang Nugianto menyebut CV Kyria Rezeki sudah didaftarkan ke dalam InaExport, yang merupakan platform resmi bisnis to bisnis (B2B) yang dikelola Ditjen PEN Kemendag RI.

Layanan itu berfungsi sebagai direktori online untuk menghubungkan pemasok (eksportir) Indonesia dengan pembeli global, mempromosikan produk, dan memfasilitasi transaksi ekspor, serta terintegrasi langsung dengan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri untuk mendukung akses pasar internasional.

"Dengan terdaftar dalam InaExport, maka calon pembeli dari luar negeri bisa melihat langsung produk-produk yang dijual, misalnya mencari kerupuk maka tinggal diklik, lalu salah satunya muncul kerupuk Kyria Rezeki dari Tanjungpinanh," kata Bambang di Batam.

Selain itu, kata Bambang, calon pembeli juga bisa menghubungi langsung CV Kyria, karena sudah dilengkapi dengan data perusahaan hingga nomor telefon.

Bambang menyebut pihaknya memang lebih fokus mendorong sekaligus membantu ekspor produk-produk UMKM, karena UMKM punya keterbatasan akses promosi hingga pemasaran.

Namun demikian, pihaknya tidak menutup kemungkinan berkolaborasi dengan industri lainnya melalui program negara tujuan ekspor baru.

"Contohnya, industri sudah punya pangsa pasar ekspor sendiri, tapi tak menutup kemungkinan bisa ditawarkan ke negara lain," ujarnya.

Sementara itu perwakilan Ditjen PEN Kemendag Adit menyampaikan sentra produksi CV Kyria Rezeki yang memproduksi berbagai produk olahan ikan laut itu sudah memenuhi standar ekspor, namun perlu ditingkatkan dari aspek kebersihan dan kesehatan, karena produk makanan sangat ketat untuk bisa masuk ke luar negeri.

Sertifikasi kesehatan sangat penting guna memastikan jangan sampai kotoran ada dalam produk yang akan diekspor.

Adit menambahkan Kemendag bersama Export Centre Batam siap mendampingi CV Kyria Rezeki mengekspor produk-produk kerupuk unggulan mereka, sesuai persyaratan yang berlaku di negara tujuan ekspor.

"Misalnya, pembeli luar negeri butuh sertifikasi keamanan pangan internasional atau SNI, kita bantu UMKM siapkan atau mengarahkan ke pihak-pihak terkait, sehingga memenuhi syarat ekspor," ucap Adit.

Pekerja mengemas produk kerupuk Kyria Rezeki di Tanjungpinang, Kepri, Senin (31/8/2026). ANTARA/Ogen

Menjual produk lewat shopee

Perlahan namun pasti, Bonak mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital guna memperluas pemasaran produk kerupuk Kyria Rezeki secara online.

Ia memanfaatkan platform e-commerce shopee untuk menjual produknya agar semakin dikenali dan mudah didapatkan oleh pelanggan.

Menurutnya aplikasi shopee menjadi salah satu platform yang sangat potensial bagi pelaku UMKM seperti dirinya, karena menyediakan akses pasar yang luas dan fitur pendukung bisnis. Aplikasi ini menjangkau jutaan pengguna dari berbagai kalangan usia.

Melalui aplikasi itu, dalam sehari ada puluhan hingga ratusan pcs kerupuk Kyria Rezeki dipesan pembeli, yang mayoritas berasal dari Pulau Bintan (Tanjungpinang dan Bintan).

Bonak tidak memasarkan produknya secara individu lewat shopee, melainkan melibatkan sejumlah pedagang online lokal, salah satunya akun M&D Shop.

Dari ulasan kolom komentar di akun tersebut, sejumlah pembeli mengaku sangat menyukai kerupuk kemasan Kyria Rezeki dengan ciri khas makanan laut ini.

"Rasanya enak. Kualitas baik dan pengirimannya juga cepat," kata salah seorang pembeli di aplikasi Shopee.

Meski penjualan produk Kyria Rezeki secara online masih relatif sedikit, tapi paling tidak cukup membantu Bonak dalam memasarkan produk secara digital di era teknologi saat ini, selain fokus pada ekspor ke Singapura.

Produk Kyria Rezeki dijual melalui aplikasi shopee. ANTARA/Ogen

Komitmen shopee dukung UMKM

Shopee Indonesia terus berkomitmen mendorong pertumbuhan laju UMKM di Indonesia.

Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia Balques Manisang mengatakan pihaknya mempunyai tiga program utama yang berkaitan dengan UMKM.

Pertama, Program Sukses UMKM Baru. Program ini memberikan pembebasan biaya layanan dan dukungan pengelolaan toko secara gratis, serta insentif Rp4 juta bagi UMKM baru yang bergabung.

Sepanjang 2025, Shopee mengalokasikan pembebasan biaya administrasi dan dukungan pengelolaan toko dengan total nilai Rp3,5 miliar. Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban awal pelaku usaha sekaligus mempercepat proses adaptasi mereka di ekosistem digital.

Kedua, Kampus UMKM Shopee Kelas Online. Program ini telah menjangkau sekitar 514 kabupaten di Indonesia.

Melalui platform ini, pelaku UMKM dapat mengakses edukasi dan pelatihan secara gratis kapan pun sesuai kebutuhan mereka.

Kurikulum yang disediakan juga fleksibel dan disesuaikan dengan tantangan nyata yang dihadapi pelaku usaha di lapangan,m

Terakhir, Shopee meluncurkan inisiatif terbaru yakni Akademi Pengajar Kampus UMKM Shopee.

Program ini dirancang sebagai training for trainers, pelatihan bagi para instruktur dan pendamping UMKM dari berbagai kementerian dan lembaga di Indonesia. Fokusnya adalah meningkatkan kapasitas dan kompetensi digital para pendamping agar mampu membimbing UMKM secara lebih efektif.

Melalui program ini, Shopee menargetkan sekitar 500 instruktur terlatih yang nantinya akan tersebar di berbagai daerah untuk memperluas jangkauan pemberdayaan UMKM.

Pewarta : OGN
Editor: Ogen
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.