Jakarta (ANTARA) - Pernah bertemu seseorang yang sebenarnya sudah beberapa kali berpapasan, lalu begitu melihat wajahnya kita langsung merasa familiar? Namun, ketika ingin menyebut namanya, mendadak otak seperti berhenti bekerja.
"Waduh, siapa namanya, ya?"
Situasi semacam ini cukup umum terjadi. Anda bisa mengingat wajah, gaya rambut, suara, bahkan tempat pertama kali bertemu seseorang, tetapi nama orang tersebut justru menghilang entah ke mana.
Ternyata, ada alasan mengapa otak manusia cenderung lebih mudah mengenali wajah dibandingkan mengingat nama.
Wajah merupakan salah satu informasi visual yang sangat penting dalam kehidupan sosial manusia. Sejak kecil, manusia terbiasa mengenali orang lain melalui wajah. Karena itu, otak memiliki jaringan yang berperan khusus dalam memproses informasi wajah.
Salah satu bagian yang banyak diteliti adalah fusiform gyrus, terutama area yang dikenal sebagai fusiform face area atau FFA. Bagian ini berkaitan dengan pemrosesan dan pengenalan wajah.
Penelitian menggunakan pencitraan otak menunjukkan bahwa proses mengingat pasangan wajah dan nama melibatkan sejumlah wilayah otak, termasuk fusiform gyrus dan hippocampus. Fusiform berperan dalam pemrosesan informasi visual wajah, sementara hippocampus berperan penting dalam proses pembentukan dan pengambilan memori.
Itu sebabnya, ketika bertemu seseorang yang pernah Anda kenal, wajahnya bisa terasa tidak asing meskipun nama orang tersebut belum muncul di kepala.
Baca juga: Meta akan hadirkan fitur pengenalan wajah di kacamata pintarnya
Nama lebih "abstrak" daripada wajah
Masalahnya, nama seseorang tidak memberikan banyak informasi mengenai orang tersebut.
Ketika mendengar kata "apel", misalnya, otak bisa menghubungkannya dengan bentuk, warna, rasa, atau benda yang pernah dilihat. Sementara nama seperti "Rina", "Budi", atau "Andi" pada dasarnya merupakan label yang diberikan kepada seseorang.
Nama tersebut tidak otomatis memberi gambaran seperti apa wajah, pekerjaan, suara, atau sifat orang yang memilikinya.
Psikolog David Ludden menjelaskan bahwa nama orang bersifat arbitrer. Nama tidak memiliki hubungan langsung dengan karakteristik fisik seseorang dan biasanya juga tidak mempunyai pengganti seperti sinonim pada kata-kata biasa. Kondisi ini membuat nama lebih sulit dipanggil kembali dari ingatan.
Jadi, Anda sebenarnya bisa saja benar-benar mengenali seseorang, tetapi informasi berupa namanya belum berhasil "tersambung" dengan wajah tersebut.
Wajah dan nama memang bisa disimpan sebagai satu kesatuan, tetapi otak tetap harus membuat hubungan antara keduanya.
Dalam penelitian tentang memori wajah-nama, proses tersebut disebut sebagai associative memory, yakni kemampuan menghubungkan dua informasi yang berbeda menjadi satu ingatan.
Ketika pertama kali berkenalan, misalnya, otak menerima banyak informasi sekaligus: wajah seseorang, namanya, suara, lokasi, percakapan, hingga konteks pertemuan.
Jika perhatian Anda saat itu lebih banyak tertuju pada percakapan daripada nama orang tersebut, informasi namanya bisa saja tidak tersimpan dengan kuat.
Penelitian mengenai memori asosiatif juga menunjukkan bahwa proses menghubungkan wajah dan nama melibatkan jaringan otak yang cukup luas, termasuk hippocampus, fusiform gyrus, serta wilayah yang berkaitan dengan perhatian, bahasa, dan memori.
Itulah kenapa seseorang sering mengalami "lupa namanya, kenal mukanya"
Baca juga: Cegah penipuan ponsel, Korsel akan wajibkan pengenalan wajah
Baca juga: Kacamata pintar Meta diwartakan akan ditambahi fitur pengenalan wajah
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.