Petani memanen padi beras merah di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali. Senin (8/6/2026). Panen padi beras merah yang digelar setiap bulan Juni tersebut menjadi tradisi pertanian khas Bali sekaligus menjadi kerifan lokal di kawasan objek wisata yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia itu.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim langkah mitigasi menghadapi El Nino berjalan efektif sehingga mampu menekan dampak kekeringan terhadap sektor pertanian. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan, kesiapsiagaan pemerintah membuat luas puso hingga Juli 2026 jauh lebih rendah dibandingkan saat El Nino pada 2015.
Menurut Sudaryono, berbagai upaya antisipasi dilakukan melalui sistem informasi peringatan dini (Si-PERDITAN), penguatan infrastruktur air, pompanisasi, rehabilitasi jaringan irigasi, penyediaan benih tahan kekeringan, hingga koordinasi intensif dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
"Data menunjukkan upaya mitigasi yang kita lakukan berjalan efektif. Luas puso akibat El Nino hingga Juli 2026 sekitar 12 ribu hektare, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2015 yang mencapai sekitar 217 ribu hektare. Artinya, kesiapsiagaan pemerintah semakin kuat dan produksi pangan nasional tetap dapat kita jaga," kata Wamentan dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, dikutip Senin (20/7/2026).
Untuk memperkuat kesiapan menghadapi musim kemarau, Kementan juga mempercepat penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti pompa air, traktor, rice transplanter, dan berbagai sarana pendukung lainnya. Langkah tersebut dilakukan agar produktivitas lahan pertanian tetap terjaga di berbagai daerah.
Dalam kesempatan itu, Sudaryono juga menyampaikan Kementan kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2025. Menurut dia, capaian tersebut mencerminkan tata kelola keuangan kementerian yang semakin transparan, efektif, dan akuntabel.