Kemensos beri dukungan psikososial anak terdampak bencana di Nagekeo

August 2026 · 3 minute read

Kemensos beri dukungan psikososial anak terdampak bencana di Nagekeo

Kamis, 20 Agustus 2026 22:05 WIB

Image Print

Anak-anak penyintas gempa di NTT mendapat layanan psikososial dari Kemensos. ANTARA/HO-Kemensos

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Sosial melalui Sentra Efata Kupang memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi anak-anak terdampak bencana gempa di posko pengungsian mandiri Stella Maris, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis.

Sekitar 20 anak tampak ceria dan menikmati beragam kegiatan yang dilaksanakan oleh petugas dari Sentra Efata Kupang dan Direktorat Rahabilitasi Sosial Anak Kemensos.

Penyuluh Sosial Sentra Efata Kupang Rahmat Hidayat Ismail menyampaikan kegiatan LDP yang dilakukan mulai dari sosialisasi ringan dengan bernyanyi terkait tanggap darurat ketika bencana gempa dan bermain beragam permainan.

“Supaya anak-anak bisa punya kesiapan lah ketika terjadi gempa. Karena kan gempa ini terus terjadi di kawasan NTT, itu yang pertama. Terus kedua, ya kita ada permainan, mungkin model kayak ice breaking gitu untuk mencairkan suasana,” kata Rahmat.

Selain diisi dengan berbagai macam kegiatan, petugas juga memberikan makanan berupa bubur kacang hijau, hingga melakukan sharing session dengan tujuan supaya anak-anak bisa berbagi cerita dan mendapatkan penguatan emosional.

“Mereka bercerita segala macam untuk mengeluarkan unek-uneknya atau apa sih ketakutannya. Seperti itu, kita coba di situ, dengan harapan kita upayakan anak-anak ini saling menguatkan satu sama lain,” ujarnya.

Berdasarkan hasil asesmen dan observasi, Rahmat menjelaskan anak-anak terdampak bencana di posko pengungsian mengalami trauma pada bencana gempa yang terjadi. Hal tersebut dibuktikan saat sharing session, anak-anak bercerita soal pengalamannya saat terjadi gempa.

“Gempa ini karena terjadi di pagi hari, anak-anak kebanyakan masih tidur. Hari Sabtu itu kan, jam 6 itu anak-anak kebanyakan masih tidur. Jadi, mereka bangun dengan kaget dan ada yang jatuh, ada yang nabrak, mereka melihat sendiri TV-nya pecah, segala macam. Jadi beberapa anak memang cukup-cukup terdampak,” kata dia.

Kondisi trauma tersebut belum bisa sepenuhnya hilang, dengan masih terjadinya gempa susulan. Meskipun terjadi dengan kekuatan yang tidak sebesar gempa pertama, hal tersebut cukup membuat anak-anak takut.

“Tapi kan tetap bikin anak-anak ini akhirnya takut lagi. Itulah kenapa semuanya lebih cenderung untuk memilih berada di luar rumah, di lapangan-lapangan,” kata Rahmat.

Terkait kegiatan LDP, khususnya di Kabupaten Nagekeo, Rahmat berharap Kementerian/Lembaga lain atau pemerintah daerah dapat berkolaborasi untuk menurunkan SDM yang mampu memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak terdampak.

Ia berharap secepatnya bisa dibangun tenda khusus untuk dukungan LDP, sehingga layanan psikososial bisa terfokus di satu titik.

“Harapan saya sih, sebenarnya ada satu posko besar yang bisa ngumpulin anak-anak itu semua. Ini kan masih kepecah nih, jadi penanganannya itu nggak bisa langsung, walaupun kami ngelakuin, harus pindah-pindah di lokasi,” katanya.

Pada Rabu (19/8), Gudang logistik darurat di Sentra Efata Kupang mengirimkan dukungan ke Kabupaten Nagekeo. Bantuan yang disalurkan berupa family kit 100 paket, kids ware 80 paket, selimut 500 lembar, tenda gulung 500 lembar, solar panel SHS-500 5 unit, dan dapur umum lapangan 1 unit.

Pewarta : Asep Firmansyah
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026