Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Pangan menilai agroforestri menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat ketahanan produksi kakao menghadapi perubahan iklim sekaligus menjaga produktivitas lahan dan pendapatan petani.
Asisten Deputi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Kemenko Pangan Sugeng Harmono mengatakan produksi kakao menghadapi tekanan perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, serta degradasi lingkungan yang dapat memengaruhi produktivitas, ketahanan pasokan, dan penghidupan petani.
“Salah satu pendekatan yang memiliki potensi penting dalam konteks ini adalah agroforestri kakao,” kata Sugeng dalam Regional Learning Forum on Sustainable Commodities di Jakarta, Kamis.
Sugeng menjelaskan agroforestri mengintegrasikan pepohonan dan tanaman lain dalam lanskap kakao sehingga dapat membantu menciptakan kondisi kebun yang lebih stabil menghadapi perubahan iklim serta memperkuat fungsi tanah dan air.
Baca juga: Kemenko Pangan buka peluang kerja sama sawit-kakao tiga negara
Pendekatan tersebut juga dapat menghasilkan produk dan sumber pendapatan tambahan bagi petani sehingga mengurangi kerentanan petani yang menggantungkan penghasilan hanya pada kakao.
Pada skala yang lebih luas, menurut dia, agroforestri dapat berkontribusi terhadap penyimpanan karbon, perlindungan tanah, keanekaragaman hayati, serta keberlanjutan fungsi lanskap.
“Agroforestri tidak seharusnya dipandang hanya sebagai praktik lingkungan atau sekadar cara menambah pohon di kebun kakao. Agroforestri harus menjadi bagian dari strategi yang menghubungkan produktivitas, ketahanan petani, dan keberlanjutan lanskap,” ujarnya.
Sugeng mengatakan perubahan pola suhu dan curah hujan serta meningkatnya risiko cuaca ekstrem membuat tantangan produksi kakao tidak lagi dapat ditangani hanya melalui intervensi pada tingkat kebun.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.