Kemenkes Wanti-wanti Kelompok Berisiko saat Terpapar 'Superflu', Imbau Vaksinasi

September 2026 ยท 4 minute read

Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai lonjakan kasus influenza, terutama pada kelompok yang berisiko mengalami komplikasi berat.

Lansia menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian karena penurunan fungsi organ dan tingginya penyakit penyerta.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI Imran Pambudi
mengatakan influenza pada lansia tidak boleh dianggap sebagai penyakit musiman biasa. Kondisi tersebut bisa berkembang menjadi komplikasi serius, termasuk pneumonia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lansia merupakan kelompok usia yang paling rentan terhadap penyakit pernapasan karena sistem imun yang melemah, fungsi organ yang menurun, serta adanya penyakit penyerta," kata Imran dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2026).

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sejumlah penyakit cukup banyak ditemukan pada kelompok lansia. Di antaranya hipertensi dengan prevalensi 63,5 persen. obesitas 14,1 persen, diabetes 5,7 persen. pneumonia 5,6 persen, dan ISPA 4,6 persen.

Kondisi tersebut dapat memperbesar risiko ketika lansia terkena influenza. Cadangan fungsi paru dan jantung yang sudah menurun membuat tubuh lebih sulit menghadapi tekanan akibat infeksi saluran pernapasan.

Data Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 yang mencakup sekitar 7 juta lansia juga menunjukkan sejumlah faktor risiko. Hampir seluruh lansia tercatat kurang melakukan aktivitas fisik, lebih dari sepertiga mengalami obesitas sentral, dan sekitar sepertiga lainnya mengalami gangguan kognitif.

Bedakan Influenza dan ISPA

Imran menjelaskan influenza dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bukan istilah yang sama. ISPA merupakan istilah umum untuk berbagai infeksi pada saluran pernapasan, sementara influenza merupakan salah satu penyakit yang termasuk di dalamnya.

ISPA dapat disebabkan berbagai virus, seperti influenza, respiratory syncytial virus (RSV), adenovirus, dan rhinovirus. Selain itu, sejumlah bakteri dan faktor lingkungan seperti polusi udara serta asap rokok juga dapat berperan.

Sementara itu, influenza secara khusus disebabkan oleh virus influenza. Gejalanya antara lain demam yang muncul mendadak, batuk, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, pilek, dan rasa lelah.

"Influenza termasuk dalam kategori ISPA, tetapi tidak semua ISPA adalah influenza," jelasnya.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan influenza musiman menyebabkan sekitar 3-5 juta kasus penyakit berat dan 290 ribu hingga 650 ribu kematian akibat gangguan pernapasan setiap tahun. Kelompok usia lanjut termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit berat.

2,4 Juta Kasus ISPA pada Lansia

Di Indonesia, data nasional Januari hingga Agustus 2026 mencatat lebih dari 2,4 juta kasus ISPA pada lansia.

Pola kasus disebut meningkat pada awal tahun, kemudian menurun pada pertengahan tahun dan kembali mengalami kenaikan pada Agustus.

Tren tersebut muncul di tengah laporan mengenai peningkatan kasus influenza A, termasuk subtipe H3N2 yang belakangan di media disebut sebagai 'superflu'.

Wilayah dengan jumlah penduduk besar seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Banten menjadi wilayah dengan jumlah kasus lansia yang tinggi.

Meski jumlah kasus influenza pada lansia dapat lebih rendah dibandingkan kelompok dewasa, dampaknya dapat lebih serius karena adanya penyakit penyerta dan penurunan fungsi tubuh.

Sebagai gambaran, di Aceh pada Januari 2026 tercatat 2.902 kasus ISPA pada lansia. Dari jumlah tersebut, 35 kasus di antaranya merupakan pneumonia.

Kemenkes Imbau Vaksinasi

Kemenkes mendorong perlindungan terhadap kelompok rentan, termasuk melalui vaksinasi influenza.

WHO menyebut vaksinasi merupakan cara utama untuk mencegah influenza. Perlindungan melalui vaksin direkomendasikan setiap tahun karena kekebalan dapat menurun seiring waktu dan virus influenza terus mengalami perubahan. Pada lansia, vaksin mungkin tidak selalu sepenuhnya mencegah infeksi, tetapi dapat membantu mengurangi keparahan penyakit serta risiko komplikasi dan kematian.

Selain lansia, kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza antara lain orang dengan penyakit kronis, ibu hamil, anak kecil, serta orang dengan kondisi yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun.

"Perlindungan terhadap lansia menjadi sangat penting. Vaksinasi influenza tahunan harus diperluas, terutama di wilayah padat penduduk," kata Imran.

Selain vaksinasi dan deteksi dini, Imran menekankan pentingnya dukungan lingkungan. Ketersediaan air yang cukup, ventilasi rumah yang baik, serta lingkungan yang nyaman bagi lansia menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko komplikasi penyakit pernapasan.

"Perlindungan terhadap lansia membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dengan vaksinasi, perhatian keluarga, dan dukungan komunitas, lansia dapat tetap sehat, mandiri, dan produktif," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2

(naf/naf)