Kemenag: Madrasah harus jadi tempat paling aman & nyaman menuntut ilmu - ANTARA News Jawa Timur

July 2026 · 3 minute read

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan satuan pendidikan madrasah harus menjadi tempat paling aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan bagi para peserta didik dalam menuntut ilmu.

“Madrasah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman. Bukan hanya ruang kelas dan proses belajarnya, tetapi juga seluruh lingkungan serta ruang publik pendukungnya,” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Amien Suyitno di Jakarta, Kamis.

Penegasan itu disampaikan Suyitno saat pelaksanaan Masa Ta'aruf Murid Madrasah (Matamuda) 2026 yang diikuti murid MAN 19 Jakarta.

Suyitno mengatakan Kemenag memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah melalui penyelenggaraan Matamuda 2026.

Kurikulum ini tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, sehat, serta berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.

Suyitno mengatakan transformasi pendidikan madrasah harus berjalan beriringan antara penguatan kompetensi dan pembentukan karakter.

Dalam arahannya kepada peserta didik baru, Suyitno mengingatkan enam prasyarat keberhasilan menuntut ilmu sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ta'limul Muta'allim, yaitu kecerdasan, kesabaran, dukungan, penghormatan kepada guru, kemauan yang kuat, dan kesediaan menjalani proses belajar dalam waktu yang panjang.

“Ilmu tidak hanya diukur dari apa yang dikuasai, tetapi juga dari bagaimana ilmu itu diperoleh. Karena itu menghormati guru dan menjaga adab merupakan bagian penting dalam proses pendidikan,” katanya.

Ia mengajak peserta didik menumbuhkan kecintaan kepada Indonesia melalui semangat belajar, menjaga persatuan, menghargai keberagaman, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Sementara itu Direktur KSKK Madrasah Kemenag Nyayu Khodijah mengatakan Kurikulum Berbasis Cinta harus diwujudkan dalam praktik di lingkungan madrasah, bukan hanya menjadi konsep dalam dokumen pembelajaran.

“Kurikulum Berbasis Cinta harus hadir dalam setiap aktivitas di madrasah, baik di ruang kelas, di halaman sekolah, dalam proses belajar, maupun dalam interaksi antarsesama warga madrasah,” ujarnya.

Menurut Nyayu, implementasi kurikulum tersebut diwujudkan melalui Gerakan Senyaman (Sehat, Aman, Nyaman, Menyenangkan) yang menjadi budaya bersama seluruh warga madrasah.

Ia menjelaskan terdapat tiga indikator utama implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Pertama, madrasah ramah lingkungan, yaitu membangun kepedulian seluruh warga terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Kedua, madrasah ramah anak, yakni memastikan tidak ada ruang bagi perundungan, diskriminasi, maupun segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.

“Tidak boleh ada peserta didik yang merasa takut datang ke madrasah. Semua anak harus mendapatkan rasa aman, perlindungan, dan penghargaan selama mengikuti proses pendidikan,” katanya.

Ketiga, kesejahteraan mental dan spiritual peserta didik. Menurut Nyayu, madrasah perlu menjadi ruang yang membuat peserta didik merasa diterima, dihargai, bahagia, sekaligus bertumbuh dalam keimanan dan akhlak.

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.