Kemarau panjang picu gagal panen di Sangatta Selatan Kutim - ANTARA News Kalimantan Timur

September 2026 · 3 minute read

Sangatta (ANTARA) - Fenomena El-Nino atau Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam beberapa bulan terakhir berdampak serius terhadap sektor pertanian di Kecamatan Sangatta Selatan. Kemarau menyebabkan sumber air mengering dan mengancam petani gagal panen.

“Kekeringan panjang tahun ini yang terparah selama saya menjadi petani di sini. Lahan kami mengalami kekeringan akibat parit utama yang menjadi sumber pengairan mengering,” ucap Ketua Tani Adem Ayem di Kelurahan Singa Geweh, Djunaidi, di Sangatta, Rabu (2/9).

Djunaidi yang membawahi 12 anggota kelompok tani yang menggarap total lahan 15 hektare pertanian sawah dan hortikultura, merasakan dampak yang sangat parah akibat kekeringan tersebut.

Dampak paling besar terlihat pada tanaman melon yang dipastikan gagal panen. Tanaman mati ketika memasuki masa berbuah akibat kekurangan air. Kerugian dari komoditas tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp70 juta.

Kondisi serupa dialami tanaman bawang prei yang mengering sebelum dipanen. Padahal, dalam kondisi normal, produksi bawang prei dapat mencapai sekitar 300 kilogram dalam sekali panen.

Tanaman kemangi yang ditanam sebagai upaya alternatif untuk mempertahankan pendapatan petani juga mengalami nasib serupa. Tanaman mengering akibat terik matahari dan minimnya pasokan air.

Sementara tanaman cabai masih mampu menghasilkan buah, tetapi produksinya mengalami penurunan drastis. Dari kondisi normal yang dapat mencapai sekitar 20 ton per hektare, hasil panen kini hanya sekitar 200 kilogram.

Djunaidi mengatakan petani terpaksa mencari sumber air alternatif dengan menggali sumur ketika hujan tidak kunjung turun. Namun, upaya tersebut juga menghadapi kendala karena debit air sumur terbatas.

“Kalau kemarau panjang seperti ini, kami terpaksa menunggu hujan. Kalau hujan tidak turun, petani nekat menggali sumur. Masalahnya, sumur sudah cukup dalam, sementara mata airnya juga kecil,” katanya.

Krisis air semakin berat bagi petani yang berada di kawasan Rawa Gabus bagian dalam. Sejumlah sumur mengalami intrusi air laut sehingga menghasilkan air payau yang tidak dapat digunakan untuk mengairi tanaman.

“Petani di Rawa Gabus sekarang sudah sangat kesulitan. Hampir semua petani di kawasan ini merasakan dampak kemarau panjang,” ujar Djunaidi.

Di tengah kondisi tersebut, kelompoknya membutuhkan mesin pompa air berkapasitas besar. Pompa tersebut dinilai dapat digunakan untuk menghadapi dua kondisi sekaligus, yakni mengatasi banjir saat musim hujan dan menyediakan air bagi tanaman ketika musim kemarau.

Pada musim hujan, pompa dapat digunakan untuk menyedot luapan air dari lahan pertanian menuju saluran parit. Sedangkan saat kemarau, mesin dapat digunakan untuk menarik air dari parit maupun sumur untuk kebutuhan pengairan.

Djunaidi mengatakan kelompok tani sebenarnya telah memiliki mesin pompa, tetapi kapasitasnya terbatas sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan pengairan lahan yang mencapai 15 hektare.

Ia juga mengeluhkan pendataan yang berulang dari sejumlah dinas teknis ketika terjadi banjir maupun kemarau. Namun, hingga kini belum ada bantuan konkret yang terealisasi untuk mengatasi persoalan pengairan.

Sebagai langkah darurat, para petani berencana melakukan gotong royong secara swadaya untuk memperdalam sumur-sumur galian yang telah mengering.

“Untuk sementara, kami akan bergotong royong memperdalam sumur secara swadaya agar masih bisa mendapatkan sumber air untuk menyelamatkan tanaman,” kata Djunaidi.

Pewarta: Muhammad Hafif Nikolas
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.