Pesan tersebut disampaikan Kapolri saat menghadiri Syukuran Kemerdekaan ke-81 RI, dan Silaturahmi Kapolri bersama Garda Satya NKRI di Solo, Jawa Tengah, Minggu, 30 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut mengusung tema "Bersama Umat Membangun Indonesia". Kegiatan ini menjadi bagian dari proses panjang pembinaan dan reintegrasi sosial mantan anggota JI setelah kelompok tersebut mendeklarasikan pembubaran pada 30 Juni 2024.
Garda Satya NKRI sendiri menjadi wadah bagi mantan anggota dan simpatisan JI yang telah meneguhkan kembali komitmen kebangsaan serta menyatakan kesetiaan kepada NKRI.
Kapolri mengatakan, keputusan para mantan anggota JI untuk meninggalkan paham dan aktivitas masa lalu serta meneguhkan komitmen kepada NKRI merupakan langkah yang mulia dan berani.
Menurutnya, negara memberikan ruang dan kesempatan kepada setiap anak bangsa untuk berubah serta mengambil bagian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Keputusan untuk mengabdi sebagai Garda Satya NKRI merupakan panggilan nurani untuk menjadi garda yang senantiasa setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Jenderal Listyo Sigit dalam sambutannya.
Kapolri menilai berbagai potensi yang dimiliki para anggota Garda Satya NKRI, seperti militansi, kedisiplinan, keberanian, dan kekompakan, dapat diarahkan untuk kepentingan positif.
Potensi tersebut diharapkan tidak lagi digunakan untuk kegiatan yang bertentangan dengan hukum dan ideologi negara, tetapi menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan, keamanan, serta keutuhan bangsa.
"Termasuk ketika bangsa dan negara menghadapi situasi yang membutuhkan peran saudara-saudara, saya berharap Garda Satya NKRI siap hadir bersama Polri dan seluruh komponen bangsa sebagai bagian dari garda penjaga NKRI," ujar Jenderal Listyo Sigit.
Kapolri juga menegaskan bahwa proses pembinaan terhadap mangan anggota JI tidak berhenti pada deklarasi pembubaran maupun ikrar kesetiaan kepada NKRI.
Para anggota Garda Satya NKRI didorong untuk mengambil peran nyata di tengah masyarakat, termasuk melalui kegiatan sosial, penguatan ekonomi keluarga, ketahanan pangan, kewirausahaan, serta berbagai kegiatan produktif lainnya.
Hal tersebut sejalan dengan program reintegrasi yang selama ini dikawal Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri bersama pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.
Melalui program tersebut, mantan anggota JI tidak hanya diarahkan untuk meninggalkan ideologi kekerasan, tetapi juga dibekali keterampilan dan didorong agar mampu mandiri serta diterima kembali secara penuh di tengah masyarakat.
Kapolri menerangkan, ketangguhan bangsa tidak hanya dibangun melalui kemampuan menghadapi ancaman keamanan. Kemandirian masyarakat, kekuatan ekonomi, serta persatuan dan kesatuan juga menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan nasional.
Karena itu, ia berharap Garda Satya NKRI dapat menjadi bagian dari kekuatan masyarakat yang ikut memberikan kontribusi dalam pembangunan nasional.
Di sisi lain, Jenderal Listyo Sigit memastikan, Polri akan terus mendampingi keluarga besar Garda Satya NKRI dalam menjalankan berbagai kegiatan positif. Ia mengatakan, hubungan yang terbangun antara Polri dengan para mantan anggota JI yang telah berkomitmen kembali kepada NKRI harus terus dijaga dalam jangka panjang.
"Karena bagi saya, persaudaraan yang telah kita bangun bukanlah persaudaraan sesaat, melainkan saduluran saklawase, persaudaraan yang senantiasa kita jaga dalam memberikan pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara," pungkas Jenderal Listyo Sigit.