Kamboja buka peluang manufaktur dukung transisi energi ASEAN

September 2026 · 2 minute read
Transisi energi bersih sedang berlaku di Kamboja, di seluruh Asia Tenggara, dan di seluruh dunia

Jakarta (ANTARA) - Clean Energy Policy Manager EnergyLab Asia, Mardy Hout mengatakan Kamboja berpeluang mengambil peran dalam rantai pasok teknologi energi bersih Asia Tenggara melalui pengembangan manufaktur komponen, perakitan, dan integrasi sistem baterai.

Mardy mengatakan negara-negara di kawasan bisa mendukung transisi energi dengan memilih bagian rantai pasok sesuai kemampuan industri dan sumber daya yang dimiliki dan tidak harus memproduksi seluruh teknologi energi bersih secara mandiri.

"Transisi energi bersih sedang berlaku di Kamboja, di seluruh Asia Tenggara, dan di seluruh dunia. Ini menciptakan permintaan yang lebih kuat untuk teknologi energi bersih dan mengembangkan jaringan kapasitasnya di belakang mereka," ujar Mardy dalam diskusi bersama Institute for Essential Services Reform (IESR) yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

Menurut dia, peluang yang paling sesuai bagi Kamboja berada pada produksi komponen Tier 2 seperti elektronik, peralatan listrik, komponen baterai, dan integrasi sistem, dapat menjadi pintu masuk bagi negara dengan ekonomi yang lebih kecil, dan perakitan knock-down. Segmen tersebut membutuhkan modal dan energi yang relatif lebih rendah dibandingkan produksi teknologi pada tingkat yang lebih tinggi.

Mark menyebut Kamboja telah memiliki 13 fasilitas perakitan yang beroperasi atau sedang berkembang, termasuk BYD. Negara tersebut juga memiliki kemampuan merakit lebih dari 250 ribu sepeda motor per tahun dan lima perusahaan Tier 2 berstandar ekspor yang memasok perusahaan Tier 1 serta produsen peralatan asli global.

Selain manufaktur komponen, Mardy mengatakan Kamboja berpotensi mengembangkan integrasi sistem baterai untuk mendukung pertumbuhan kendaraan listrik dan penyimpanan energi.

"Di sini, potensinya untuk Kamboja bukan menghasilkan baterai, tapi kita mengimport dan membuatnya menjadi baterai pack. Ini adalah rekomendasi. Yang ini baru dan kurang terbukti, tapi memiliki potensi yang kuat untuk Kamboja," kata Mardy.

Untuk memperkuat rantai pasok regional, ia mendorong negara-negara ASEAN menyelaraskan standar kualitas, aturan perdagangan lintas batas, prosedur investasi, dan insentif industri.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat menghubungkan keunggulan masing-masing negara sekaligus memperluas partisipasi negara dengan kapasitas industri yang sedang berkembang dalam transisi energi bersih.

Baca juga: IESR dorong integrasi rantai pasok teknologi bersih ASEAN

Baca juga: IESR: Elektrifikasi berpeluang tekan konsumsi energi ASEAN pada 2050

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.