AKURAT.CO Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengingatkan seluruh pihak agar tidak menjadikan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai arena kepentingan politik praktis menjelang Muktamar NU 2026.
Menurut Hasto, NU memiliki peran historis yang sangat besar dalam perjalanan bangsa sehingga harus dijaga dari segala bentuk kooptasi maupun upaya memecah belah organisasi.
"NU terlalu besar untuk dilibatkan dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis. Jangan pernah coba-coba memecah belah NU demi ambisi kekuasaan. NU itu milik Indonesia dan dunia yang ditakdirkan dengan jiwa keislaman serta konsepsi pemikiran yang luar biasa," ujar Hasto dalam diskusi Room Diskusi Serial 7 bertajuk NU Masa Depan & Masa Depan NU: Sinergitas Pemikiran Nasionalis dan Agama yang digelar Yayasan Talibuana Nusantara di Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2026).
Hasto menilai NU bersama PNI, Muhammadiyah, dan berbagai elemen bangsa telah membentuk fondasi Indonesia melalui semangat kebangsaan dan nilai Islam rahmatan lil alamin.
Ia juga mengapresiasi pemikiran para pendiri NU yang dinilainya visioner, termasuk filosofi dalam lambang NU dan kontribusi organisasi melalui Resolusi Jihad pada masa perjuangan kemerdekaan.
Menurut Hasto, sinergi antara nasionalisme dan nilai-nilai keagamaan harus dibangun dengan memahami sejarah secara utuh.
Ia juga menyinggung kondisi bangsa saat ini yang dinilainya menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan fiskal, moneter, sektor riil, hingga penegakan hukum.
"Sinergi NU dan PDI Perjuangan akan memperkuat cahaya kemanusiaan, keadilan, dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran," katanya.
Hasto menambahkan, nilai-nilai yang terkandung dalam lambang NU selama ini juga dipelajari di Sekolah Partai PDIP karena dinilai memiliki filosofi kebangsaan yang kuat.
Ia kemudian mengingatkan pentingnya kembali pada Khittah NU 1926 sebagai benteng ideologis agar organisasi tetap fokus pada peran moral dan keagamaan.
"Kembali ke Khittah 1926 adalah benteng ideologis dan moral agar elite NU tidak ikut dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis. Siapa pun yang mencoba mengooptasi atau memecah belah NU demi ambisi kekuasaan akan menerima karma politik dari Tuhan Yang Maha Kuasa," tegasnya.
Baca Juga: PDIP Sindir Ambisi PSI Ubah Jawa Tengah Jadi 'Kandang Gajah'