Daftar Isi
Jakarta -
Biasanya kecerdasan didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir, memecahkan masalah, belajar dari pengalaman, hingga berpikir kritis. Hal tersebut juga mencakup keterampilan mental, seperti perencanaan, bahasa, memori, dan pemahaman ide-ide kompleks.
Dikutip dari laman Your Tango, orang dengan IQ sangat rendah sering mengalami kesulitan dalam hal rasa ingin tahu, kemampuan beradaptasi, berpikir fleksibel, serta memahami sudut pandang yang berbeda dari dirinya sendiri. Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan, menghadapi situasi baru, hingga menyelesaikan masalah.
9 Ciri-ciri Orang dengan IQ Sangat Rendah
Apa saja tanda-tanda orang yang memiliki IQ sangat rendah? Berikut di antaranya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang dengan IQ rendah menunjukkan sedikit minat untuk mempelajari hal-hal baru atau menggali lebih dalam topik yang sudah mereka pahami. Mereka akan puas dengan pemahaman dangkal tentang suatu masalah, tanpa memikirkan penyebab yang mendasarinya.
Dikutip dari laman Your Tango, mereka juga cenderung memiliki kosakata yang lebih kecil serta rasa ingin tahu intelektual yang lebih rendah secara keseluruhan.
Pusat Psikologi Positif di University of Pennsylvania mendefinisikan keterbukaan pikiran (open-mindedness) sebagai kesediaan untuk secara aktif mencari bukti yang bertentangan dengan keyakinan, rencana, atau tujuan yang disukai, kemudian mempertimbangkan bukti tersebut secara adil ketika tersedia.
Pusat tersebut juga mencatat bahwa orang yang memiliki keterbukaan pikiran cenderung memperoleh skor lebih tinggi dalam tes yang mengukur kemampuan kognitif. Temuan ini mendukung adanya kaitan antara kemampuan intelektual yang lebih rendah dan kecenderungan berpikir tertutup.
2. Sulit Beradaptasi di Lingkungan Baru
Sering kali, orang dengan IQ rendah mengalami kesulitan di lingkungan baru. Mereka mungkin kesulitan dalam perencanaan dan pemecahan masalah yang berujung pada kesulitan beradaptasi dengan tempat atau peran baru.
Seseorang dengan IQ rendah mungkin memiliki keterampilan yang terlihat baik di atas kertas. Namun, ketika dihadapkan pada situasi nyata, mereka sering mengalami kesulitan karena keterbatasan kemampuan kognitif dalam menemukan solusi atau jalan keluar dari masalah yang dihadapi.
Dikutip dari laman Binus University, kemamouan beradaptasi berkaitan erat dengan kondisi psikologis seseorang saat berhadapan dengan perubahan peran di dunia kerja. Kemampuan beradaptasi dengan baik sangat penting seiring pergerakan dunia kerja yang sangat dinamis.
3. Melebih-lebihkan Apa yang Mereka Ketahui
Orang yang memiliki IQ rendah mungkin berpikir kalau mereka sebenarnya sangat cerdas. Hal ini disebut dengan efek Dunning-Kruger.
Menurut efek ini, orang yang sebenarnya hanya tahu sedikit tentang suatu topik tertentu menganggap diri mereka sangat menguasai informasi di dalamnya.
"Luasnya ketidaktahuan seseorang sering kali tidak terlihat oleh mereka sendiri," kata Psikolog David Dunning.
Jika orang dengan kecerdasan tinggi secara terbuka mengakui apa yang tidak mereka ketahui, orang dengan kecerdasan rendah melakukan sebaliknya. Mereka cenderung kurang memiliki kerendahan hati intelektual, yaitu kemampuan untuk menyadari dan mengakui ketika dirinya kesulitan memahami topik tertentu.
Kondisi ini dapat berkaitan dengan rendahnya kesadaran diri dan, dalam beberapa kasus, membuat seseorang memiliki pandangan yang terlalu tinggi terhadap kemampuan atau dirinya sendiri.
4. Tidak Berempati pada Orang Lain
Empati memungkinkan untuk menempatkan posisi diri sendiri pada posisi orang lain dan merasakan perasaan mereka. Ketidakmampuan untuk mempertimbangkan perasan orang lain bisa menyebabkan konflik, kesalahpahaman, dan kurangnya hubungan yang autentik dengan orang lain.
Berdasarkan sebuah penelitian tahun 2019, orang yang sangat cerdas lebih berempati dibandingkan orang yang kurang cerdas. Penelitian tersebut mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk bernalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami ide-ide kompleks, belajar dengan cepat, serta belajar dari pengalaman.
Dikutip dari laman Verywell Mind, orang dengan kecerdasan emosional yang rendah memang tampak tidak peka terhadap perasaan orang lain. Orang-orang ini mungkin benar-benar terkejut saat pasangan mereka marah atau ada rekan kerja yang tidak menyukai mereka.
Orang dengan kecerdasan lebih tinggi memiliki kepekaan emosional yang lebih tinggi dan lebih peduli terhadap orang lain. Jadi, orang dengan IQ rendah mungkin menunjukkan empati yang lebih sedikit terhadap orang-orang di sekitarnya.
5. Sulit Belajar dari Kesalahan
Bukannya menyesuaikan perilaku setelah mengalami kegagalan, orang dengan IQ rendah sering menyalahkan faktor eksternal atau orang lain. Saat seseorang sulit belajar dari kesalahan di masa lalu, masalah yang sama cenderung muncul berulang kali.
Mereka mengulang pola yang sama tanpa berhenti memahami apa yang salah atau memikirkan hal berbeda yang bisa dilakukan pada kesempatan selanjutnya.
6. Merasa Tidak Perlu Mengembangkan Diri
Bagi orang dengan IQ rendah, pengembangan diri terasa tidak diperlukan. Tanpa rasa ingin tahu dan kesadaran diri, dorongan untuk berkembang, belajar, atau melakukan perubahan juga cenderung rendah.
Orang yang menolak untuk berkembang sering kali tidak melihat alasan untuk mengubah dirinya. Mereka merasa baik-baik saja apa adanya dan menganggap pengembangan diri tidak diperlukan atau ditujukan untuk orang lain. Rasa ingin tahu untuk meningkatkan diri tidak ada sama sekali.
Tanpa rasa ingin tahu atau kesadaran diri, perkembangan diri akan terhenti. Mempelajari keterampilan baru, mengubah kebiasaan, atau memperluas perspektif membutuhkan usaha dan keterbukaan. Saat kualitas-kualitas tersebut hilang, orang cenderung tetap berada di tempat mereka, bahkan saat hal itu jelas-jelas menghambat kemajuan mereka.
7. Bergantung pada Penjelasan yang Terlalu Sederhana
Orang yang cenderung mengandalkan penjelasan sederhana biasanya mencari jawaban yang paling cepat dan mudah untuk setiap persoalan. Ketika menghadapi situasi yang rumit atau tidak nyaman, mereka sering menyederhanakannya menjadi satu alasan yang terasa masuk akal bagi diri sendiri, meskipun mengabaikan sejumlah detail penting.
Hal ini bukan semata-mata soal mencari jawaban yang akurat, melainkan kecenderungan untuk menghindari proses berpikir yang membutuhkan lebih banyak usaha.
Saat membahas isu-isu kompleks, mereka akan menanggapi dengan kalimat singkat seperti, "Memang begitulah sifat manusia." Hal ini akan menghentikan diskusi yang sebenarnya sebab tidak mengundang rasa ingin tahu atau pemikiran lebih dalam. Dengan demikian, perilaku tersebut menghalangi orang untuk belajar, berkembang, atau melihat gambaran yang lebih besar.
8. Kesulitan dalam Berpikir Hipotesis
Sebab memiliki IQ rendah, orang-orang seperti ini tidak berpikir di luar hal-hal absolut. Mereka kesulitan memikirkan kemungkinan di luar apa yang mereka ketahui dan bisa dilihat atau dipahami secara visual.
Contohnya, jika diberikan situasi hipotesis, mereka mungkin kesulitan memahami maksudnya. Sebab, informasi yang diberikan bersifat konseptual, bukan konkret.
9. Melihat Dunia secara Hitam-Putih
Orang dengan IQ rendah biasanya melihat dunia di sekitarnya secara hitam dan putih. Mereka memahami masyarakat dengan cara yang kaku dan kesulitan melihat bahwa ruang abu-abu atau ambiguitas itu ada.
Asosiasi Psikologi Amerika menyebut proses berpikir ini sebagai pemikiran dikotomis atau terpolarisasi dan didefinisikan sebagai berpikir dalam hal berlawanan, tanpa mengakui bahwa ada kemungkinan hasil lain selain baik dan buruk. Studi pada tahun 2021 menunjukkan bahwa pemikiran dikotomis umumnya berkaitan dengan tingkat pendidikan yang rendah.
(elk/elk)