Bagikan:
JAKARTA - Otoritas Israel telah mengambil langkah hukum untuk menerapkan proposal kontroversial dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, untuk mengelilingi penjara-penjara yang menahan tahanan Palestina dengan parit berisi buaya, menurut laporan media berbahasa Ibrani pada Hari Kamis.
Saluran 7 Israel mengatakan Menteri Perlindungan Lingkungan Idit Silman menandatangani perintah yang mengklasifikasikan ulang buaya sebagai "hewan liar yang dikelola," yang memungkinkan badan-badan pemerintah, termasuk Layanan Penjara Israel, untuk memelihara buaya di fasilitas mereka dengan kondisi tertentu, seperti dilansir dari Anadolu (17/7).
Langkah ini menghilangkan hambatan hukum utama yang telah menghambat rencana tersebut, karena buaya sebelumnya diklasifikasikan sebagai hewan liar yang dilindungi yang hanya dapat dipelihara di kebun binatang berlisensi, kata penyiar tersebut.
Saluran 13 mengatakan perubahan hukum tersebut menyusul keberatan dari Otoritas Alam dan Taman Israel terhadap proyek yang diusulkan, yang dijuluki "penjara buaya" oleh media berbahasa Ibrani.
Politisi sayap kanan Ben-Gvir mengungkapkan proposal tersebut sekitar enam bulan lalu, menyerukan pembangunan penjara berkeamanan tinggi yang dikelilingi oleh saluran air berisi buaya untuk mencegah upaya pelarian oleh tahanan Palestina.
Menurut Channel 7, Dinas Penjara Israel telah mulai meneliti kelayakan proyek tersebut, termasuk kunjungan ke kebun binatang untuk mempelajari penanganan dan perawatan buaya.
Stasiun televisi tersebut mengatakan, para pejabat percaya parit berisi buaya dapat mengurangi biaya penjagaan sekaligus memperkuat keamanan penjara. Ditambahkan bahwa seekor buaya muda harganya sekitar 8.000 dolar AS, sedangkan buaya dewasa bisa mencapai 20.000 dolar AS.
Tidak ada komentar langsung dari Dinas Penjara Israel mengenai rencana yang dilaporkan tersebut atau di mana rencana itu dapat diimplementasikan.
BACA JUGA:
Diketahui, sekitar 9.500 warga Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel, termasuk perempuan dan anak-anak, dalam kondisi yang menurut kelompok hak asasi manusia Palestina dan Israel melibatkan kelaparan, penyiksaan, dan pengabaian medis, yang menyebabkan kematian puluhan tahanan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+