Iran Gempur Wilayah Kurdi Irak, Perusahaan Energi Hentikan Operasi

July 2026 ยท 3 minute read

Serangan Meningkat Seiring Konflik AS-Iran

Gelombang serangan Iran meningkat setelah Amerika Serikat kembali melancarkan operasi militer terhadap Teheran pada awal Juli. Hingga awal pekan ini, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) telah melakukan 10 malam berturut-turut serangan terhadap berbagai target militer Iran.

Sebelumnya, setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan kelompok-kelompok pro-Iran pada April lalu, intensitas serangan di wilayah Kurdistan sempat menurun. Namun, situasi berubah drastis sejak hubungan Washington dan Teheran kembali memanas.

Komala dan PAK Jadi Sasaran

Selain Komala, Partai Kebebasan Kurdistan (PAK) juga mengaku menjadi sasaran serangan drone Iran pada 13 Juli.

Kedua kelompok tersebut merupakan bagian dari koalisi enam organisasi oposisi Kurdi Iran yang dibentuk pada awal 2026 untuk meningkatkan koordinasi menghadapi pemerintahan Teheran.

Pada 17 Juli, sembilan anggota salah satu faksi Komala dilaporkan tewas akibat serangan Iran.

Sementara itu, PAK menuduh Iran menggunakan amunisi yang mengandung fosfor putih dalam serangan drone pada 19 Juli. Tuduhan itu didasarkan pada hasil pemeriksaan medis terhadap korban luka dan kebakaran hebat yang terjadi di lokasi serangan. Hingga kini, tuduhan tersebut belum mendapat tanggapan resmi dari pemerintah Iran.

Drone Dicegat, Tentara AS Tewas

Media Irak Shafaq News melaporkan militer Amerika Serikat berhasil mencegat sejumlah drone yang mengarah ke Erbil pada 18 Juli. Kota tersebut menjadi lokasi konsulat Amerika Serikat dan pangkalan bagi personel militer AS di Irak.

Meski tidak mengomentari langsung pencegatan drone tersebut, CENTCOM mengonfirmasi seorang prajurit Amerika tewas pada 18 Juli saat melakukan proses penghancuran drone bunuh diri Iran yang telah ditembak jatuh. Seorang prajurit lainnya mengalami luka ringan dan masih menjalani perawatan.

Insiden itu terjadi sehari setelah dua tentara Amerika Serikat dilaporkan tewas akibat serangan rudal Iran di Yordania.

Perusahaan Energi Hentikan Operasi

Meningkatnya ancaman keamanan membuat sejumlah perusahaan energi internasional menghentikan operasinya di Kurdistan Irak.

Perusahaan energi Dana Gas menjadi yang pertama menghentikan aktivitas pada 16 Juli setelah serangkaian serangan drone menghantam Erbil.

Langkah serupa kemudian diikuti perusahaan asal Amerika Serikat HKN pada 18 Juli, disusul Gulf Keystone yang menghentikan produksi di ladang minyak dekat Kota Dohuk pada 20 Juli.

Penghentian operasi tersebut menambah tekanan terhadap sektor energi Irak yang saat ini juga menghadapi krisis pasokan listrik akibat berkurangnya impor gas dari Iran.

Irak Berupaya Redakan Ketegangan

Di tengah memanasnya situasi, pemerintah Irak berusaha menjaga keseimbangan hubungan dengan Washington maupun Teheran.

Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi, yang baru kembali dari kunjungan ke Amerika Serikat, dijadwalkan bertolak ke Iran untuk membawa usulan agar Baghdad menjadi tuan rumah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pemerintah Irak juga menegaskan terdapat dukungan dari berbagai negara agar Baghdad memainkan peran sebagai mediator guna meredakan ketegangan di kawasan.

Selain itu, pemerintah Irak terus berupaya mengendalikan kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran agar seluruh persenjataan berada di bawah kendali negara, sebuah tuntutan yang selama ini juga menjadi fokus pembahasan dengan Amerika Serikat.

Meningkatnya serangan di Kurdistan menunjukkan bahwa konflik Iran dan Amerika Serikat kini tidak lagi terbatas pada kedua negara. Dampaknya mulai meluas ke Irak, mengancam stabilitas kawasan, keamanan energi, serta membuka kemungkinan eskalasi konflik yang lebih besar di Timur Tengah.

Sumber: longwarjournal