Chief Marketing Officer PINTU, Timothius Martin mengatakan program tersebut menyasar kebutuhan literasi finansial yang semakin relevan bagi pekerja muda, khususnya mereka yang mulai tertarik menjadikan aset kripto sebagai bagian dari portofolio investasi.
Baca Juga: Minat ETF Saham AS Terdongkrak, Trader RWA di PINTU Melonjak
"Program Pintu Goes to Office dirancang untuk menjawab kebutuhan literasi finansial yang relevan dengan gaya hidup pekerja urban saat ini. Kami ingin masyarakat memiliki pemahaman yang baik terhadap berbagai instrumen keuangan, khususnya aset kripto," kata Timothius di Jakarta, Kamis (12/8/2026).
Menurut dia, ketertarikan terhadap aset kripto mulai muncul di kalangan pekerja muda, termasuk mereka yang bekerja di industri teknologi. Namun, ketertarikan tersebut belum selalu diikuti pemahaman mengenai karakteristik dan risiko aset kripto.
"Semakin banyak karyawan muda yang mulai melirik aset kripto sebagai bagian dari portofolio investasi, tetapi belum sepenuhnya memahami karakteristik produk, risiko, dan cara mengelolanya dengan bijak," ujarnya.
Karena itu, edukasi dilakukan langsung di lingkungan kerja agar materi yang diberikan lebih dekat dengan kebutuhan peserta. Materi tidak hanya membahas pengenalan aset kripto, tetapi juga aspek pengelolaan risiko dan keamanan.
Dari sisi Ruangguru, Chief Financial Officer, Arman Wiratmoko menilai literasi keuangan merupakan bagian penting dari pengembangan kapasitas karyawan.
Baca Juga: Gandeng HIMAPEN, PINTU Edukasi Mahasiswa Tangkap Peluang Investasi
"Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan, kami percaya literasi keuangan adalah bagian tak terpisahkan dari pengembangan diri karyawan," kata Arman.
Dia mengatakan pemahaman mengenai aset kripto dibutuhkan agar karyawan yang tertarik melakukan trading maupun investasi dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang memadai, bukan sekadar mengikuti tren.
"Kolaborasi dengan PINTU memberikan kesempatan bagi tim kami untuk memahami aset kripto secara komprehensif dan bertanggung jawab," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai dasar-dasar aset kripto, manajemen risiko, serta praktik keamanan untuk mengantisipasi berbagai modus penipuan yang menyasar investor, terutama investor pemula.
Edukasi juga dikemas melalui studi kasus dan sesi tanya jawab interaktif. Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan dasar, tetapi juga diajak memahami bagaimana informasi mengenai aset kripto seharusnya digunakan dalam mengambil keputusan investasi.
PINTU juga memperkenalkan sejumlah fitur dalam platformnya yang diklaim dapat membantu pengguna mengelola aktivitas investasi secara lebih terukur dan disiplin.
Program edukasi tersebut berlangsung ketika jumlah konsumen aset kripto di Indonesia terus bertambah. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dicantumkan dalam materi PINTU, jumlah investor aset kripto mencapai 22,69 juta orang hingga Juni 2026, dengan nilai transaksi Rp28,58 triliun.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap aset kripto. Di sisi lain, semakin besarnya jumlah investor juga membuat kebutuhan terhadap literasi dan perlindungan konsumen menjadi semakin penting.
OJK sendiri telah memperkuat kerangka pengaturan perdagangan aset keuangan digital, termasuk aset kripto. Regulasi tersebut mencakup penyelenggaraan perdagangan, pelaporan, manajemen risiko, serta aspek tata kelola dalam ekosistem aset keuangan digital.
Timothius mengatakan peningkatan literasi menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem aset kripto yang lebih matang.
"Kami percaya trader dan investor yang teredukasi akan menjadi fondasi ekosistem crypto yang lebih matang. Kami berharap inisiatif ini dapat mendorong lahirnya lebih banyak trader dan investor yang memahami peluang dan risiko terkait aset crypto," kata dia.