Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib tragis harus dialami Teuku Markam. Orang kaya asal Aceh ini berupaya membantu negara dengan menyumbang 28 kg emas namun berakhir di penjara.
Emas itu disumbangkan untuk pucuk emas Monumen Nasional (Monas) yang menjadi proyek mercusuar Presiden Soekarno. Besarannya setara dengan Rp 42 miliar di masa kini.
Markam sendiri merupakan pengusaha ternama di Indonesia. Bisnisnya dimulai pada 1957 lewat PT Karkam atau Kulit Aceh Raya Kapten Markam.
Kapten Markam sendiri karena dia sempat bergabung dengan TNI setelah Indonesia merdeka. Dia ikut melawan tentara Belanda kala itu.
Richard Robinson dalam Indonesia: The Rise of Capital (2009) menyebut, PT Karkam bergerak di ekspor karet. Perusahaan ini jadi satu-satunya di Indonesia yang memiliki hak eksklusif ekspor karet dari Sumatera Selatan ke Singapura dan Malaysia.
Markam juga mengantongi lisensi impor Mobil Nissan dan semen dari Jepang. Dari bisnisnya yang berlimpah, asetnya menjadi jutaan dolar begitu juga kekayaannya.
Tak diketahui berapa nominal kekayaannya, namun ini terlihat dari gaya hidup Markam. Misalnya dia terlihat mengadakan pesta mewah di Jakarta hingga mengundang teman-akrabnya Presiden Soekarno ke lantai pesta.
Asetnya juga dilaporkan melimpah. Dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia (1984) mencatat kekayaannya berupa mobil, rumah, tanah, uang tunai Rp 20 miliar dan US$30 juta pada 1966.
Aset-aset itu diambil negara. Ini terjadi karena kedekatannya dengan Presiden Soekarno.
Pemerintahan era Presiden Soeharto menuding Markam terlibat korupsi hingga pemberontakan G30S, namun tuduhan itu terjadi tanpa bukti.
Diapun mendekam dalam penjara selama 9 tahun. Operasional PT Karkam juga diambil alih negara dan diganti menjadi BUMN bernama PT Berdikari.
Dia berupaya untuk kembali ke dunia bisnis setelah keluar dari penjara. Namun nama baik dan reputasinya serta kekayaannya tidak sebesar sebelumnya.
Markam diketahui meninggal pada 25 Januari 1985. Saat itu dia diketahui sakit diabetes dan liver.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]