Implementasi Interprofessional Education Unbrah perkuat kapasitas kader posyandu cegah stunting di Dharmasraya

September 2026 · 4 minute read

Pulau Punjung (ANTARA) - Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang membutuhkan pencegahan secara komprehensif dan berkelanjutan. Kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.

Salah satunya Kader Posyandu di Indonesia memiliki peran penting dalam pencegahan stunting melalui pemantauan pertumbuhan, edukasi kesehatan, deteksi dini masalah gizi, serta pendampingan ibu hamil dan keluarga balita. Karena itu, kapasitas kader perlu terus diperkuat termasuk yang ada di Kabupaten Dharmasraya, Sumbar.

Atas latar belakang tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Baiturrahmah melaksanakan kegiatan “Implementasi Interprofessional Education dalam Penguatan Kapasitas Kader Posyandu untuk Pencegahan Stunting di Kabupaten Dharmasraya”. Tim diketuai Dr. Sevilla Ukhtil Huvaid, SKM, M.Kes., dengan anggota Drs. Eka Trio Effandilus, M.Si., Sri Mindayani, SKM, M.Kes., apt. Afdil Arel, M.Farm., Hendri Devita, SKM, M.Biomed., Vitri Yuli Afni Amran, S.SiT, M.Keb., dan Bdn. Dian Eka Nursyam, S.SiT, M.Keb. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa M. Ronaldo Putra Adisa dan Rima Melati Gultom.

Kegiatan dilaksanakan di Puskesmas Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, Sumbar pada 24 Agustus 2026. Pelaksanaan PkM diikuti sebanyak 51 peserta yang terdiri atas kader Posyandu dan petugas Puskesmas Timpeh. Keterlibatan kedua unsur tersebut sekaligus memperkuat kolaborasi antara kader sebagai pelaksana pelayanan berbasis masyarakat dengan tenaga kesehatan di Puskesmas.

Program PkM menggunakan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA) yang dipadukan dengan Interprofessional Education (IPE). Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga dilibatkan dalam pembelajaran, diskusi, studi kasus, praktik, evaluasi, hingga tindak lanjut kegiatan.

Keunikan kegiatan terletak pada penerapan IPE yang mempertemukan beberapa bidang keilmuan dalam membahas persoalan stunting. Bidang Kesehatan Masyarakat, Kebidanan, Farmasi Klinis, dan Administrasi Rumah Sakit berkolaborasi sesuai kompetensi masing-masing sehingga pencegahan stunting dapat dipahami peserta secara lebih komprehensif.

Dari bidang Kesehatan Masyarakat, peserta memperoleh penguatan mengenai konsep stunting, determinan kesehatan, promosi kesehatan, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sanitasi lingkungan, serta pencegahan penyakit infeksi. Bidang Kebidanan memperkuat pemahaman mengenai 1.000 Hari Pertama Kehidupan, kesehatan ibu hamil dan menyusui, ASI eksklusif, MP-ASI, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita.

Aspek Farmasi Klinis turut menjadi bagian dalam pendekatan interprofesional tersebut. Peserta memperoleh pemahaman mengenai penggunaan tablet tambah darah, suplementasi mikronutrien, penggunaan vitamin dan obat secara rasional, serta penyimpanan obat rumah tangga yang aman. Materi ini memperkuat pemahaman mengenai pentingnya penggunaan obat dan suplemen secara tepat dalam mendukung kesehatan ibu dan anak.

Sementara itu, aspek Administrasi Rumah Sakit diarahkan pada pemahaman mengenai sistem pelayanan kesehatan primer, koordinasi antara Posyandu dan Puskesmas, pencatatan kegiatan Posyandu, serta mekanisme rujukan balita berisiko stunting. Materi lintas bidang tersebut dipadukan melalui pembahasan kasus sehingga peserta dapat melihat pencegahan stunting dari berbagai perspektif keilmuan.

Kegiatan juga memperkuat keterampilan praktis peserta melalui pengukuran antropometri yang meliputi berat badan, panjang atau tinggi badan, dan lingkar lengan atas. Peserta diarahkan memahami interpretasi hasil pengukuran, identifikasi balita berisiko stunting, serta konseling kepada keluarga mengenai gizi, ASI eksklusif, MP-ASI, suplementasi zat besi, dan PHBS.

Untuk mendukung penerapan hasil kegiatan, tim PkM Unbrah menyiapkan teknologi tepat guna berupa modul digital, QR Code materi edukasi, leaflet dan poster, serta lembar cek faktor risiko stunting. Media tersebut dirancang agar dapat dimanfaatkan kembali oleh kader sebagai sarana edukasi dan identifikasi awal dalam kegiatan Posyandu.

Pendampingan juga dirancang melalui grup WhatsApp (WA) sebagai sarana konsultasi, berbagi materi edukasi, penguatan penggunaan media, serta koordinasi dengan bidan desa maupun Puskesmas. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, studi kasus interprofesional, serta penilaian terhadap manfaat dan relevansi kegiatan bagi tugas kader.

Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan kader mengenai stunting dan faktor risikonya, meningkatkan keterampilan pengukuran antropometri dan deteksi dini balita berisiko stunting, serta memperkuat kemampuan kader memberikan edukasi kepada ibu hamil dan keluarga mengenai gizi, ASI eksklusif, MP-ASI, sanitasi, dan penggunaan suplemen secara tepat. Kegiatan juga diarahkan untuk memperkuat koordinasi kader dengan Puskesmas dalam pencatatan, pelaporan, dan mekanisme rujukan.

Melalui keterlibatan 51 kader Posyandu dan petugas Puskesmas Timpeh, penerapan Interprofessional Education diharapkan memperkuat kerja bersama dalam pencegahan stunting di tingkat masyarakat. Kolaborasi lintas keilmuan ini sekaligus menjadi implementasi tridarma Universitas Baiturrahmah dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di Kabupaten Dharmasraya. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini didanai oleh Yayasan Pendidikan Baiturrahmah melalui alokasi anggaran Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Baiturrahmah.*

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Baiturrahmah melaksanakan kegiatan “Implementasi Interprofessional Education dalam Penguatan Kapasitas Kader Posyandu untuk Pencegahan Stunting di Kabupaten Dharmasraya”. (ANTARA/HO-Unbrah)