IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan dinilai berpotensi naik pada perdagangan Rabu (19/8). Analis pun merekomendasikan saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) hingga PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menilai IHSG masih berpotensi naik, terlihat dari pergerakan indeks yang dibuka dengan gap up pada Selasa (18/8), sehingga berhasil menembus level resistance internal 6.422 dan semakin mendekati resistance Fibonacci di level 6.545.
Dalam skenario utama, kenaikan IHSG diperkirakan merupakan fase akhir dari pembentukan wave W. “Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bullish,” tulis Ivan dalam risetnya dikutip Rabu (19/8).
Ia pun memperkirakan level support IHSG berada di 6.267, 6.042 dan 5.887, sementara level resistance di 6.545, 6.700 dan 6.835.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena peningkatan pembelian.
Sedangkan resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar sehingga laju kenaikan harga tertahan.
Untuk perdagangan hari ini, Ivan merekomendasikan sejumlah saham di antaranya:
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan target harga ke Rp 10.400
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target harga ke Rp 3.270
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga ke Rp 6.750
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan target harga ke level 4.290
- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dengan target harga ke Rp 1.180
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta merekomendasikan saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Ia menilai sentimen IHSG mixed cenderung positif. Investor cenderung mencermati pengumuman keputusan BI Rate serta mewaspadai dampak lonjakan harga energi sebelum melakukan akumulasi masif.
Dia menjelaskan, dari global, ketidakpastian hubungan AS-Iran serta risiko terkait Selat Hormuz menyebabkan Brent sempat menembus US$ 92 per barel dan WTI menyentuh US$ 85.
Kenaikan harga minyak dunia memberikan efek terhadap peningkatan tekanan inflasi sekaligus menahan ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed.
Bahkan lonjakan yield Treasury tenor panjang, khususnya yield 30 tahun yang sempat menembus level tertinggi dalam 19 tahun di angka 5,33% turut disebabkan oleh kekhawatiran inflasi jangka panjang.
Dengan demikian, kombinasi higher-for-longer yields dan kenaikan harga energi meningkatkan kembali kekhawatiran inflasi serta menekan ekspektasi pelonggaran moneter The Fed.
Meskipun demikian, di sisi lain memberi dampak positif bagi saham-saham sektor energi dan komoditas, misalnya PGAS, PTBA, ADMR, BUMI, dan sebagainya.