IHSG Dibuka Merah, Investor Cermati Pidato Kenegaraan Prabowo

August 2026 · 4 minute read

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun pada pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka di level 6.290,36 atau turun 11,41 poin setara 0,18% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di 6.301,77.

Pada awal perdagangan, volume transaksi tercatat mencapai sekitar 714,33 juta saham dengan nilai transaksi Rp180,98 miliar. Sementara frekuensi transaksi mencapai sekitar 42,44 ribu kali.

Pergerakan IHSG tersebut terjadi setelah indeks pada perdagangan Kamis (13/8) ditutup melemah 1,13%. Koreksi tersebut juga disertai net sell investor asing sekitar Rp1,39 triliun.

Baca Juga: MSCI Pangkas Eksposur Indonesia, Tapi IHSG Diperkirakan Tetap Aman

Hingga pukul 10.37 WIB atau beberapa saat usai Presiden Prabowo menyampaikan pengantar Nota Keuangan RAPBN 2027, IHSG terpantau masih merah 26,09 poin (0,41%) ke 6.275,67.

Level 6.300 menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan hari ini. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman memperkirakan IHSG masih memiliki peluang untuk berbalik menguat setelah bertahan di sekitar level tersebut.

"IHSG berpotensi rebound hari ini, setelah kemarin kuat bertahan di support kuat 6.300," kata Fanny dalam riset hariannya, Jumat (14/8/2026).

Menurut dia, area support IHSG berada pada 6.250-6.300. Sementara itu, level resistance berada pada kisaran 6.420-6.450.

"IHSG berpotensi rebound hari ini," ujarnya.

Pergerakan IHSG juga berlangsung ketika sejumlah bursa utama global memberikan sentimen yang relatif positif. Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis (13/8/2026) setelah data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) meredakan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Indeks S&P 500 naik 0,65% menjadi 7.798,99, sekaligus mencetak rekor penutupan baru. Nasdaq Composite menguat 0,81% menjadi 26.803,03, sedangkan Dow Jones Industrial Average naik 0,13% menjadi 53.839,99.

Sentimen positif tersebut muncul setelah data Producer Price Index (PPI) AS untuk Juli menunjukkan harga produsen tidak berubah secara bulanan. Data tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed tidak terburu-buru menaikkan suku bunga pada pertemuan September.

Namun, sentimen positif dari Wall Street belum sepenuhnya diteruskan ke pasar saham Indonesia pada awal perdagangan. Investor domestik masih menghadapi kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk pergerakan rupiah serta agenda ekonomi pemerintah yang akan disampaikan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Di pasar valuta asing, rupiah juga bergerak melemah terhadap dolar AS pada awal perdagangan Jumat. Berdasarkan data yang dihimpun pada pagi hari, rupiah berada di level Rp17.865 per USD, melemah 29,3 poin atau sekitar 0,16% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.835,7 per USD.

Pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan investor karena pergerakan nilai tukar dapat memengaruhi persepsi terhadap aset domestik, terutama ketika pasar global masih sensitif terhadap arah kebijakan moneter AS.

Di sisi lain, sentimen eksternal sebenarnya cenderung lebih konstruktif. Data inflasi AS yang relatif terkendali membuat tekanan terhadap pasar keuangan global dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sedikit mereda.

Pergerakan harga minyak juga memberikan tambahan sentimen. Harga minyak mentah turun sekitar 2% pada perdagangan Kamis, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS turut bergerak turun setelah rilis data inflasi produsen.

Pergerakan bursa Asia pada Jumat pagi juga belum menunjukkan arah yang seragam. Indeks Nikkei 225 Jepang tercatat naik 1,43% ke level 69.282,50. Indeks SSE Composite China menguat 0,77% ke level 3.957,16.

Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 0,70% menjadi 25.218,00, sedangkan Straits Times Singapura melemah 0,32% ke level 5.701,90.

Kondisi tersebut menunjukkan investor kawasan masih merespons kombinasi sentimen global dan domestik secara berbeda.

Sebelumnya, pasar saham Korea Selatan menjadi salah satu penguat utama di kawasan setelah KOSPI melonjak 3,56%. Penguatan terutama ditopang saham semikonduktor setelah saham teknologi dan chip di Amerika Serikat mengalami kenaikan.

Bagi pasar domestik, perhatian pada Jumat tidak hanya tertuju pada faktor eksternal. Pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu agenda penting yang berpotensi menjadi perhatian investor.

Pasar akan mencermati arah kebijakan pemerintah, terutama terkait perekonomian, fiskal, investasi, daya beli, serta program pembangunan yang akan menjadi prioritas pemerintah.

Pergerakan IHSG pada awal sesi menunjukkan investor belum langsung memberikan respons positif menjelang agenda tersebut. 

Dengan IHSG berada di sekitar level 6.300, pelaku pasar masih melihat apakah indeks mampu mempertahankan area support atau justru kembali melanjutkan tekanan jual.

Fanny menempatkan area 6.250-6.300 sebagai support IHSG pada perdagangan hari ini. Jika mampu bertahan, indeks memiliki ruang untuk menguji area resistance 6.420-6.450.