Harta Karun Emas 30.000 Ton di Banten Bikin Heboh, Dirampok Asing

September 2026 ยท 3 minute read

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia ternyata menyimpan lembaran sejarah panjang terkait eksploitasi harta karun bernilai fantastis. Jauh sebelum era industri pertambangan moderen, wilayah Cikotok di Banten sempat menjadi pusat perhatian kolonial berkat temuan cadangan bijih emas yang luar biasa masif.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa wilayah yang terletak sekitar 200 kilometer di sebelah selatan Jakarta (Batavia) ini pernah menghasilkan puluhan ribu ton material emas, menjadikannya salah satu tonggak penting dalam peta industri mineral nasional.

Kisah emas Cikotok bermula dari desas-desus yang lama berhembus di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Demi memastikan kebenarannya, pemerintah kolonial lantas menugaskan tim peneliti geologi yang dipimpin oleh W.F.F. Oppenoorth pada 1919.

Berangkat dari Sukabumi, Oppenoorth dan timnya menyusuri lebatnya hutan belantara Pulau Jawa, merintis akses jalan, hingga membuat terowongan eksplorasi demi memetakan sumber daya tersebut. Kerja keras itu berbuah manis. Pada 1928, sebanyak 25 terowongan berhasil dibor menembus perbukitan terjal dan lembah sempit di Cikotok.

Harian Sumatra-bode edisi 2 Maret 1928 mencatat skala proyek masif tersebut: "Sebanyak kurang lebih 25 terowongan kini telah dibangun, hanya sebagian yang memiliki kedalaman tidak lebih dari 135 meter."

Meski pemerintah kolonial menggelontorkan dana fantastis mencapai 80.000 gulden per tahun-angka yang bernilai miliaran rupiah di masa kini-pengeluaran tersebut terbayar lunas. Berdasarkan laporan ilmiah masa itu, potensi cadangan bijih emas yang teridentifikasi di bawah tanah Cikotok menembus angka 30 ribu ton.

Harta Karun Jatuh ke Tangan Penjajah

Temuan sensasional ini praktis memicu kegemparan. Pemerintah kolonial kemudian memberikan hak konsesi eksploitasi kepada perusahaan NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam.

Pengukuran dan pengerukan dilakukan secara besar-besaran. Berdasarkan arsip harian De Indische Courant (25 Juli 1939), rute logistik dan pengangkutan hasil tambang diperluas melalui jalur Rangkasbitung serta Pelabuhan Ratu. Sebuah pabrik pengolahan berkapasitas 20 ton per hari bahkan didirikan, meski kapasitas tersebut tetap kewalahan menampung melimpahnya material tambang yang diangkat para pekerja.

Selama proses eksploitasi, para buruh pribumi kerap menemukan bongkahan bijih dengan kadar tinggi. "Selama pekerjaan, sering ditemukan emas dengan berat beragam. Paling tinggi mencapai 126 gram," tulis De Indische Courant.

Pada 1933, wilayah konsesi tambang ini membentang hingga seluas 400 kilometer persegi. Laporan De Locomotief (29 Maret 1933) menyebutkan bahwa potensi cadangan yang terungkap bahkan melampaui 61.000 ton dengan estimasi nilai mencapai 3,68 miliar gulden.

Kendati aliran kekayaan melimpah ruah dari perut bumi Banten, realitas pahit harus ditelan oleh penduduk pribumi. Janji-janji manis kesejahteraan dari pemerintah kolonial tinggal kenangan; eksploitasi masif tersebut nyaris hanya mempertebal pundi-pundi keuangan kolonial belaka.

Era Kemerdekaan dan Akhir Riwayat Cikotok

Selepas proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, lembaran baru dibuka. Pengelolaan tambang emas Cikotok diambil alih oleh NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan, sebelum akhirnya diserahkan estafet pengelolaannya kepada PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada 1974.

Setelah mengabdi selama puluhan tahun sebagai salah satu tulang punggung sejarah industri mineral Indonesia, denyut nadi Tambang Emas Cikotok akhirnya resmi berhenti pada 2005 setelah cadangan emasnya dinyatakan habis terkuras.

Kendati era Cikotok telah purna, tongkat estafet kejayaan pertambangan emas nusantara kini diteruskan oleh raksasa-raksasa tambang modern lain di tanah air, seperti PT Freeport Indonesia di Papua.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]