MPLS: Hari pertama sekolah – Dari ancaman bom sampai gerakan ayah antar anak - BBC News Indonesia

July 2026 · 5 minute read

Seorang guru mengajar satu siswa baru saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Negeri Cepokosawit II, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (13/07).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Seorang guru mengajar satu siswa baru saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Negeri Cepokosawit II, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (13/07). Sekolah tersebut hanya menerima satu siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027 sehingga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali berencana mengkaji penggabungan sejumlah sekolah yang kekurangan murid.

Telah diterbitkan sejam yang lalu

Waktu membaca: 6 menit

Mulai Senin (13/07), para pelajar di seluruh Indonesia menemui teman-teman barunya di kelas atau bahkan sekolah yang baru pada tahun ajaran 2026/2027.

Periode itu disebut dengan istilah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

MPLS pada Senin (13/07) diwarnai dengan berbagai kejadian unik.

Di Jakarta, MPLS di SDN Serengseng Sawah 15 Pagi, Jakarta Selatan, urung dilaksanakan akibat teror ancaman bom.

Di Solo, Jawa Tengah, para murid baru disambut oleh guru-guru yang memakai kostum unik.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, sejumlah bapak mengikuti gerakan ayah mengantar anak ke sekolah.

Kemudian di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, murid-murid mengikuti MPLS di gedung sekolah yang memprihatinkan.

MPLS SDN 15 Srengseng Sawah ditiadakan

 Personel Brimob menyisir lokasi tersebut untuk memastikan keamanan lingkungan sekolah usai adanya ancaman dugaan teror bom yang diterima pihak sekolah melalui aplikasi percakapan.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fauzan

Keterangan gambar, Personel Gegana Brimob Polda Metro Jaya berjaga saat proses penyisiran setelah adanya ancaman dugaan teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta, Senin (13/07).

Di Jakarta, tepatnya di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jakarta Selatan, MPLS yang menjadi momentum penting dan ceria bagi siswa, justru diwarnai dengan ancaman bom.

Ancaman ini diterima melalui jalur pribadi kepada guru dan petugas tata usaha lewat aplikasi Whatsapp, yang dilaporkan pukul 07.30 WIB.

Tim Gegana dan Densus 88 datang menyisir lokasi. Hingga petang, setelah memeriksa segala sudut sekolah, polisi tidak menemukan bom yang dimaksud.

Personel Brimob menyisir lokasi tersebut untuk memastikan keamanan lingkungan sekolah usai adanya ancaman dugaan teror bom yang diterima pihak sekolah melalui aplikasi percakapan.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fauzan

Keterangan gambar, Personel Gegana Brimob Polda Metro Jaya berjaga saat proses penyisiran setelah adanya ancaman dugaan teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta, Senin (13/7/2026).

Namun begitu, polisi telah menangkap seorang pria berinisial MY, 34 tahun, di hari yang sama. MY diduga mengirim pesan ancaman bom.

"Masih dalam pendalaman penyidik terkait tujuan dan motif dari yang bersangkutan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, Senin (13/07).

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat menyesalkan insiden ini.

"Kami mengutuk keras pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ini," kata Atip seperti dikutip Antara, Senin (13/07).

Gerakan ayah mengantar anak ke sekolah

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKBN menyelenggarakan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) sebagai upaya mendorong transformasi peran ayah agar tidak hanya sebagai pencari nafkah tetapi hadir secara emosional serta aktif dalam pengasuhan dan berperan dalam tumbuh kembang anak.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha

Keterangan gambar, Seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah pada hari pertama di SLB Negeri 2 Jakarta, Senin (13/07).

Orang tua murid di Makassar, Sulawesi Selatan menjalankan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah.

Gerakan ini dianggap penting sebagai upaya mengurangi fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak.

Baca juga:

Pemerintah menggelar Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak, memperkuat komunikasi antara orang tua dan sekolah, serta membangun pola pengasuhan kolaboratif antara ayah dan ibu guna mendukung tumbuh kembang anak.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Hasrul Said

Keterangan gambar, Dua orang tua menggandeng anaknya menuju ruang kelas pada hari pertama tahun ajaran baru di SD Negeri Sudirman, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (13/07).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pemerintah yang mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Jessica Wuysang

Keterangan gambar, Seorang ayah memasangkan tanda pengenal kepada anaknya sebelum mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada hari pertama tahun ajaran 2026/2027 di SMPN 1 Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (13/07).

Gerakan ini dikampanyekan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sejak 2025. Menurut data BKKBN, sekitar 20,9% anak remaja mengalami kondisi kehilangan figur ayah.

Selain di Makassar, Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah juga berlangsung di Pontianak, Kalimantan Barat; Malang, Jawa Timur; Semarang, Jawa Tengah; hingga Jakarta.

Kostum unik guru

Pihak sekolah menghadirkan kostum bertema tersebut untuk mengemas kegiatan MPLS dengan konsep yang ramah anak, edukatif, dan menyenangkan bagi para siswa.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Maulana Surya

Keterangan gambar, Seorang guru memakai kostum unik bertema serial novel Harry Potter berbincang dengan siswa baru yang mengikuti pembukaan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di SD Negeri Cemara 2 Solo, Jawa Tengah, Senin (13/07).

Untuk menyambut siswa baru, khususnya sekolah dasar, banyak guru di sekolah menyambut dengan kostum unik.

Misalnya, di SDN Cemara 02 Solo, Jawa Tengah. Guru setempat mengenakan kostum ala figur di Harry Potter.

 Sejumlah guru dan siswa mengenakan kostum bertema dunia laut pada hari pertama tahun ajaran baru untuk mengenalkan kekayaan maritim Indonesia kepada para siswa.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Keterangan gambar, Guru menyambut kedatangan siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kaliasin I, Surabaya, Jawa Timur, Senin (13/07).

Di SDN Kaliasin, Surabaya, Jawa Timur, para pengajar juga tak kalah kreatif. Mereka menyambut kehadiran siswa baru dengan kostum bertema dunia laut.

Mengenal sekolah sambil bermain

Sebanyak 72 peserta didik baru mengikuti MPLS selama lima hari untuk mengenal lingkungan sekolah, berinteraksi dengan guru dan tenaga kependidikan, serta memahami metode pembelajaran dan tata tertib yang berlaku.

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Andri Saputra

Keterangan gambar, Sejumlah siswa baru mengikuti tur keliling lingkungan sekolah pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di SD Negeri 1 Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (13/07).

Dalam masa pengenalan sekolah, para guru juga mengundang siswa baru mengenalkan lingkungan sambil bermain.

Sebanyak 72 siswa baru di SDN 01 Kota Ternate, Maluku Utara, tampak peserta didik baru berjalan melingkar bak ular untuk berkenalan dengan lingkungan sekolah.

Sejumlah siswa baru mengikuti tur keliling lingkungan sekolah pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di SD Negeri 1 Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (13/07).

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Andri Saputra

Keterangan gambar, Sejumlah siswa baru mengikuti tur keliling lingkungan sekolah pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di SD Negeri 1 Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (13/07).

Peserta didik baru juga menggunakan beragam kostum yang mereka sukai menyambut tahun ajaran baru.

Di Aceh, tepatnya SDN 14 dan SDN 25 Meulaboh, peserta didik juga diajak saling berinteraksi satu sama lain.

Hari pertama di sekolah rusak

Tak semua siswa baru di sekolah dasar yang bisa menikmati fasilitas yang mumpuni, disambut dengan suka cita.

Beberapa sekolah bahkan menyambut mereka dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan.

Sebanyak tujuh dari sembilan peserta didik baru yang terdaftar mengikuti MPLS untuk mengenal lingkungan sekolah, berinteraksi dengan guru dan teman sebaya, serta memahami budaya sekolah.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman

Keterangan gambar, Sejumlah siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Negeri 01 Petuk Katimpun, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (13/07/2026).

Sebanyak tujuh dari sembilan peserta didik baru yang terdaftar mengikuti MPLS untuk mengenal lingkungan sekolah, berinteraksi dengan guru dan teman sebaya, serta memahami budaya sekolah.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman

Keterangan gambar, Seorang guru mendampingi siswa memperkenalkan lingkungan sekolah saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Negeri 01 Petuk Katimpun, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (13/7/2026).

Berita terkait