
Sumber gambar, ANTARA FOTO
Telah diterbitkan sejam yang lalu
Waktu membaca: 6 menit
Mulai Senin (13/07), para pelajar di seluruh Indonesia menemui teman-teman barunya di kelas atau bahkan sekolah yang baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Periode itu disebut dengan istilah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
MPLS pada Senin (13/07) diwarnai dengan berbagai kejadian unik.
Di Jakarta, MPLS di SDN Serengseng Sawah 15 Pagi, Jakarta Selatan, urung dilaksanakan akibat teror ancaman bom.
Di Solo, Jawa Tengah, para murid baru disambut oleh guru-guru yang memakai kostum unik.
Di Makassar, Sulawesi Selatan, sejumlah bapak mengikuti gerakan ayah mengantar anak ke sekolah.
Kemudian di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, murid-murid mengikuti MPLS di gedung sekolah yang memprihatinkan.
MPLS SDN 15 Srengseng Sawah ditiadakan

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fauzan
Di Jakarta, tepatnya di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jakarta Selatan, MPLS yang menjadi momentum penting dan ceria bagi siswa, justru diwarnai dengan ancaman bom.
Ancaman ini diterima melalui jalur pribadi kepada guru dan petugas tata usaha lewat aplikasi Whatsapp, yang dilaporkan pukul 07.30 WIB.
Tim Gegana dan Densus 88 datang menyisir lokasi. Hingga petang, setelah memeriksa segala sudut sekolah, polisi tidak menemukan bom yang dimaksud.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fauzan
Namun begitu, polisi telah menangkap seorang pria berinisial MY, 34 tahun, di hari yang sama. MY diduga mengirim pesan ancaman bom.
"Masih dalam pendalaman penyidik terkait tujuan dan motif dari yang bersangkutan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, Senin (13/07).
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat menyesalkan insiden ini.
"Kami mengutuk keras pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ini," kata Atip seperti dikutip Antara, Senin (13/07).
Gerakan ayah mengantar anak ke sekolah

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha
Orang tua murid di Makassar, Sulawesi Selatan menjalankan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah.
Gerakan ini dianggap penting sebagai upaya mengurangi fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak.
Baca juga:
- Orang tua lebih memilih sekolah dasar swasta, pengamat anggap ‘peringatan’ untuk sekolah negeri
- Sekolah Rakyat hampir setahun berjalan, mengapa muncul seruan agar dibenahi?

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Hasrul Said

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Gerakan ini dikampanyekan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sejak 2025. Menurut data BKKBN, sekitar 20,9% anak remaja mengalami kondisi kehilangan figur ayah.
Selain di Makassar, Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah juga berlangsung di Pontianak, Kalimantan Barat; Malang, Jawa Timur; Semarang, Jawa Tengah; hingga Jakarta.
Kostum unik guru

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Maulana Surya
Untuk menyambut siswa baru, khususnya sekolah dasar, banyak guru di sekolah menyambut dengan kostum unik.
Misalnya, di SDN Cemara 02 Solo, Jawa Tengah. Guru setempat mengenakan kostum ala figur di Harry Potter.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Di SDN Kaliasin, Surabaya, Jawa Timur, para pengajar juga tak kalah kreatif. Mereka menyambut kehadiran siswa baru dengan kostum bertema dunia laut.
Mengenal sekolah sambil bermain

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Andri Saputra
Dalam masa pengenalan sekolah, para guru juga mengundang siswa baru mengenalkan lingkungan sambil bermain.
Sebanyak 72 siswa baru di SDN 01 Kota Ternate, Maluku Utara, tampak peserta didik baru berjalan melingkar bak ular untuk berkenalan dengan lingkungan sekolah.

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Andri Saputra
Peserta didik baru juga menggunakan beragam kostum yang mereka sukai menyambut tahun ajaran baru.
Di Aceh, tepatnya SDN 14 dan SDN 25 Meulaboh, peserta didik juga diajak saling berinteraksi satu sama lain.
Hari pertama di sekolah rusak
Tak semua siswa baru di sekolah dasar yang bisa menikmati fasilitas yang mumpuni, disambut dengan suka cita.
Beberapa sekolah bahkan menyambut mereka dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman


