Harga Meroket Tapi Gaji Mandek, Ini Pengeluaran yang Perlu Dipangkas?

September 2026 ยท 3 minute read

Jakarta, CNN Indonesia --

Masyarakat saat ini menghadapi tantangan ekonomi ganda akibat lonjakan harga bahan kebutuhan pokok yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan atau gaji yang signifikan, bahkan mandek.

Kenaikan harga dapat ditemukan di sejumlah komoditas pangan yang terus merangkak naik dalam sebulan terakhir.

Contohnya adalah beras yang menurut data SP2KP Kemendag rata-rata nasional harga beras premium naik dari Rp15.546 per kg menjadi Rp15.621 per kg. Lalu, ada juga daging ayam ras melonjak dari Rp38.408 per kg menjadi Rp40.978 per kg.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, laporan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026 mencatat rata-rata upah buruh hanya berada di angka Rp3,39 juta per bulan. Angka ini hanya naik 3,08 persen dibandingkan periode Februari 2026.

Agar tidak boncos di tengah impitan harga dan stagnasi gaji, perencana keuangan merumuskan sejumlah langkah yang dapat diterapkan.

1. Pangkas kebutuhan gaya hidup dan belanja impulsif

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menyarankan masyarakat segera memangkas pengeluaran yang bersifat kesenangan atau kemewahan (luxurious), terutama yang tidak mendesak.

"Contohnya adalah jajan makan dan minum kekinian, travelling, atau membeli gadget baru hanya karena FOMO ataupun mengikuti tren," ujar Andy kepada CNNIndonesia.com.

Melengkapi Andy, Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy menyarankan agar masyarakat menahan kebiasaan belanja impulsif akibat tergiur promo sesaat.

Dandy juga menyarankan agar adanya penghematan dari biaya layanan berlangganan (subscription) yang jarang dipakai, mengurangi jatah nongkrong dari sepekan sekali menjadi dua pekan atau sebulan sekali, hingga menunda rencana liburan.

Untuk kebutuhan sehari-hari, ia menyebut pilihan transportasi untuk bermobilitas bisa dievalusi dengan mencari opsi terjangkau seperti naik transportasi umum bila memungkinkan. Lalu, opsi masak sendiri juga bisa diambil agar lebih hemat.

"Kalau masih ada cicilan bisa dipertimbangkan untuk ajukan restrukturisasi agar tidak terlalu berat," ujarnya.

2. Tentukan skala prioritas atau persentase dalam alokasi anggaran

Jika penghasilan sangat pas-pasan, Andy merekomendasikan pembagian proporsi pengeluaran berdasarkan skala prioritas.

Prioritas pertama harus dialokasikan untuk pengeluaran wajib seperti biaya sekolah anak, listrik, dan cicilan utang seperti KPR, kendaraan bermotor, atau utang konsumtif lainnya.

Prioritas kedua untuk pengeluaran penting yang jumlahnya masih bisa diatur seperti uang makan sehari-hari dan ongkos transportasi kerja. Prioritas ketiga adalah pengeluaran yang bersifat kesenangan dan kemewahan.

"Contoh jajan makanan dan minuman, traveling, nonton bioskop, langganan berbagai aplikasi, dan lain-lain," ujar Andy.

Cara berbeda datang dari Dandy. Ia mengatakan masyarakat bisa menggunakan panduan ideal persentase seperti 50 persen kebutuhan rutin, 30 persen keinginan, dan 20 persen tabungan, atau rasio 40-30-20-10.

Namun, persentase tersebut bersifat fleksibel, tidak harus memiliki angka yang sama.

"Semua bagian bisa saja dihemat, tinggal dipertimbangkan dengan situasi, kondisi, serta prioritas. Namun, saya pribadi akan menghemat lifestyle saya," ujar Dandy.

3. Tunda investasi, prioritaskan dana darurat

Terkait alokasi investasi di tengah kondisi keuangan yang mepet, Andy menilai investasi idealnya baru dilakukan jika masih ada sisa dana setelah seluruh kebutuhan pokok terpenuhi.

Bila kebutuhan yang penting masih ada yang belum dapat terpenuhi, sebaiknya ditunda dulu investasinya.

"Karena bila kita berinvestasi, uang tersebut akan 'diparkir' selama beberapa waktu, sementara kita harus bisa bertahan," ujar Andy.

Dandy sepakat keputusan investasi bisa ditunda jika ruang kondisi keuangan sudah terlalu ketat. Pastikan dana darurat sudah terisi dulu. Namun, ia menilai investasi sebaiknya tetap dilanjutkan jika masih memungkinkan dengan cara menurunkan porsinya.

"Sebisa mungkin selama masih mampu, tetap lakukan investasi karena untuk jangka panjang mencapai financial freedomm" ujar Dandy.

[Gambas:Youtube]

(pta)