AKURAT.CO Hamas menuduh Israel telah mengubah gencatan senjata di Jalur Gaza menjadi “perang yang terus berlanjut dalam berbagai bentuk”. Pasalnya, serangkaian serangan terbaru Israel menewaskan sedikitnya lima warga Palestina pada Senin pagi (31/8/2026).
Dalam pernyataan resminya, kelompok perlawanan Palestina itu menyebut eskalasi militer yang dilakukan pemerintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bukan lagi pelanggaran sporadis terhadap kesepakatan damai, melainkan penolakan nyata terhadap perjanjian gencatan senjata.
“Eskalasi sistematis yang dilakukan pemerintah penjahat perang Benjamin Netanyahu di Gaza bukan lagi sekadar pelanggaran yang terpisah-pisah, tetapi perang yang terus berlangsung dalam berbagai bentuk dan penyangkalan terhadap perjanjian gencatan senjata,” demikian pernyataan Hamas.
Hamas mengatakan militer Israel meningkatkan operasi militernya di berbagai wilayah Gaza pada Senin pagi. Selain menewaskan sedikitnya lima orang, serangan tersebut juga menyebabkan sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka.
Kelompok itu menuding pasukan Israel melakukan pembongkaran rumah-rumah di Gaza selatan, melepaskan tembakan ke arah nelayan di lepas pantai Kota Gaza, serta melancarkan serangan langsung terhadap warga sipil di berbagai lokasi di wilayah kantong Palestina tersebut.
Hamas Desak Mediator Internasional Bertindak
Hamas kembali mendesak para mediator regional dan internasional, termasuk negara-negara penjamin gencatan senjata, untuk segera mengambil langkah konkret menghentikan agresi Israel.
“Kami menyerukan para mediator dan penjamin perjanjian gencatan senjata agar menjalankan tanggung jawab mereka, menekan pemerintah pendudukan untuk menghentikan agresinya, dan memaksanya mematuhi kesepakatan yang ditandatangani di bawah naungan internasional,” tulis Hamas.
Seruan itu muncul meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya secara terbuka menyatakan Israel seharusnya menghentikan pemboman di Jalur Gaza dalam sebuah wawancara.
Korban Gencatan Senjata Terus Bertambah
Menurut data yang disampaikan Hamas, sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, dugaan pelanggaran yang dilakukan Israel telah menyebabkan 1.320 warga Palestina tewas dan 4.385 lainnya terluka. Tim penyelamat juga masih terus mengevakuasi ratusan jenazah yang tertimbun reruntuhan bangunan.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza menyebut total korban sejak perang pecah pada Oktober 2023 telah mencapai sedikitnya 73.454 orang tewas dan 174.486 luka-luka, dengan mayoritas korban merupakan perempuan dan anak-anak.
Sumber:TRTWorld