Gubernur Lampung sebut KDKMP jadi agregator penyerap komoditi di desa

September 2026 · 3 minute read

Bandarlampung (ANTARA) - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan bahwa Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di wilayahnya dapat berperan sebagai agregator penyerap komoditi hasil panen petani di tingkat desa.

"Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen dalam membenahi tata niaga komoditas salah satunya beras dari hulu ke hilir," ujar Rahmat Mirzani Djausal di Bandarlampung, Jumat.

Ia mengatakan langkah strategis tersebut diwujudkan dengan mendorong integrasi kelembagaan antara Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi), BUMDes, serta sektor perbankan.

"Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih memiliki peran strategis dalam memperpendek rantai pasok, terutama komoditas pangan seperti beras," katanya.

Dia pun menginstruksikan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih untuk bertindak sebagai simpul agregator penyerap hasil panen petani di tingkat desa, guna memotong rantai distribusi yang selama ini mencapai tujuh hingga delapan tingkatan pedagang perantara.

"Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih ini instrumen yang tepat. Manajernya sudah siap, pengurus sudah siap. Sekarang bagaimana integrasinya dengan Perpadi dan perbankan. Perpadi yang punya penggilingan, dan koperasi yang menyerap di desa," ujar dia.

Menurut dia, untuk memastikan efektivitas penyerapan di lapangan, kecepatan likuiditas perbankan juga penting agar koperasi memiliki modal kerja yang memadai guna melakukan pembayaran tunai kepada para petani.

"Sektor pertanian ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian Lampung, dengan hampir 70 persen masyarakat bergerak di sektor tersebut," katanya menambahkan.

Lebih lanjut ia mengatakan dengan luasan lahan sekitar 250 ribu hektare, Lampung mampu memproduksi sekitar 3,2 juta ton gabah kering giling per tahun.

Namun, produksi yang besar belum sepenuhnya menjamin stabilitas harga. Salah satu persoalannya adalah panjangnya rantai distribusi dari petani hingga konsumen yang dapat disederhanakan melalui peran Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih.

"Beras, gabah di desa-desa, ada pedagang eceran, pengepul, agen, agen pengumpul, baru masuk ke penggilingan, kemudian menjadi beras dan masuk ke pedagang hingga konsumen. Ada tujuh atau delapan rantai dan harus disederhanakan," ujar dia.

Ia mengatakan panjangnya distribusi dan biaya transportasi berpotensi meningkatkan harga beras oleh karena itu pemerintah mendorong Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih dapat menjadi agregator penyerap komoditi hasil panen.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi, jumlah Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih yang telah berbadan hukum secara nasional ada sebanyak 83.379 unit, sedangkan di Lampung ada 2.651 unit.

Kemudian, Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih yang dalam tahap pembangunan untuk yang telah memiliki lahan terdaftar secara nasional berjumlah 38.534 unit, sedangkan di Lampung ada 1.535 unit.

Serta untuk Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih yang telah melaksanakan pembangunan 100 persen secara nasional berjumlah 23.054 unit, dan di Lampung ada 1.015 unit.

Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.